Megawati, Pagar, dan Amerika

Sumber Foto: Tribunnews.com

Sejujurnya saya dulu bukan pengagum berat Ibu Megawati Soekarnoputri.

Mungkin alasan paling mendasar adalah karena saya menilai beliau agak-gimana gitu setelah terkesan ‘ngambek’ pada Pak SBY saat beliau mengalahkannya dalam bursa pemilu dan jadi Presiden, dua periode lagi. Berbeda dengan sikap yang ditunjukkan Pak TK yang justru kerap menjadi ‘jembatan’ antara PDIP dan Pak SBY, Ibu Mega terkesan sangat anti sekali dengan mantan-bawahannya tersebut.

Mana lagi, Ibu Mega sangat sangat jarang mengekspos pemikiran dan permasalahannya di media, jadi saya agak-agak kurang mengerti kenapa beliau se-ngambek itu dengan Pak SBY. Sehingga kemudian sikap saya dengan beliau jadi kurang simpatik. Tapi kemudian entah apa juga yang saya harapkan dari sikap Ibu Mega: haruskah beliau bersikap fake dengan tetap wara-wiri dengan SBY meskipun di hati memendam ketidaksetujuan, atau sebenarnya justru bukankah lebih baik jika Ibu Mega jujur bersikap apa adanya meskipun beliau terkesan ngambek?

Karena Dia Adalah Adik Saya

Add caption


Adik saya di dunia ini cuma satu, laki-laki.

Adik saya adalah anak laki-laki yang ditunggu-tunggu keluarga kami selama 18 tahun. Karena kakek dan bapak saya adalah anak lelaki tertua di keluarganya, dan tentunya mengharapkan anak laki-laki untuk meneruskan nama. Sehingga saat adik saya lahir melengkapi 3 kakak perempuannya, ia membawa kebahagiaan yang tak terperi di keluarga kami.

Adik saya sejak dulu kehidupannya sudah sulit. Ia bahkan pernah hampir meninggal saat masih bayi karena diare hebat, telat berbicara, nilai-nilai pelajarannya di sekolah tidak sebaik teman-temannya, menempuh fase-fase hidup penuh trauma karena berbagai permasalahan keluarga, serta melewati ketakutan akibat terror dari kalangan GAM di Aceh pada keluarga kami.

Gerwani: Pelaku atau Korban Perkosaan Bermotif Propaganda Politik?

Tulisan ini diadaptasi dan telah mengalami perubahan secukupnya dari Makalah saya pada matakuliah Perempuan dan Keadilan di Departemen Kriminologi, Universitas Indonesia.


sumber gambar disini

Gerwani merupakan satu-satunya organisasi yang pada era Presiden Soekarno cukup keras menyuarakan hak-hak perempuan dan anak. Salah satu tujuan utama yang ingin diraih oleh organisasi ini adalah hak pendidikan dan politik yang sama bagi kaum perempuan, bukan hanya dijadikan babu di dapur dan tempat tidur. Namun di era yang masih mengusung tinggi patriarkhi tersebut, suara-suara mereka dianggap meresahkan bahkan mengancam 'kegagahan' laki-laki, hingga akhirnya organisasi ini ditumpas habis oleh pemerintah di Era Orde Baru. 

Bukan hanya dihilangkan, namun Gerwani juga difitnah menjadi bagian dari PKI dan melancarkan serangan seksual pada Para Jenderal dalam peristiwa G30S/PKI. Mereka ditangkap, dibunuh, dihilangkan, dan yang paling mengerikan--diperkosa serta dirusak alat kelaminnya. Kini, tabir kebenaran atas peristiwa yang sesungguhnya terjadi mulai tersingkap. Berbagai penelitian, baik yang dilakukan oleh bangsa kita sendiri maupun peneliti internasional, menunjukkan kekejaman yang dilakukan oleh Orde Baru atas perempuan-perempuan yang sempat memberikan kontribusi yang sangat besar bagi kemajuan bangsa ini.

Tanpa Matahari

sumber disini

Aku tak pernah percaya bahwa cinta dan benci memang nyaris tak berbatas.

Dulu, kata-kata itu terdengar tak masuk akal, karena toh, keduanya begitu bertolak belakang. Dan dulu, aku selalu berpikir bagaimana bisa kita mencintai dan membenci seseorang di saat yang sama?

Ya, aku tak pernah percaya bahwa cinta dan benci berbatas tiada, hingga aku terjerat dalam Dunia-Cahaya-Freeya.

Ia gadis yang kutemui saat pipiku tengah berlinangan air mata karena kehilangan sejumlah barang berharga dalam kerumunan mahasiswa yang tengah mendaftar ulang ke kampus ini. Saat itu, aku hanya mampu tertunduk, kebingungan, dan menangis diam-diam dalam keacuhan orang-orang disekitar yang lebih sibuk mencari-cari sekutu sesama-mahasiswa baru daripada memerhatikan sosok suram yang nyaris tak terlihat. Namun berbeda halnya dengan ribuan orang itu, ia mendekat, gadis bertubuh padat dengan tinggi sedikit diatas rata-rata yang dengan cueknya mengenakan jeans pudar-kotor, kaos putih, dan scarf abu-abu. Ia berjongkok di sebelahku dan secara praktis menjadi satu-satunya orang yang perduli sejak 37 menit berlalu sejak aku meringkuk di sudut lapangan.
Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers