Melengkapi Dengan Perbedaan


Tuhan menciptakan perbedaan agar melodi-melodi yang berbeda itu mampu menyatu dalam suatu kesatuan harmoni yang indah—bukan agar mereka mengalun sendiri-sendiri.

Pernah nggak sih, lo mempertanyakan mengapa laki-laki dan perempuan diciptakan begitu berbeda hingga rasanya mereka tidak berasal dari spesies yang sama?

Lalu mengapa juga perempuan dan laki-laki diciptakan untuk bersama jika mereka luar binasa berbeda hingga rasanya luar biasa mereka masih mau tinggal dalam satu rumah, membuat anak, dan menghabiskan sisa hidupnya bersama?

Jawabannya ya karena itu > selain diciptakan untuk saling melengkapi, perbedaan ini juga mampu menciptakan keteraturan dan keseimbangan jika dimanfaatkan dan disadari benar.

Gue dan pasangan memang luar binasa berbeda. Sakin berbedanya, kita kerap bertengkar hanya karena satu sama lain tidak mampu mengerti “ini apa sih, yang sebenarnya jadi permasalahan?” wkwkwk. Namun seiring waktu, kita sadar bahwa perbedaan itu bukanlah hal yang harus diperangi. Karena sebenarnya dalam begitu perbedaan yang banyak diantara kita, tersembunyi sebuah keuntungan jika kami mau bekerja sama!

Berikut perbedaan, sekaligus peran berbeda antara gue dan pasangan;

Si Pencari Parkiran

Entah mengapa, walau dalam buku yang gue baca seharusnya laki-lakilah yang punya kemampuan ruang yang lebih baik—kemampuan navigasi gue terbukti dan sudah bergaransi, lebih baik dari si Kaki Panjang.

Setiap kali kami ke suatu tempat, maka biasanya gue yang akan memegang dompet, hape, kunci kendaraan, stnk, hingga karcis masuk. Kenapa? Karena si Kaki Panjang nyaris selalu kehilangan benda-benda tersebut, atau lupa menaruhnya dimana. Sementara gue biasanya selalu meletakkan barang di tempat-tempat yang sama hingga lebih mudah mengambilnya.

Gue juga yang biasanya lebih ingat dimana mobil/motor kami diletakkan. Entah kenapa dalam otak gue, letak kendaraan itu seperti sebuah peta ber-GPS yang memudahkan gue menentukan arah. Sementara si Kaki Panjang? Seringnya bingung dan bertanya “mobilnya dimana sih?” wkwkwk.

Kita juga sering bertengkar kecil soal bangunan, arah, dan jalan. Gue yang sudah merantau sejak kecil terbiasa menghafal rute jalan dan tempat-tempat yang gue lewati (karena gue BENCI tersesat). Sering kita taruhan mengenai siapa yang benar soal bangunan, arah, dan jalan ini. Dan seringnya, gue menang! ;p

Si Penghitung

Sebut saja gue tidak kebagian gen matimatika dari si emak yang notabene dosen matimatika. Sementara si Kaki Panjang, sekalipun dia bukan anak emak gue, kemampuan matimatikanya yahud.

Nggak heran sih, cowok memang rata-rata memiliki kemampuan matematika dan sains yang lebih bagus dari cewek (<justifikasi abis. Wkwkwk)

Gue sangat bodoh dalam berhitung hingga setiap kali membeli barang atau makan di luar, saat si penjual menghitungi barang atau pesanan, gue merasa dia seperti tengah berbicara dalam bahasa asing. Disinilah si Kaki Panjang menunjukkan kebolehannya dengan memeriksa si penjual berkata benar atau tidak. Sementara gue? Seringnya pasrah ;p

Si Pelupa

-____- haruskah gue jelaskan (lagi) tentang ingatan gue yang seperti panci bocor?

Gue mungkin mampu mengingat sesuatu yang bagi gue sangat berharga, atau sesuatu yang baru terjadi, tapi kebanyakan dari kisah kami sebelum-pacaran, gue kerap-lupa -,-

Saat itulah biasanya si Kaki Panjang mengingatkan gue tentang kenangan manis kami sebelum-pacaran, seperti saat dia mencabut uban gue di tengah pelajaran hingga ditegur guru (-,- what a live), atau saat gue memberinya pensil padi dari Jepang (gue murni gak ingat).

si Kaki Panjang juga sangat sabar menghadapi gue yang sering menanyakan sesuatu yang sudah pernah ia beritahu. :’) gue sangat sering menanyakan sesuatu berulang-ulang. Bukan karena gue iseng, tapi gue sungguh-sangat-lupa!

Si Visual dan Si Audio

Dulu, saat kami masih sekelas, setiap kali mau ujian si Kaki Panjang yang saat itu masih calon-pacar sering mendatangi gue yang tengah berusaha menghafal materi. Dia akan duduk di depan atau di samping gue dengan tampang ada-maunya lalu berkata “Ci, ceritain yang udah kamu hafal!”.

Gue sebenarnya juga terbantu. Karena saat menjelaskan, sebenarnya gue dibantu untuk kembali mengingat materi. Sementara si Kaki Panjang, ia terbantu karena ia sebenarnya bukan tipe pelajar yang membaca, tapi mendengar.

Gue tidak akan ‘nyambung’ jika diomeli dengan materi. Namun saat membaca slide demi slide, catatan demi catatan, lalu mengucapkannya kembali, gue bisa hafal. Kebalikannya dengan si Kaki Panjang (atau calon-pacar ;p) dia akan mengantuk di lembar slide kedua atau ketiga, namun bisa langsung menguasai begitu mendengarkan seseorang ‘mendongeng’ tentang materinya.

Tapi sebalnya, walaupun si Kaki Panjang ‘hanya’ belajar dari ‘dongengan’ gue di pagi hari itu, biasanya nilainya akan lebih bagus dari gue -,-

Lucunya lagi, karena mata gue yang soak, gue terkadang tidak mampu melihat tulisan di papan tulis. Saat itulah si calon-pacar akan membantu mencatatkan materi yang ada di papan. Gue sih santai saja ‘memanfaatkan’ bantuan yang ia berikan, toh kami memang akan bermutualisme saat ujian nanti. Dia mencatat materi, gue menguasai materi, mengucapkannya, dan ia mendengarkan.

Sebenarnya jika dipikir-pikir kami pasangan-belajar yang baik yah. Sayang, waktu itu sama sekali tidak ada pikiran untuk berpacaran. Wkwkwk ;p

Si Panikan

si Kaki Panjang memiliki kemiripan dengan my papa. Saat panik, tindakan dan ucapan menjadi tidak terkontrol. Tidak mampu berpikir dan muncul gejala rada-histeris. Sementara gue, semakin panik justru semakin tenang, berpikir cepat, dan bertindak cepat.

Pernah si Kaki Panjang mendapat masalah. Gue yang berada di belahan dunia yang berbeda pun hanya mampu menghubunginya lewat handphone. Dan lewat handphone itulah gue berusaha menenangkannya, berusaha memberinya gambaran masalah, kemungkinan jalan keluar, hingga masukan bagaimana ia harus bersikap menghadapi masalah itu—walau sebenarnya gue sama paniknya!

Gue tahu gue panik, gue marah, dan wajar saja kalau gue justru teriak-teriak menyalahkan si Kaki Panjang. Wajar saja jika gue ikutan histeris.

Tapi gue tahu, si Kaki Panjang tengah panik, dan kita berdua jauh lebih membutuhkan jalan keluar daripada mengumbar emosi. Jadi gue tekan segala emosi itu, dan gue bimbing si Kaki Panjang yang panik untuk perlahan-lahan melakukan tindakan yang tepat.

Syukurlah, masalah itupun berlalu dengan baik-baik saja.


Begitulah kira-kira beberapa perbedaan antara gue dan si Kaki Panjang yang jika dipikir-pikir sebenarnya justru peluang kekuatan hubungan kami. Perbedaan itu sebenarnya bisa membuat kami saling membutuhkan dan mencari—bukan hanya terus beradu pendapat atas sesuatu.

Saat menyadari itu semualah gue jadi berpikir, dulu banyak lho, yang menyatakan kami ini tidak pantas sebagai pasangan—karena perbedaan yang begitu mencolok. Tapi setelah gue pertimbangkan dengan baik, kami justru bisa memanfaatkannya, walau harus belajar keras untuk memaklumi dan mengerti setiap sudut berbeda itu. Hingga pada satu titik nanti gue akan menyadari betapa besar arti si Kaki Panjang dan perbedaannya bagi gue dan kehidupan gue itu sendiri!

Hihihi ^^

5 komentar:

  1. @nandi: reaksinya gitu doang gyaaaaa #gigit hahaha
    @danang: nimbrung bayar, pisang!

    ReplyDelete
  2. kalo perbedaan itu malah jadi bahan bertengkar gmna??

    ReplyDelete
  3. justru itu :) org sering memandang perbedaan sebagai suatu hal yang harus 'dibasmi'. semua2 maunya sama. padahal Tuhan saja menciptakan kita berbeda,kenapa harus disama2in? kalau memang berbeda, ya terima. kalau ga mau terima ya pacaran aja sama diri sendiri, sana. hanya saja ya harus tetap sopan berpendapat, mendengarkan pendapat si dia sama berharganya dgan pendapat kita. dan yang dicari bukan 'siapa yang menang' tapi 'keputusan terbijak' dari kedua pihak. jadi jangan memandang diskusi itu sebagai pertengkaran, atau perdebatan. soalnya ya bakal sensi terus. sadari kalau perbedaan itu nyata, dan utamakan tujuan kalian sebagai proses,bukan akhir.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers