Andai Kau Tak Datang, Pagi



Selamat datang, pagi.

Hari ini apa yang kau bawa untuk menyapaku? Ah.. biasanya, selimut embun segar dengan rasa tipis awan lembut? Namun mengapa kali ini kamu membawa hujan badai bersamamu, pagi?

Tidakkah malam tadi cukup menyiksaku wahai, pagi?

Ya, perasaan yang bergolak di relung ini kedengarannya begitu ambivalen, pagi. Aku mencintai malam karena ialah yang mampu memelukku erat dan menutup mataku dari kelelahan yang dibawa siang. Namun aku membenci malam karena ia adalah yang terjahil diantara kalian dan begitu senang membisikiku gambaran tak jelas yang kerap mengerikan mengenai hal-hal.

Malam hari ini juga membisiku sesuatu yang tak kuinginkan, pagi. lalu kau pun menambahi. Itu sebabnya mataku sembab lagi saat menyapamu kali ini.


Karena peristirahatanku sudah cukup resah, wahai pagi.

Mata yang terpejam tak mampu mengistirahatkan tanda tanya dan keresahan diri. Dalam benak yang dipenuhi tekanan dan desir resah, aku kerap terbangun untuk mengeluarkan sepersekian jerit. Melarikan diri hanya cara untuk menjeratkan diri. Begitu burukkah yang aku alami hingga kedamaianpun menolak bersahabat denganku?

Kadang aku tak mampu mengenali batas benar dan salah. Kadang perasaan yang menggelora menutup penilaianku akan pantas dan tidak. Aku diperlakukan dan aku menyilakan. Aku sadar saat melawan arus kencang yang mencoba menghantamku hingga ke dasar, aku hanya mampu terus berada di permukaan—setelah sadar bahwa berusaha berenang balik hingga kehabisan daya berarti kematian.

Siapalah aku selain perempuan yang dikuasai jeratan bernama perasaan hingga akal-pun sudah tak sudi dikenakan?

Dan lagi kali ini kau datang membawakan sesuatu yang tak kusangka-sangka hingga lukanya tak mampu diantisipasi.

Aku berdoa kepada-Nya, pagi. Dan dalam setiap doaku akan kupastikan  namanya ada disana.

Sederhana. Betapa aku berharap semua ini akan mampu berjalan lebih mudah. Namun terkadang Dia Yang Maha Perkasa suka menguji daya tahanku atas semua. Karena aku berkata aku akan menempuh jalan ini tanpa kusesali, Ia-pun mencoba membuatku mengakui kegagalan diri.

Gagalkah aku, wahai pagi?

Aku seperti seutas layangan yang mencoba menerka dari mana arah angin selanjutnya akan bertiup. Terkadang benar, selalunya salah. Dan aku terkaget-kaget mendapati amukan murka yang dihembuskan entah dari mana. Mencoba mengerti, hanya saja aku tak bisa. Mencoba melawan, aku dihempas. Menurut pasrah, aku diterbangkan entah dimana.

Apakah aku harus berubah menjadi angin juga agar dapat mengenal dirinya, pagi?

Apakah harus kutinggalkan atribut keindahanku untuk menjadi sesuatu yang tak kukenal, pagi? Apakah jika aku berubah menjadi angin, ini akan lebih mudah untuk kujalani? Akankah aku bahagia lebih dari saat ini? Atau justru akan datang lagi keresahan-keresahan baru yang menampik kesabaran diri?

Ah, pagi, andai kau tak datang hari ini...

0 komentar:

Post a Comment

Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers