Bagimu yang Telah Pergi, Dari Kami yang Masih Mengantri

Kini, tepat satu tahun. 

Maaf karena begitu lama Bube baru mampu menulis panjang tentangmu. Bukan karena tak ingin kesedihan itu kembali menggigit, bukan, hanya saja kerinduan yang datang nanti akan sangat sulit untuk diusir pergi.

Karena setiap menutup mata, tanpa cela masih bisa terbayang senyum nakalmu, suara serakmu saat berkata "Eeeh, Bube. Udah datang?". Masih membekas di pipi rasa hangat gembil pipimu, rasa basah saat kau iseng memberi ciuman penuh iler. Dalam memori HP ini, masih penuh berisi foto selfie denganmu, yang selalu senang melendot saat Bubemu ini sudah bersiap memegang HP. Masih terbayang berat hangat badanmu di pangkuan, saat kau melonjak setiap kali melihat truck lewat kala Abimu berkendara.

"Bube, truck!"

"Warnanya apa?"
"Ijok!"
"Bukaaan, itu warnanya hi...? Hitaaam!"

Perempuan Ini dan Gerombolan Lebah Pagi Hari

sumber gambar disini


Setiap pagi, perempuan ini berangkat bersama segerombolan lebah.

Setiap pagi pula, ia mendengar harmoni dengungan dan geraman dari setiap lebah. Nyanyian, yang bagi sebagian orang terdengar seperti hiruk pikuk jalan raya yang menyebalkan. 

Namun bagi perempuan ini, dengungan itu terasa menenangkan, memberinya keyakinan bahwa seperti apapun masalah yang ia miliki di belakang, atau yang akan ia temui ke depannya, kehidupan akan selalu berjalan. Memberinya kesadaran, bahwa ia hanyalah seorang lebah diantara milyaran lebah lainnya, yang hidup dan menjalani kehidupannya dengan penuh perjuangan. 
Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers