Lelaki Juga Punya Hati(?) -PartOne-

sumber disini

Anya menelan makiannya dalam-dalam. Gadis berambut cokelat panjang itu bahkan tidak mampu memutuskan mana situasi yang paling membuat urat kesabarannya putus malam ini.

Situasi ‘neraka’ pertama, ia dipaksa keluar dari bathub yang penuh garam, rempah, dan bunga serta mengakhiri sesi mandi jumat-malam kesukaannya karena panggilan emergency untuk menyelamatkan sahabatnya, Leo, yang mabuk berat dan hampir menjadi sasaran tinju security club Blowfish. Atau mungkin justru situasi kedua yang tak kalah ‘menyenangkan’, kenyataan bahwa kini ia dapat dipastikan tak akan pernah lagi bisa menginjakkan kakinya ke salah satu club paling hitz di Jakarta Selatan itu setelah membuat kehebohan yang sedemikian rupa. Dan, ahh, tentu saja yang ketiga, dimana ia mendapati dirinya tengah menyeret Leo yang 35 centimeter lebih tinggi darinya di sepanjang area parkir apartement Leo, dengan bertelanjang kaki tentunya, karena ankle boot Christian Louboutin kesukaannya telah ia gunakan sebagai senjata untuk memukul mundur security Blowfish yang mengepung Leo.

Dan setelah mencampakkan alasan-kenapa-ia-harus-mengalami-ini-semua (baca: Leo) ke sofa empuk berwarna khaki dalam apartement minimalis sahabatnya itu, Anya membiarkan dirinya mengeluarkan sedikit gerungan emosi.


Damn, boy! Are you losing your mind or what?” jerit Anya sembari terengah-engah.

Namun toh, emosi itu hanya bertahan sepersekian detik. Terutama setelah bisikan sorry super-pelan keluar dari bibir pecah Leo yang menggeletak tak berdaya di sofa. Sekali lagi, Anya menelan makiannya dalam-dalam dan menghela nafas panjang. Dadanya dibanjiri simpati dan kesedihan hingga panas yang ia rasa akibat emosi tadi lenyap entah kemana.

Fasten your seatbelt, crazy-head.” Desis Anya galak sembari menyodorkan sebotol besar air mineral pada Leo untuk mengatasi mabuknya. “Jangan bikin ulah lagi. Gue ke dapur sebentar.”

Dapur Leo mungkin adalah salah satu dapur-cowok paling rapi yang pernah Anya kunjungi. Sahabatnya itu memang tampilannya saja yang sepertinya laki banget, padahal salah satu hobinya adalah memasak di dapur. Leo juga peramu rasa yang cukup andal, dari blueberry cheesecake hingga bakwan mampu disajikan Leo dengan tampilan dan rasa yang cukup menggoda. Lucunya, sekalipun Leo menghabiskan sepertiga masa hidupnya di kota Oxford, rendang buatannya jauh lebih enak dibanding masakan mendiang ibunda Anya.

Setelah menemukan rak yang penuh berisi kaleng teh Twinings di sudut dapur, Anya mengeluarkan beberapa tea bag dengan label cinnamon. Sepertiga masa hidup yang dihabiskan Leo di Inggris toh memang terlihat hasilnya; lelaki Minang-Jawa-Italia itu kini menjadi penggemar berat teh. Lucunya lagi, walaupun berperawakan macho, pilihan hati Leo justru jatuh pada Twinings Infusion, merk teh asli inggris dengan aneka rasa buah. Semacam ndak cucok.

“Habisin, biar otak lo ga kebolak-balik lagi.” Dumel Anya sembari menyorongkan cinnamon tea yang mengepul panas dan shortbread-nya Oriyane ke hadapan Leo.

“Airnya kebanyakan, Nya.” Komentar Leo saat melihat kekentalan teh yang disajikan.

“Oh, God The Almighty. Bro, kalau ada orang disini yang kepingin ngomel dari matahari terbit sampai terbenam, itu GUE orangnya. Jadi mendingan lo diem aja dan habisin teh-nya!” dumel Anya lagi. “Masih pusing? Pingin makan apa?”

“Ada sisa cream soup di panci. Boleh minta tolong dipanasin, Nya?” sebut Leo, malu-malu.

“Ergh. Sekarang aja baru deh kata tolong-nya keluar.” Cetus Anya sembari berbalik ke dapur. Anya sengaja bersikap menyebalkan. Walaupun sebenarnya sikap bitchy-nya itu lebih ia tunjukkan karena tidak ingin menjebak Leo dalam drama melankolis lebih dalam lagi.

Yup, kalau ada yang dari tadi bertanya-tanya atau justru sudah bisa menebak kenapa lelaki rumahan seperti Leo mabok sebegitu parahnya; alasannya sangat sederhana sekaligus klise…patah hati.

Perpisahan Leo dan Mila, the ex-girlfriend, memang sarat drama. Padahal yang selingkuh disini adalah Mila, si bitchy yang kabarnya nggak pernah pakai celana dalam kemana-mana itu. Dan yang bodoh disini adalah Leo, si bego yang bukan hanya memaafkan Mila berkali-kali, namun juga terus-menerus mempertahankan perempuan itu seakan-akan dia sudah kehabisan stock perempuan baik di muka bumi. Dan yang kesal dan gemas disini adalah Anya, yang merasa love-life nya sebagai lesbian sebenarnya jauh lebih menyedihkan dari kisah Leo, namun cukup waras untuk tidak merepotkan orang lain.

Tapi bagaimana-pun, Anya tidak bisa membenci Leo. Disini dia-lah good guy-nya. Leo itu lelaki lurus yang polos-nya ampun-ampunan. Orang yang tak mudah jatuh cinta, namun sekalinya jatuh cinta, ya jatuh sejatuh-jatuhnya sampai nggak bisa dibedakan dengan orang gila.

 “Sudahlah… Kenapa menangis? Bukannya kamu yang membiarkan kita hanya menjadi masa lalu?” Mendadak suara sedih Leo memenuhi apartement. “Kamu yang memilih menyerah untuk berjuang menjadikan ‘kita’ sebagai masa depan, La… Kamu juga yang mematahkan hatiku yang sesungguhnya masih ingin berjuang untukmu saat itu.”

Anya, yang sebenarnya sudah di belakang Leo, menghentikan langkahnya dan kembali menyusup ke dapur. Mangkok berisi cream soup panas yang mengepul itu ia letakkan lagi disana. Jelas bahwa kehadirannya kini akan sangat mengganggu Leo yang tengah terlibat pembicaraan via phone dengan seseorang yang Anya yakini adalah Mila.

“Aku ini lelaki, La… Tidak mungkin aku menjilat kembali apa yang sudah kuucapkan. Lebih baik terima saja, hadapi saja kenyataan bahwa kini kamu tak lagi lebih dari kenangan pahit yang mengantarkanku menjadi lebih bijaksana dengan segala perih yang kamu berikan.” Sahut Leo lagi, kali ini lebih emosional. Ia sepertinya telah memutuskan telfon itu, karena handphone yang digunakan Leo tadi kini tergeletak di dekat rak sepatu, retak dimana-mana karena dilempar jauh dari seberang ruangan.

Anya menaikkan alisnya dan membisikkan kata ‘wow’ dengan perlahan. Ternyata selain memiliki hobi masak dan penggemar teh rasa buah, Leo juga bisa berpuisi sedemikian rupa. Kelihatannya darah Minang dalam tubuh sahabatnya itu masih kental sekalipun diserbu budaya Inggris dan gaya hidup Metropolitan.

Namun setelah sepersekian detik berpikir demikian, Anya menggetok kepalanya sendiri keras-keras. Manusia macam apa dirinya, bisa-bisanya mengomentari hal semacam itu sementara di ruang sebelah sahabatnya tengah berjuang menahan air mata akibat hati yang patah?

“Dude, lo ga apa-apa?” bisik Anya sembari meringsut pelan-pelan ke dekat Leo yang tengah duduk di tengah-tengah karpet sembari menatap nanar keluar jendela, ke langit hitam Jakarta. “Makan dulu deh, Yo. Nih cream soup lo…”

“Lo tau gak pikiran gila apa yang sekarang ada di otak gue?” Desis Leo mendadak, penuh emosi. “Gue pingin nyamperin cowok baru Mila itu dan nyodomi dia sampai menjerit!”

“Astaghfirullah!” Seru Anya yang sangkin kagetnya, kembali ingat Tuhan. “Eh lo jangan main-main, Yo! Lo patah hati sama cewek sampai-sampai ujung-ujungnya meng-homo?”

Leo tak langsung menjawab. Ia melirik sedih ke cream soup-nya sebelum berbisik, “Iya ya, jadi homo sepertinya menarik juga. Seenggaknya gue gak lagi berurusan dengan makhluk yang sistem kerja otaknya paling rumit se-alam semesta.”

Anya meraih bantal empuk di sofa dan melemparkannya kencang-kencang ke kepala Leo, “Egilak, lo tadi habis ngembat sebotol whiskey apa minum oplosan? Kok kayaknya otak lo rusak??” jerit Anya ngeri.

“…Atau sama orang kayak lo. Spesifikasinya aja yang cewek, tapi otaknya cowok. Coba lo ga lesbi deh, Nya. Kita bakalan pacaran dari 4 tahun lalu, dan gue nggak perlu kenal Mila.” Sambung Leo, tak terpengaruh.



2 komentar:

  1. dante barcenandiFeb 3, 2014, 10:26:00 AM

    Ngantuk..haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ih ini anak dari pagi udah nyebelin banget deh. Besok-besok kaga usah ke blog aku lagi kamu yaaaaaa! *tebar tebar garam*

      Delete

Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers