Kronologi Kasus Perkosaan Oleh Sitok Srengenge: Jurang Besar Antara Pengakuan Korban dan Pelaku

sumber disini

Kekerasan seksual atas perempuan bukanlah berita baru. Nyaris setiap hari media massa kita mengabarkan nasib perempuan-perempuan yang disakiti secara sadis dan brutal sebagai obyek pelampiasan nafsu birahi. Tidak sedikit perempuan-perempuan ini yang kemudian depresi, hancur masa depannya, hingga yang terburuk, mati di tangan pelaku.

Sebagian besar dari masyarakat, bahkan kemungkinan besar anda yang tengah membaca ini, selalu menganggap bahwa anda atau orang-orang terdekat anda aman dari kejahatan seksual, karena anda cukup ‘pintar’ untuk bersikap baik (alias tidak melakukan tindakan apapun yang memberikan kesempatan diri anda menjadi korban) dan selalu bersikap waspada (terutama pada orang asing).

Namun sayangnya, tidak ada satupun orang yang aman dari kejahatan seksual, karena sesungguhnya, setiap orang rentan menjadi korban, sekalipun anda berpakaian sopan, memiliki pendidikan tinggi, tidak bersikap menggoda, berwajah tidak menarik (atau sudah berumur), dan sebagainya. Benarkah demikian? Untuk lebih jelasnya, mungkin anda bisa membaca artikel saya yang lain, yakni Apa yang Harus Saya Lakukan JikaSaya Diperkosa.

Lelaki Juga Punya Hati(?) -PartTwo-


sumber disini

Hubungan Leo dan Anya pada awalnya memang sedikit awkward.

Setelah berkenalan dalam acara dinner-merangkap-nego-harga yang dirancang oleh kantor keduanya, Leo saat itu percaya ia jatuh hati pada Anya dan mengejarnya habis-habisan. Bahkan pengakuan jujur sekaligus beresiko Anya mengenai orientasi seksualnya yang sebenarnya itu dianggap Leo sebagai strategi pengalihan isu untuk menolak cintanya.

Barulah setelah tak sengaja memergoki aksi panas Anya dan bos perempuan Leo di parkiran mobil kantor, Leo menerima segala kenyataan dengan pahit. Anehnya, karena kecocokan dan kenyamanan yang tidak bisa dijelaskan, Leo dan Anya justru bersahabat erat setelahnya, hingga sekarang.

“Dihhh, begini nih penyakit habis putus; jablay bangeeet!” geram Anya sembari mencubit lengan berotot Leo. “Lagian pertanyaannya itu ya, kalaupun gue normal, emangnya gue mau sama lo, bro? Halo? Body security tapi hati Hello Kitty?”


Leo tergelak geli, namun dengan segera matanya kembali menatap kosong cream soup yang tengah ia makan dengan perlahan. Tubuhnya disini, tapi Anya tahu pikiran Leo kini melayang lagi ke Mila, atau kenangan-kenangan indah mereka berdua.

Kata orang, laki-laki itu kuat, tidak emosional, bahkan nyaris tidak punya hati. Hanya saja fakta yang tersaji di depan Anya begitu berbeda. Jika makhluk di depannya ini memang kuat, tidak emosional, dan tidak punya hati, Anya rasa Leo tidak akan sebegini kacaunya ‘hanya karena’ ditinggal pergi oleh ‘seorang’ Mila.

Anya berpikir bahwa segala anggapan masyarakat itu salah, atau semacam imaji yang sengaja diciptakan agar laki-laki terlihat seperti makhluk yang lebih solid buatannya dibanding perempuan. Laki-laki sengaja dicitrakan agar tak memiliki hati agar tak mudah disakiti.

Tapi ya, laki-laki punya hati. Ya, laki-laki bisa menangis. Kalau tidak, Tuhan tidak akan menciptakan mereka lengkap dengan kelenjar air mata seperti halnya perempuan.

Masyarakat-lah yang kemudian memaksa setiap anak laki-laki yang baru lahir untuk menganggap tangisan itu sangat tidak ‘laki-laki’ sekali. Disaat masyarakat mengajari anak perempuan mereka bahwa tangisan itu adalah bagian dari kelembutan, anak laki-laki diajari bahwa tangisan adalah bagian dari kelemahan. Padahal, toh, laki-laki juga manusia yang hatinya mudah terluka.

Karena itulah menurut Anya, kemudian makhluk yang berjenis laki-laki itu beradaptasi. Kesedihan yang tak boleh diungkapkan lewat air mata seperti layaknya manusia, kemudian dituangkan lewat media lainnya—dan dalam kasus Leo, karena ia merasa tak boleh menangis, akhirnya segala pedihnya ia tuangkan lewat hal lainnya. Dalam kasus Leo misalnya, yang memilih merusak hari Anya dengan mabuk-mabukan dan berbuat kekacauan di area publik.

“Nya… 4 tahun temenan, gue nggak pernah nanya… Tapi gimana bisa sih lo jadi lesbian, Nya?” pertanyaan mendadak Leo membuat Anya menaikkan alisnya.

“Entah juga ya. Sejak pertama kali bisa mengingat, rasanya gue emang nggak pernah suka sama cowok. Rasanya seperti memang gue terlahir demikian. Mungkin saat men-setting gue, Tuhan itu lagi becandaan dengan malaikat-malaikatnya, jadinya nyelip atau keliru gitulah.” Jawab Anya cuek sembari mencelupkan shortbread-nya ke teh Leo.

“Tapi aneh dan pusing nggak sih rasanya menyukai cewek itu, Nya?” Tanya Leo lagi.

“Wah ini pertanyaannya mulai men-detail nih. Lu beneran mau ‘belok’, bro?” sahut Anya, panik.

“Kagaklah, gilak! Hahahaha.” Leo akhirnya terpingkal. “Gue cuma pingin studi banding, nih. Masalahnya creature yang kita sukai kan sama; perempuan. Gue kepikiran, apa memang karena gue cowok sehingga gue nggak bisa mengerti, atau memang perempuan itu lebih sulit dari labirin Daedalus?”

“Ya normal sih, bingung juga, pusing juga. Masalahnya ya, Yo, menurut gue ini tuh bukan perihal lo cowok yang macarin cewek. Gue cewek yang macarin cewek aja masih suka stress karena hubungan gue nggak selancar yang gue harapkan. Soal utamanya bukan di perbedaan jenis kelamin. Tapi saat lo menyukai orang lain, yang tentunya punya nilai-nilai dan perspektif yang beda dari lo, tentu saja semuanya bakalan jadi sulit: karena dalam kebersamaan, kita mencoba menyamakan dua orang yang jelas-jelas berbeda!” Tutur Anya panjang.

“Gitu ya… Jadi bukan gara-gara gue yang bego sampai-sampai nggak bisa memahami maunya Mila, kan?” Leo membaringkan kepalanya di dekat Anya, yang dengan refleks mengelus rambut hitam Leo.

“Dengerin gue, jangan pernah lagi lo mikir lo yang salah, lo yang bego, lo yang tolol… Sekarang lihat, apa aja yang sudah lo lakukan dan perjuangkan demi Mila? Lihat juga, emangnya itu makhluk udah melakukan apa buat membahagiakan lo? Masalahnya lo dan Mila dari awal udah nggak cocok, Yo… Dia drama-queen dan attention-seeker, sementara lo itu anak rumahan… Disaat dia pingin mabok dan clubbing tiap malam, lo lebih suka baca buku sambil makan blueberry cheesecake di rumah... Ya gimana? Nggak ketemu, kan?” bisik Anya sembari mengusap kening Leo.

“Tapi gue kan cinta banget sama dia, Nya…” rintih Leo, terdengar seperti akan menangis.

Oh my, dude… There’s no such thing called love. Cinta itu adalah sesuatu yang kita gunakan untuk menggambarkan perubahan hormone dan kumparan emosi rumit saat menyukai sesuatu atau seseorang. Lo sendiri yang meyakinkan otak lo bahwa lo cinta dia, bahwa lo ga bisa hidup tanpa dia. Padahal toh, jika lo berhasil mensinkronisasikan otak dan hati lo, lo ga akan ngerasain sakit lagi…” omel Anya.

“Whoaa! Such an optimistic!” sindir Leo sembari tertawa. “Lo kedengarannya sudah sebegitu sakitnya hingga nggak percaya kebahagiaan norak semacam cinta itu ada, Nya…”

“Pastinya. Tau gak sih? Lo lebih beruntung sebagai heteroseksual, Yo. Saat lo jatuh cinta, satu-satunya yang lo pikirkan adalah bagaimana dia bisa balik mencintai lo. Tapi gue, saat jatuh cinta, terlalu banyak hal yang harus gue pikirkan beribu kali. Apa dia juga lesbi? Apa dia mau sama gue? sekalipun iya, apa dia berani hidup di sisi gue dan menentang masyarakat yang menghakimi?” suara Anya melemah dan menghilang, terkubur kenangan pahit dan sedih yang kini bergejolak dalam kepalanya.

“Eerr, dan disini gue mulai merasa bersalah karena sudah membebani lo dengan fase drama patah hati yang nggak keren ini, padahal masalah yang lo hadapi jauh lebih berat…” bisik Leo sembari kembali duduk.

“Ohh, finally! Otak lo balik, Yo!” desis Anya sinis, namun sembari tertawa. Ia meraih kepala Leo dan menjitaknya berkali-kali sebelum akhirnya memeluk sahabatnya itu. “Dude, please… Lo itu baik, lo pantas mendapatkan orang yang lebih baik dan lebih mencintai lo dibanding Mila. Pastilah ada perempuan baik diluar sana yang sadar dirinya beruntung punya cowok hobi masak dan anak rumahan… Cukuplah Blowfish yang udah menandai gue sebagai orang brengsek gara-gara lo. Jangan ada lagi Blowfish-blowfish lain ya, bro…”

“Ahh, Anyaa… So sweet. Gue cium deh lo, sini sini.” Celetuk Leo sok imut.

“Ergh! Nah ini, udah balik sepenuhnya si jin ifrit!” gerutu Anya sembari melepaskan Leo. Ia menyambar tasnya dan berdiri, mulai merapikan kaos dan short pants-nya yang amburadul. “Nah! Gue balik ya. Nggak baik anak gadis bermalam di tempat laki-laki, apa kata orang nanti?”
“Wooo! Emang masih gadis?” sambar Leo, tergelak.

Shut up, dickhead!” sembur Anya galak. “Gue tinggal ya, Yo? Lo tidur ajalah sana, masih rada mabok kan? Jangan bunuh diri ya, kalau gue tinggal. Kalau emang udah gak tahan ingin meninggalkan dunia-tanpa-Mila kabari gue, biar mayat lo gue sumbangin ke peneliti. Jarang-jarang lho ada orang yang kuliah di Oxford tapi bego.”

“Aduh anak gadis ini bicaranya sadis sekali.” Kekeh Leo sembari menyeruput teh-nya. “Pulanglah. Dan makasih banyak ya, Nya. Thank you for standing by my side… Thank you for making me laugh tonight…”

Anya melempar senyuman, “No problemo. Cepat ‘sembuh’ ya, Yo. Biar weekend ini kita muter-muter Jakarta, nyari cewek seksi!” setelah memasukkan kakinya ke sandal jepit super-besar milik Leo, Anya membuka pintu dan melambaikan tangannya.

“Eh, Leo…” panggil Anya yang berbalik di pintu.

“Yep, my love?”

“Gue rasa gue salah. Cinta pastilah ada. Kalau tidak, penyair di seluruh dunia dan di berbagai masa nggak akan meributkannya sebegitu rupa. Gue rasa kita hanya belum menemukannya saat ini. Tapi asal percaya dan membuka hati, pastilah kita akan bersama dengan orang yang keberadaannya saja mampu menghapus segala luka di hati selama ini. Mungkin tidak se-sempurna yang kita inginkan, tapi selama rasa itu masih ada, kita pasti bisa menjadikannya lebih sempurna.” Lirih Anya.

Leo mengembangkan senyumannya yang paling lebar, “Iya, Nya… Pasti…”

Gadis itu melambaikan tangannya, sembari menutup pintu kamar apartement Leo dari luar. Di tempatnya, sembari menyendokkan sisa-sisa cream soup-nya, Leo menatap garis-garis pengantar senja yang kini mulai memenuhi angkasa lewat jendela. Setelah melewati masa-masa berat patah hati, kini ia bahkan tak bisa berhenti tersenyum.

Ya, cinta dan kebahagiaan itu pastilah ada… Dan hati yang patah saat ini-pun akan sembuh dan justru akan menjadi hati yang lebih kuat dan tegar untuk menopang cinta yang lebih luar biasa nantinya.

Pasti.

-The End-

Lelaki Juga Punya Hati(?) -PartOne-

sumber disini

Anya menelan makiannya dalam-dalam. Gadis berambut cokelat panjang itu bahkan tidak mampu memutuskan mana situasi yang paling membuat urat kesabarannya putus malam ini.

Situasi ‘neraka’ pertama, ia dipaksa keluar dari bathub yang penuh garam, rempah, dan bunga serta mengakhiri sesi mandi jumat-malam kesukaannya karena panggilan emergency untuk menyelamatkan sahabatnya, Leo, yang mabuk berat dan hampir menjadi sasaran tinju security club Blowfish. Atau mungkin justru situasi kedua yang tak kalah ‘menyenangkan’, kenyataan bahwa kini ia dapat dipastikan tak akan pernah lagi bisa menginjakkan kakinya ke salah satu club paling hitz di Jakarta Selatan itu setelah membuat kehebohan yang sedemikian rupa. Dan, ahh, tentu saja yang ketiga, dimana ia mendapati dirinya tengah menyeret Leo yang 35 centimeter lebih tinggi darinya di sepanjang area parkir apartement Leo, dengan bertelanjang kaki tentunya, karena ankle boot Christian Louboutin kesukaannya telah ia gunakan sebagai senjata untuk memukul mundur security Blowfish yang mengepung Leo.

Dan setelah mencampakkan alasan-kenapa-ia-harus-mengalami-ini-semua (baca: Leo) ke sofa empuk berwarna khaki dalam apartement minimalis sahabatnya itu, Anya membiarkan dirinya mengeluarkan sedikit gerungan emosi.


Damn, boy! Are you losing your mind or what?” jerit Anya sembari terengah-engah.

Namun toh, emosi itu hanya bertahan sepersekian detik. Terutama setelah bisikan sorry super-pelan keluar dari bibir pecah Leo yang menggeletak tak berdaya di sofa. Sekali lagi, Anya menelan makiannya dalam-dalam dan menghela nafas panjang. Dadanya dibanjiri simpati dan kesedihan hingga panas yang ia rasa akibat emosi tadi lenyap entah kemana.

Fasten your seatbelt, crazy-head.” Desis Anya galak sembari menyodorkan sebotol besar air mineral pada Leo untuk mengatasi mabuknya. “Jangan bikin ulah lagi. Gue ke dapur sebentar.”

Dapur Leo mungkin adalah salah satu dapur-cowok paling rapi yang pernah Anya kunjungi. Sahabatnya itu memang tampilannya saja yang sepertinya laki banget, padahal salah satu hobinya adalah memasak di dapur. Leo juga peramu rasa yang cukup andal, dari blueberry cheesecake hingga bakwan mampu disajikan Leo dengan tampilan dan rasa yang cukup menggoda. Lucunya, sekalipun Leo menghabiskan sepertiga masa hidupnya di kota Oxford, rendang buatannya jauh lebih enak dibanding masakan mendiang ibunda Anya.

Setelah menemukan rak yang penuh berisi kaleng teh Twinings di sudut dapur, Anya mengeluarkan beberapa tea bag dengan label cinnamon. Sepertiga masa hidup yang dihabiskan Leo di Inggris toh memang terlihat hasilnya; lelaki Minang-Jawa-Italia itu kini menjadi penggemar berat teh. Lucunya lagi, walaupun berperawakan macho, pilihan hati Leo justru jatuh pada Twinings Infusion, merk teh asli inggris dengan aneka rasa buah. Semacam ndak cucok.

“Habisin, biar otak lo ga kebolak-balik lagi.” Dumel Anya sembari menyorongkan cinnamon tea yang mengepul panas dan shortbread-nya Oriyane ke hadapan Leo.

“Airnya kebanyakan, Nya.” Komentar Leo saat melihat kekentalan teh yang disajikan.

“Oh, God The Almighty. Bro, kalau ada orang disini yang kepingin ngomel dari matahari terbit sampai terbenam, itu GUE orangnya. Jadi mendingan lo diem aja dan habisin teh-nya!” dumel Anya lagi. “Masih pusing? Pingin makan apa?”

“Ada sisa cream soup di panci. Boleh minta tolong dipanasin, Nya?” sebut Leo, malu-malu.

“Ergh. Sekarang aja baru deh kata tolong-nya keluar.” Cetus Anya sembari berbalik ke dapur. Anya sengaja bersikap menyebalkan. Walaupun sebenarnya sikap bitchy-nya itu lebih ia tunjukkan karena tidak ingin menjebak Leo dalam drama melankolis lebih dalam lagi.

Yup, kalau ada yang dari tadi bertanya-tanya atau justru sudah bisa menebak kenapa lelaki rumahan seperti Leo mabok sebegitu parahnya; alasannya sangat sederhana sekaligus klise…patah hati.

Perpisahan Leo dan Mila, the ex-girlfriend, memang sarat drama. Padahal yang selingkuh disini adalah Mila, si bitchy yang kabarnya nggak pernah pakai celana dalam kemana-mana itu. Dan yang bodoh disini adalah Leo, si bego yang bukan hanya memaafkan Mila berkali-kali, namun juga terus-menerus mempertahankan perempuan itu seakan-akan dia sudah kehabisan stock perempuan baik di muka bumi. Dan yang kesal dan gemas disini adalah Anya, yang merasa love-life nya sebagai lesbian sebenarnya jauh lebih menyedihkan dari kisah Leo, namun cukup waras untuk tidak merepotkan orang lain.

Tapi bagaimana-pun, Anya tidak bisa membenci Leo. Disini dia-lah good guy-nya. Leo itu lelaki lurus yang polos-nya ampun-ampunan. Orang yang tak mudah jatuh cinta, namun sekalinya jatuh cinta, ya jatuh sejatuh-jatuhnya sampai nggak bisa dibedakan dengan orang gila.

 “Sudahlah… Kenapa menangis? Bukannya kamu yang membiarkan kita hanya menjadi masa lalu?” Mendadak suara sedih Leo memenuhi apartement. “Kamu yang memilih menyerah untuk berjuang menjadikan ‘kita’ sebagai masa depan, La… Kamu juga yang mematahkan hatiku yang sesungguhnya masih ingin berjuang untukmu saat itu.”

Anya, yang sebenarnya sudah di belakang Leo, menghentikan langkahnya dan kembali menyusup ke dapur. Mangkok berisi cream soup panas yang mengepul itu ia letakkan lagi disana. Jelas bahwa kehadirannya kini akan sangat mengganggu Leo yang tengah terlibat pembicaraan via phone dengan seseorang yang Anya yakini adalah Mila.

“Aku ini lelaki, La… Tidak mungkin aku menjilat kembali apa yang sudah kuucapkan. Lebih baik terima saja, hadapi saja kenyataan bahwa kini kamu tak lagi lebih dari kenangan pahit yang mengantarkanku menjadi lebih bijaksana dengan segala perih yang kamu berikan.” Sahut Leo lagi, kali ini lebih emosional. Ia sepertinya telah memutuskan telfon itu, karena handphone yang digunakan Leo tadi kini tergeletak di dekat rak sepatu, retak dimana-mana karena dilempar jauh dari seberang ruangan.

Anya menaikkan alisnya dan membisikkan kata ‘wow’ dengan perlahan. Ternyata selain memiliki hobi masak dan penggemar teh rasa buah, Leo juga bisa berpuisi sedemikian rupa. Kelihatannya darah Minang dalam tubuh sahabatnya itu masih kental sekalipun diserbu budaya Inggris dan gaya hidup Metropolitan.

Namun setelah sepersekian detik berpikir demikian, Anya menggetok kepalanya sendiri keras-keras. Manusia macam apa dirinya, bisa-bisanya mengomentari hal semacam itu sementara di ruang sebelah sahabatnya tengah berjuang menahan air mata akibat hati yang patah?

“Dude, lo ga apa-apa?” bisik Anya sembari meringsut pelan-pelan ke dekat Leo yang tengah duduk di tengah-tengah karpet sembari menatap nanar keluar jendela, ke langit hitam Jakarta. “Makan dulu deh, Yo. Nih cream soup lo…”

“Lo tau gak pikiran gila apa yang sekarang ada di otak gue?” Desis Leo mendadak, penuh emosi. “Gue pingin nyamperin cowok baru Mila itu dan nyodomi dia sampai menjerit!”

“Astaghfirullah!” Seru Anya yang sangkin kagetnya, kembali ingat Tuhan. “Eh lo jangan main-main, Yo! Lo patah hati sama cewek sampai-sampai ujung-ujungnya meng-homo?”

Leo tak langsung menjawab. Ia melirik sedih ke cream soup-nya sebelum berbisik, “Iya ya, jadi homo sepertinya menarik juga. Seenggaknya gue gak lagi berurusan dengan makhluk yang sistem kerja otaknya paling rumit se-alam semesta.”

Anya meraih bantal empuk di sofa dan melemparkannya kencang-kencang ke kepala Leo, “Egilak, lo tadi habis ngembat sebotol whiskey apa minum oplosan? Kok kayaknya otak lo rusak??” jerit Anya ngeri.

“…Atau sama orang kayak lo. Spesifikasinya aja yang cewek, tapi otaknya cowok. Coba lo ga lesbi deh, Nya. Kita bakalan pacaran dari 4 tahun lalu, dan gue nggak perlu kenal Mila.” Sambung Leo, tak terpengaruh.



Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers