Rumah di Tengah Perang



 
Foto diatas adalah tragedi Simpang KKA yang memakan banyak korban jiwa. Sumber disini.


“Suci, kamu orang Aceh ya? Kok sudah lama sekali nggak pulang? Jangan begitu dong, setidaknya setiap kali ada kesempatan, kamu pulang.”

Kata seorang bapak di kantor saya sore itu.

Kalimat yang sebenarnya biasa saja, namun membuat saya terdiam.

Karena pertanyaannya kemudian, pulang kemana?

Ingatan saya melayang. Jika dipikir-pikir sudah bertahun-tahun saya tidak pernah melihat bangunan yang saya sebut rumah itu. Ah, tapi entah juga bangunan itu masih bisa disebut rumah saya atau bukan, karena kabar terakhir dari salah seorang teman di kompleks perumahan yang sama, rumah saya di Kompleks Kertas Kraft Aceh (KKA) di Nissam, Aceh Utara itu kini telah hancur dijarah. Entah juga kepemilikannya kini atas nama siapa, karena rumah dinas itu ditinggal begitu saja saat kami ‘kabur’ darisana.

Manusia, Ujian, dan Perbaikan



sumber disini


  Terkadang saat kita diuji, diberi permasalahan, atau diberi rintangan cobaan, kita lebih memilih untuk berpikir “mengapa ini terjadi pada saya?”

Padahal terkadang Allah menurunkan suatu cobaan dan kesulitan dengan porsi yang sudah ditakarNya agar setelah lulus nanti, kita jadi manusia yang lebih baik. Allah toh bukan Kementerian Pendidikan yang bisa salah mengirimkan soal ujian anak SMA pada anak SD. Dia tak akan pernah keliru dan salah, karenanya ujian itupun pasti dirancang sedemikian rupa bagi kita.

Akhir-akhir ini saat diuji atau menemui masalah, saya banyak sekali berpikir. Semakin banyak masalah, semakin kencang ibadah. Sungguh benar, ibadah itu bukan untuk Tuhan, tapi manusia yang membutuhkannya. Setiap kali merasa hancur, lelah, atau putus asa, cukup dengan mengangkat tangan dan plung, saya lega. Padahal uneg-uneg belum keluar, tapi kehadiran Allah itu begitu terasa.

Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers