13 Feb 2017

Hingga Suatu Pagi, Ia Berhenti Hidup: Bag 2

16:15 0 Comments
sumber gambar disini

Di bulan Juni, aku patah hati.

Perempuan yang pergi itu meninggalkan lubang besar yang tak tertanggulangi, hingga aku berpikir bahwa selamanya aku tak akan jatuh cinta lagi. Lalu di akhir September di tahun yang sama, aku bertemu Allina.

Saat itu, ia adalah gadis yang paling berbahagia yang pernah kutemui. Senyumannya, caranya tertawa, keindahan yang timbul saat matanya berbinar bahagia, menerbitkan kehangatan yang kukira telah padam dalam hatiku. Tak ingin kehilangan dirinya, aku memutuskan untuk melamar Allina pada ayah dan ibunya satu bulan kemudian.

9 Feb 2017

Hingga Suatu Pagi, Ia Berhenti Hidup: Bag 1

11:32 0 Comments
sumber gambar disini

Dalam kelelahan, aku kerap berpikir bahwa kekosongan dan kesendirian liang lahat merupakan tempat yang lebih baik dari rumah dimana aku tinggal.

Kau mungkin heran, atau menganggapku manusia paling tak tahu diri atau tak tahu untung, saat kau melihat rumah yang kami miliki, bayi berusia 8 bulan yang tengah lucu-lucunya, dan suamiku yang tampan—Ardhi. Kami terlihat begitu berkecukupan, begitu lengkap, begitu bahagia… dari luar.

Sementara dari dalam, aku harus bertahan menghadapi neraka-ku yang tak kasat mata.


31 Des 2016

Bagimu yang Telah Pergi, Dari Kami yang Masih Mengantri

15:58 0 Comments
Kini, tepat satu tahun. 

Maaf karena begitu lama Bube baru mampu menulis panjang tentangmu. Bukan karena tak ingin kesedihan itu kembali menggigit, bukan, hanya saja kerinduan yang datang nanti akan sangat sulit untuk diusir pergi.

Karena setiap menutup mata, tanpa cela masih bisa terbayang senyum nakalmu, suara serakmu saat berkata "Eeeh, Bube. Udah datang?". Masih membekas di pipi rasa hangat gembil pipimu, rasa basah saat kau iseng memberi ciuman penuh iler. Dalam memori HP ini, masih penuh berisi foto selfie denganmu, yang selalu senang melendot saat Bubemu ini sudah bersiap memegang HP. Masih terbayang berat hangat badanmu di pangkuan, saat kau melonjak setiap kali melihat truck lewat kala Abimu berkendara.

"Bube, truck!"

"Warnanya apa?"
"Ijok!"
"Bukaaan, itu warnanya hi...? Hitaaam!"

12 Jul 2016

Perempuan Ini dan Gerombolan Lebah Pagi Hari

18:30 0 Comments
sumber gambar disini


Setiap pagi, perempuan ini berangkat bersama segerombolan lebah.

Setiap pagi pula, ia mendengar harmoni dengungan dan geraman dari setiap lebah. Nyanyian, yang bagi sebagian orang terdengar seperti hiruk pikuk jalan raya yang menyebalkan. 

Namun bagi perempuan ini, dengungan itu terasa menenangkan, memberinya keyakinan bahwa seperti apapun masalah yang ia miliki di belakang, atau yang akan ia temui ke depannya, kehidupan akan selalu berjalan. Memberinya kesadaran, bahwa ia hanyalah seorang lebah diantara milyaran lebah lainnya, yang hidup dan menjalani kehidupannya dengan penuh perjuangan. 

5 Jul 2015

Penjara Tak Seseram Itu

12:48 11 Comments
Saya saat penelitian di Lapas Klas I Tangerang. Pakai jilbap biar nyamaaaan.
Beberapa hari yang lalu saya dan beberapa temen cewek SMA reuni sambil buka bareng. Saat saling bertukar cerita tentang progress kehidupan masing-masing, salah seorang teman bertanya:

“Lo sering ke penjara gitu-gitu ya ci? Kok berani? Serem nggak sih?”

Dari pertanyaan ini saya jadi banyak berpikir setelahnya, selama kuliah di kriminologi, saya memang telah banyak mengunjungi dan meneliti di berbagai Lapas, baik dalam rangka kuliah atau pekerjaan. Dan saat ditanya apakah Lapas-Lapas itu seram, jawaban saya adalah "ah, nggak seseram itu". Apalagi Lapas Wanita, yang akan saya bahas di artikel ini (karena lebih asyik. Mungkin next time di artikel lain saya akan membahas tentang Lapas Pria, tapi memang lebih serem sih).

21 Jun 2015

Ya, Saya Dibohongi. Lalu?

03:36 3 Comments
sumber disini

Pada dasarnya, saya nggak yakin bahwa ada manusia selain Rasulullah SAW yang 100% dan setiap waktu jujur. Setiap manusia pastilah pernah berbohong, kecil atau besar, untuk kebaikan maupun dengan alasan yang begitu egois seperti untuk menyelamatkan diri sendiri. Intinya, kebohongan bukanlah hal baru maupun asing bagi humanitas.

Saya adalah orang yang sangat membenci kebohongan, terutama karena sebagian besar waktu, saya bisa mendeteksi dan melihat kebohongan dengan jelas, sejelas jidat orang tersebut. Dulu, saya akan mutlak membenci dan marah jika dibohongi, namun seiring dengan semakin bertambahnya umur dan pemahaman mengenai semesta, kini saya tahu bahwa banyak opsi yang bisa saya ambil atau lakukan jika saya dibohongi.

Pertama, saya akan bertanya pada diri saya sendiri;

16 Des 2014

Sebelum Senja Berlalu

16:17 3 Comments

sumber disini
 Jingga, mungkin nanti setelah senja menyapa, kamu akan mengingat semuanya.
Kuharap batasnya adalah lupa. Bukan ketidaktahuan yang dipicu dan diolesi dengan ketidakperdulian.
Karena andai ini tentang sang lupa, maka aku masih mampu berjumawa bahwa semuanya akan kembali seperti sedia kala. Namun jika memang kita bicara tentang ringkihnya keperdulian, harus kuakui dengan berat hati bahwa diantara berbagai hal yang bisa kau tawarkan, kau justru memilih cobaan.
Dan Jingga, berdoalah agar harapanku seperti waktu.

17 Nov 2014

Rumah di Tengah Perang

02:51 3 Comments


 
Foto diatas adalah tragedi Simpang KKA yang memakan banyak korban jiwa. Sumber disini.


“Suci, kamu orang Aceh ya? Kok sudah lama sekali nggak pulang? Jangan begitu dong, setidaknya setiap kali ada kesempatan, kamu pulang.”

Kata seorang bapak di kantor saya sore itu.

Kalimat yang sebenarnya biasa saja, namun membuat saya terdiam.

Karena pertanyaannya kemudian, pulang kemana?

Ingatan saya melayang. Jika dipikir-pikir sudah bertahun-tahun saya tidak pernah melihat bangunan yang saya sebut rumah itu. Ah, tapi entah juga bangunan itu masih bisa disebut rumah saya atau bukan, karena kabar terakhir dari salah seorang teman di kompleks perumahan yang sama, rumah saya di Kompleks Kertas Kraft Aceh (KKA) di Nissam, Aceh Utara itu kini telah hancur dijarah. Entah juga kepemilikannya kini atas nama siapa, karena rumah dinas itu ditinggal begitu saja saat kami ‘kabur’ darisana.

14 Nov 2014

Manusia, Ujian, dan Perbaikan

02:34 2 Comments


sumber disini


  Terkadang saat kita diuji, diberi permasalahan, atau diberi rintangan cobaan, kita lebih memilih untuk berpikir “mengapa ini terjadi pada saya?”

Padahal terkadang Allah menurunkan suatu cobaan dan kesulitan dengan porsi yang sudah ditakarNya agar setelah lulus nanti, kita jadi manusia yang lebih baik. Allah toh bukan Kementerian Pendidikan yang bisa salah mengirimkan soal ujian anak SMA pada anak SD. Dia tak akan pernah keliru dan salah, karenanya ujian itupun pasti dirancang sedemikian rupa bagi kita.

Akhir-akhir ini saat diuji atau menemui masalah, saya banyak sekali berpikir. Semakin banyak masalah, semakin kencang ibadah. Sungguh benar, ibadah itu bukan untuk Tuhan, tapi manusia yang membutuhkannya. Setiap kali merasa hancur, lelah, atau putus asa, cukup dengan mengangkat tangan dan plung, saya lega. Padahal uneg-uneg belum keluar, tapi kehadiran Allah itu begitu terasa.

27 Jul 2014

Resep Salmon Rawit Belimbing

18:00 0 Comments

Alkisah tadi saya mau beli daging di Giant, namun setelah mutar-mutar untuk membandingkan harga dan kualitas, apadaya hati ini  justru jatuh cinta pada potongan ikan salmon segar di konter seberang. Lagipula bayangkan aja makan nasi panas dengan ikan super pedas. Nyamm! Terbit air liur saya saat membayangkannya. Hihihi.

Terus, saya kira salmon murah. Ternyata oh ternyata 3 piece begini harganya 35 ribu.


Daisypath Anniversary tickers