Lelaki Juga Punya Hati(?) -PartTwo-


sumber disini

Hubungan Leo dan Anya pada awalnya memang sedikit awkward.

Setelah berkenalan dalam acara dinner-merangkap-nego-harga yang dirancang oleh kantor keduanya, Leo saat itu percaya ia jatuh hati pada Anya dan mengejarnya habis-habisan. Bahkan pengakuan jujur sekaligus beresiko Anya mengenai orientasi seksualnya yang sebenarnya itu dianggap Leo sebagai strategi pengalihan isu untuk menolak cintanya.

Barulah setelah tak sengaja memergoki aksi panas Anya dan bos perempuan Leo di parkiran mobil kantor, Leo menerima segala kenyataan dengan pahit. Anehnya, karena kecocokan dan kenyamanan yang tidak bisa dijelaskan, Leo dan Anya justru bersahabat erat setelahnya, hingga sekarang.

“Dihhh, begini nih penyakit habis putus; jablay bangeeet!” geram Anya sembari mencubit lengan berotot Leo. “Lagian pertanyaannya itu ya, kalaupun gue normal, emangnya gue mau sama lo, bro? Halo? Body security tapi hati Hello Kitty?”


Leo tergelak geli, namun dengan segera matanya kembali menatap kosong cream soup yang tengah ia makan dengan perlahan. Tubuhnya disini, tapi Anya tahu pikiran Leo kini melayang lagi ke Mila, atau kenangan-kenangan indah mereka berdua.

Kata orang, laki-laki itu kuat, tidak emosional, bahkan nyaris tidak punya hati. Hanya saja fakta yang tersaji di depan Anya begitu berbeda. Jika makhluk di depannya ini memang kuat, tidak emosional, dan tidak punya hati, Anya rasa Leo tidak akan sebegini kacaunya ‘hanya karena’ ditinggal pergi oleh ‘seorang’ Mila.

Anya berpikir bahwa segala anggapan masyarakat itu salah, atau semacam imaji yang sengaja diciptakan agar laki-laki terlihat seperti makhluk yang lebih solid buatannya dibanding perempuan. Laki-laki sengaja dicitrakan agar tak memiliki hati agar tak mudah disakiti.

Tapi ya, laki-laki punya hati. Ya, laki-laki bisa menangis. Kalau tidak, Tuhan tidak akan menciptakan mereka lengkap dengan kelenjar air mata seperti halnya perempuan.

Masyarakat-lah yang kemudian memaksa setiap anak laki-laki yang baru lahir untuk menganggap tangisan itu sangat tidak ‘laki-laki’ sekali. Disaat masyarakat mengajari anak perempuan mereka bahwa tangisan itu adalah bagian dari kelembutan, anak laki-laki diajari bahwa tangisan adalah bagian dari kelemahan. Padahal, toh, laki-laki juga manusia yang hatinya mudah terluka.

Karena itulah menurut Anya, kemudian makhluk yang berjenis laki-laki itu beradaptasi. Kesedihan yang tak boleh diungkapkan lewat air mata seperti layaknya manusia, kemudian dituangkan lewat media lainnya—dan dalam kasus Leo, karena ia merasa tak boleh menangis, akhirnya segala pedihnya ia tuangkan lewat hal lainnya. Dalam kasus Leo misalnya, yang memilih merusak hari Anya dengan mabuk-mabukan dan berbuat kekacauan di area publik.

“Nya… 4 tahun temenan, gue nggak pernah nanya… Tapi gimana bisa sih lo jadi lesbian, Nya?” pertanyaan mendadak Leo membuat Anya menaikkan alisnya.

“Entah juga ya. Sejak pertama kali bisa mengingat, rasanya gue emang nggak pernah suka sama cowok. Rasanya seperti memang gue terlahir demikian. Mungkin saat men-setting gue, Tuhan itu lagi becandaan dengan malaikat-malaikatnya, jadinya nyelip atau keliru gitulah.” Jawab Anya cuek sembari mencelupkan shortbread-nya ke teh Leo.

“Tapi aneh dan pusing nggak sih rasanya menyukai cewek itu, Nya?” Tanya Leo lagi.

“Wah ini pertanyaannya mulai men-detail nih. Lu beneran mau ‘belok’, bro?” sahut Anya, panik.

“Kagaklah, gilak! Hahahaha.” Leo akhirnya terpingkal. “Gue cuma pingin studi banding, nih. Masalahnya creature yang kita sukai kan sama; perempuan. Gue kepikiran, apa memang karena gue cowok sehingga gue nggak bisa mengerti, atau memang perempuan itu lebih sulit dari labirin Daedalus?”

“Ya normal sih, bingung juga, pusing juga. Masalahnya ya, Yo, menurut gue ini tuh bukan perihal lo cowok yang macarin cewek. Gue cewek yang macarin cewek aja masih suka stress karena hubungan gue nggak selancar yang gue harapkan. Soal utamanya bukan di perbedaan jenis kelamin. Tapi saat lo menyukai orang lain, yang tentunya punya nilai-nilai dan perspektif yang beda dari lo, tentu saja semuanya bakalan jadi sulit: karena dalam kebersamaan, kita mencoba menyamakan dua orang yang jelas-jelas berbeda!” Tutur Anya panjang.

“Gitu ya… Jadi bukan gara-gara gue yang bego sampai-sampai nggak bisa memahami maunya Mila, kan?” Leo membaringkan kepalanya di dekat Anya, yang dengan refleks mengelus rambut hitam Leo.

“Dengerin gue, jangan pernah lagi lo mikir lo yang salah, lo yang bego, lo yang tolol… Sekarang lihat, apa aja yang sudah lo lakukan dan perjuangkan demi Mila? Lihat juga, emangnya itu makhluk udah melakukan apa buat membahagiakan lo? Masalahnya lo dan Mila dari awal udah nggak cocok, Yo… Dia drama-queen dan attention-seeker, sementara lo itu anak rumahan… Disaat dia pingin mabok dan clubbing tiap malam, lo lebih suka baca buku sambil makan blueberry cheesecake di rumah... Ya gimana? Nggak ketemu, kan?” bisik Anya sembari mengusap kening Leo.

“Tapi gue kan cinta banget sama dia, Nya…” rintih Leo, terdengar seperti akan menangis.

Oh my, dude… There’s no such thing called love. Cinta itu adalah sesuatu yang kita gunakan untuk menggambarkan perubahan hormone dan kumparan emosi rumit saat menyukai sesuatu atau seseorang. Lo sendiri yang meyakinkan otak lo bahwa lo cinta dia, bahwa lo ga bisa hidup tanpa dia. Padahal toh, jika lo berhasil mensinkronisasikan otak dan hati lo, lo ga akan ngerasain sakit lagi…” omel Anya.

“Whoaa! Such an optimistic!” sindir Leo sembari tertawa. “Lo kedengarannya sudah sebegitu sakitnya hingga nggak percaya kebahagiaan norak semacam cinta itu ada, Nya…”

“Pastinya. Tau gak sih? Lo lebih beruntung sebagai heteroseksual, Yo. Saat lo jatuh cinta, satu-satunya yang lo pikirkan adalah bagaimana dia bisa balik mencintai lo. Tapi gue, saat jatuh cinta, terlalu banyak hal yang harus gue pikirkan beribu kali. Apa dia juga lesbi? Apa dia mau sama gue? sekalipun iya, apa dia berani hidup di sisi gue dan menentang masyarakat yang menghakimi?” suara Anya melemah dan menghilang, terkubur kenangan pahit dan sedih yang kini bergejolak dalam kepalanya.

“Eerr, dan disini gue mulai merasa bersalah karena sudah membebani lo dengan fase drama patah hati yang nggak keren ini, padahal masalah yang lo hadapi jauh lebih berat…” bisik Leo sembari kembali duduk.

“Ohh, finally! Otak lo balik, Yo!” desis Anya sinis, namun sembari tertawa. Ia meraih kepala Leo dan menjitaknya berkali-kali sebelum akhirnya memeluk sahabatnya itu. “Dude, please… Lo itu baik, lo pantas mendapatkan orang yang lebih baik dan lebih mencintai lo dibanding Mila. Pastilah ada perempuan baik diluar sana yang sadar dirinya beruntung punya cowok hobi masak dan anak rumahan… Cukuplah Blowfish yang udah menandai gue sebagai orang brengsek gara-gara lo. Jangan ada lagi Blowfish-blowfish lain ya, bro…”

“Ahh, Anyaa… So sweet. Gue cium deh lo, sini sini.” Celetuk Leo sok imut.

“Ergh! Nah ini, udah balik sepenuhnya si jin ifrit!” gerutu Anya sembari melepaskan Leo. Ia menyambar tasnya dan berdiri, mulai merapikan kaos dan short pants-nya yang amburadul. “Nah! Gue balik ya. Nggak baik anak gadis bermalam di tempat laki-laki, apa kata orang nanti?”
“Wooo! Emang masih gadis?” sambar Leo, tergelak.

Shut up, dickhead!” sembur Anya galak. “Gue tinggal ya, Yo? Lo tidur ajalah sana, masih rada mabok kan? Jangan bunuh diri ya, kalau gue tinggal. Kalau emang udah gak tahan ingin meninggalkan dunia-tanpa-Mila kabari gue, biar mayat lo gue sumbangin ke peneliti. Jarang-jarang lho ada orang yang kuliah di Oxford tapi bego.”

“Aduh anak gadis ini bicaranya sadis sekali.” Kekeh Leo sembari menyeruput teh-nya. “Pulanglah. Dan makasih banyak ya, Nya. Thank you for standing by my side… Thank you for making me laugh tonight…”

Anya melempar senyuman, “No problemo. Cepat ‘sembuh’ ya, Yo. Biar weekend ini kita muter-muter Jakarta, nyari cewek seksi!” setelah memasukkan kakinya ke sandal jepit super-besar milik Leo, Anya membuka pintu dan melambaikan tangannya.

“Eh, Leo…” panggil Anya yang berbalik di pintu.

“Yep, my love?”

“Gue rasa gue salah. Cinta pastilah ada. Kalau tidak, penyair di seluruh dunia dan di berbagai masa nggak akan meributkannya sebegitu rupa. Gue rasa kita hanya belum menemukannya saat ini. Tapi asal percaya dan membuka hati, pastilah kita akan bersama dengan orang yang keberadaannya saja mampu menghapus segala luka di hati selama ini. Mungkin tidak se-sempurna yang kita inginkan, tapi selama rasa itu masih ada, kita pasti bisa menjadikannya lebih sempurna.” Lirih Anya.

Leo mengembangkan senyumannya yang paling lebar, “Iya, Nya… Pasti…”

Gadis itu melambaikan tangannya, sembari menutup pintu kamar apartement Leo dari luar. Di tempatnya, sembari menyendokkan sisa-sisa cream soup-nya, Leo menatap garis-garis pengantar senja yang kini mulai memenuhi angkasa lewat jendela. Setelah melewati masa-masa berat patah hati, kini ia bahkan tak bisa berhenti tersenyum.

Ya, cinta dan kebahagiaan itu pastilah ada… Dan hati yang patah saat ini-pun akan sembuh dan justru akan menjadi hati yang lebih kuat dan tegar untuk menopang cinta yang lebih luar biasa nantinya.

Pasti.

-The End-

1 komentar:

  1. Sejujurnya, dua bagian cerita kamu ini sangat mengintimidasi, dalam artian positif maksudnya... (*Secara kk juga pingin banget jago nulis). Mengintimidasi dalam artian, tulisan ini bagus, karakter detail dan dalam, percakapannya bagus, dan punya aliran yang sama dengan salah satu penulis kesukaan kk, Djaenar Maesa Ayu. Baca ini, kk jadi jiper ama tulisan sendiri. Hehehe...

    bagus, bagus, bagus... :)

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers