Hingga Suatu Pagi, Ia Berhenti Hidup: Bag 2

sumber gambar disini

Di bulan Juni, aku patah hati.

Perempuan yang pergi itu meninggalkan lubang besar yang tak tertanggulangi, hingga aku berpikir bahwa selamanya aku tak akan jatuh cinta lagi. Lalu di akhir September di tahun yang sama, aku bertemu Allina.

Saat itu, ia adalah gadis yang paling berbahagia yang pernah kutemui. Senyumannya, caranya tertawa, keindahan yang timbul saat matanya berbinar bahagia, menerbitkan kehangatan yang kukira telah padam dalam hatiku. Tak ingin kehilangan dirinya, aku memutuskan untuk melamar Allina pada ayah dan ibunya satu bulan kemudian.

Hingga Suatu Pagi, Ia Berhenti Hidup: Bag 1

sumber gambar disini

Dalam kelelahan, aku kerap berpikir bahwa kekosongan dan kesendirian liang lahat merupakan tempat yang lebih baik dari rumah dimana aku tinggal.

Kau mungkin heran, atau menganggapku manusia paling tak tahu diri atau tak tahu untung, saat kau melihat rumah yang kami miliki, bayi berusia 8 bulan yang tengah lucu-lucunya, dan suamiku yang tampan—Ardhi. Kami terlihat begitu berkecukupan, begitu lengkap, begitu bahagia… dari luar.

Sementara dari dalam, aku harus bertahan menghadapi neraka-ku yang tak kasat mata.


Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers