Peralatan 'Perang' MPASI #BabyBro


#BabyBro udah enam bulaaan! Saatnya MPASI! Wuhuuu!

Seperti biasa, mamakbro super semangat menyambut moment ini. Tiap hari kerjaannya mantengin review dan artikel supaya tahu kira-kira apa yang dibutuhkan dalam menyiapkan MPASI. Tak lupa, mamak pun nyari tahu informasi sana sini agar tahu anjuran dan peraturan dalam menyiapkan MPASI.

Nah, dari hasil wara-wiri itulah, mamak akhirnya memutuskan untuk membeli beberapa peralatan MPASI ini. Mungkin ini juga bisa berguna untuk buibu lain yang lagi galau butuh apa aja buat MPASI si dedek. Tentu ini tidak perlu dituruti semua, buibu cukup mengambil yang sekiranya dibutuhkan saja.

Berikut daftarnya:

Carpal Tunnel Syndrome pada Ibu Hamil dan Menyusui

sumber gambar: disini

Hai para buibu maupun bebeb-bebeb calon-ibu. Mungkin kamu nyasar di artikel ini karena tangan kamu terasa nyeri, kesemutan, kaku saat hamil maupun setelah melahirkan dan kamu pingin tahu kenapa. Mungkin juga kamu sekedar penasaran dengan carpal tunnel syndrome pada ibu hamil dan melahirkan, tapapa. 

Dalam artikel ini, saya ingin sedikit bercerita mengenai pengalaman saya dengan CTS saat hamil dan pasca melahirkan, sekaligus menyajikan informasi penjelasan ala kadarnya, plus pelatihan dan penanganan yang saya kumpulkan dari berbagai jurnal dan dokumen kesehatan. Semoga berguna yaa.

Hingga Suatu Pagi, Ia Berhenti Hidup: Bag 2

sumber gambar disini

Di bulan Juni, aku patah hati.

Perempuan yang pergi itu meninggalkan lubang besar yang tak tertanggulangi, hingga aku berpikir bahwa selamanya aku tak akan jatuh cinta lagi. Lalu di akhir September di tahun yang sama, aku bertemu Allina.

Saat itu, ia adalah gadis yang paling berbahagia yang pernah kutemui. Senyumannya, caranya tertawa, keindahan yang timbul saat matanya berbinar bahagia, menerbitkan kehangatan yang kukira telah padam dalam hatiku. Tak ingin kehilangan dirinya, aku memutuskan untuk melamar Allina pada ayah dan ibunya satu bulan kemudian.

Hingga Suatu Pagi, Ia Berhenti Hidup: Bag 1

sumber gambar disini

Dalam kelelahan, aku kerap berpikir bahwa kekosongan dan kesendirian liang lahat merupakan tempat yang lebih baik dari rumah dimana aku tinggal.

Kau mungkin heran, atau menganggapku manusia paling tak tahu diri atau tak tahu untung, saat kau melihat rumah yang kami miliki, bayi berusia 8 bulan yang tengah lucu-lucunya, dan suamiku yang tampan—Ardhi. Kami terlihat begitu berkecukupan, begitu lengkap, begitu bahagia… dari luar.

Sementara dari dalam, aku harus bertahan menghadapi neraka-ku yang tak kasat mata.


Bagimu yang Telah Pergi, Dari Kami yang Masih Mengantri

Kini, tepat satu tahun. 

Maaf karena begitu lama Bube baru mampu menulis panjang tentangmu. Bukan karena tak ingin kesedihan itu kembali menggigit, bukan, hanya saja kerinduan yang datang nanti akan sangat sulit untuk diusir pergi.

Karena setiap menutup mata, tanpa cela masih bisa terbayang senyum nakalmu, suara serakmu saat berkata "Eeeh, Bube. Udah datang?". Masih membekas di pipi rasa hangat gembil pipimu, rasa basah saat kau iseng memberi ciuman penuh iler. Dalam memori HP ini, masih penuh berisi foto selfie denganmu, yang selalu senang melendot saat Bubemu ini sudah bersiap memegang HP. Masih terbayang berat hangat badanmu di pangkuan, saat kau melonjak setiap kali melihat truck lewat kala Abimu berkendara.

"Bube, truck!"

"Warnanya apa?"
"Ijok!"
"Bukaaan, itu warnanya hi...? Hitaaam!"

Perempuan Ini dan Gerombolan Lebah Pagi Hari

sumber gambar disini


Setiap pagi, perempuan ini berangkat bersama segerombolan lebah.

Setiap pagi pula, ia mendengar harmoni dengungan dan geraman dari setiap lebah. Nyanyian, yang bagi sebagian orang terdengar seperti hiruk pikuk jalan raya yang menyebalkan. 

Namun bagi perempuan ini, dengungan itu terasa menenangkan, memberinya keyakinan bahwa seperti apapun masalah yang ia miliki di belakang, atau yang akan ia temui ke depannya, kehidupan akan selalu berjalan. Memberinya kesadaran, bahwa ia hanyalah seorang lebah diantara milyaran lebah lainnya, yang hidup dan menjalani kehidupannya dengan penuh perjuangan. 

Penjara Tak Seseram Itu

Saya saat penelitian di Lapas Klas I Tangerang. Pakai jilbap biar nyamaaaan.
Beberapa hari yang lalu saya dan beberapa temen cewek SMA reuni sambil buka bareng. Saat saling bertukar cerita tentang progress kehidupan masing-masing, salah seorang teman bertanya:

“Lo sering ke penjara gitu-gitu ya ci? Kok berani? Serem nggak sih?”

Dari pertanyaan ini saya jadi banyak berpikir setelahnya, selama kuliah di kriminologi, saya memang telah banyak mengunjungi dan meneliti di berbagai Lapas, baik dalam rangka kuliah atau pekerjaan. Dan saat ditanya apakah Lapas-Lapas itu seram, jawaban saya adalah "ah, nggak seseram itu". Apalagi Lapas Wanita, yang akan saya bahas di artikel ini (karena lebih asyik. Mungkin next time di artikel lain saya akan membahas tentang Lapas Pria, tapi memang lebih serem sih).
Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers