Yang Dipilih dan Yang Ditinggalkan



Aku membencimu?

Sudah pasti iya.

Sebagai orang yang memiliki harga diri tinggi, keberadaanmu sempat mencoreng keras wajahku. Aku tak pernah menyukai sesuatu yang juga dimiliki orang lain. Aku menyukai perbedaanku sendiri. Itu sebabnya saat tahu aku dimiliki oleh seseorang yang juga tengah kau miliki, aku merasa begitu tersakiti dan seakan direndahkan.

Tertampar pedih di wajah, diiris dalam di hati, dan sekuat apapun aku mencoba menertawakan ‘hubungan aku dan kamu’, aku selalu gagal menahan tangis di saat tengah sendirian.

Ya, aku berpura-pura tertawa keras agar rintihan sakitnya tak terdengar siapa-siapa.

Aku sempat hancur karenamu, dan kamu juga sempat hancur karenaku.


Bukan ‘salah siapa’ atau ‘apanya yang salah’. Kita tahu ini bicara soal pilihan. Takdir kita ditentukan oleh langkah seseorang dan pilihan-pilihannya. Bisa saja saat itu kamu yang ada di posisiku, atau aku yang ada di posisimu. Saling tidak mengetahui satu sama lain, saling dicurangi.

Sedikit banyak sebenarnya kita saling mengerti satu sama lain, bukan?

Kamu perempuan yang ditinggalkannya, dan aku perempuan yang dipilihnya. Kamu menyaksikan perkembangan hubungan kami, aku dihantui masa lalu kalian. Kamu mencoba melupakan dan kembali berjalan, akupun mencoba melupakan dan kembali melanjutkan.

Sama, hanya saja kita menghadapinya dengan cara yang berbeda.

Lucu ya, bagaimana takdir mempertemukan kita, menjalin hubungan antara kita, lalu membatasi dunia kita dengan tabir yang tegas, serta menjembataninya dengan titian yang tak mungkin disebrangi?

Hahaha. Ahh, lagi-lagi aku tertawa sembari berusaha menahan tangis. Sakit, ya. Apa kamu masih merasakan sakitnya? Kita begitu pintar berpura-pura, dan aku tahu betapa kamu juga memainkan topeng peran ‘perempuan kuat’ yang sama.

Kita terkesan sama? Tidak, kita justru begitu berbeda hingga sulit disamakan. Aku sering berharap agar kamu tak pernah ada. Aku cemburu. Sangat. Ada bagian dari diriku yang sesungguhnya tahu bahwa tipe perempuan seperti dirimulah yang berusaha dituju. Ada bagian dari diriku yang mengakui bahwa semakin keras aku berusaha melepaskan diri dari belitan namamu, aku hanya akan semakin cepat mati tenggelam.

Aah, aku lelah. Dan tengah bertanya-tanya apa kamu juga merasa lelah yang sama...

Lucunya aku pernah ada di posisimu. Sedikit lebih beruntung barangkali, tapi ya, sejenis itu. Harga diri yang runtuh saat tahu kita ‘orang yang ditinggalkan’. Dan ketakutan akan kesakitan setiap kali kita melihat lagi aktivitas orang itu saat di jejaring sosial. Fotonya dan pacar barunya, kemesraannya, kebahagiaannya yang seakan mengejek kepedihan kita.

Ya, aku tahu perasaanmu.

Tapi pernahkah kau berfikir bagaimana rasanya ada di tempatku? Setiap kali namamu disebut, ada luka lama juga yang kembali berdarah. Ingatan sekilas akan malam-malam yang kuhabiskan dengan menangis diam-diam. Menangisi harga diri sebagai ‘orang yang diduakan’, menangisi kekurangan diri, menangisi luka yang diharap akan sembuh secepatnya.

Mencoba kuat. Mencoba menghapusnya dengan tawa saat pagi menjelang.

Orang-orang di sekitarmu akan begitu hati-hati menyebut namaku. Tapi orang-orang di sekitarku tak pernah mengerti bahwa, sama sepertimu yang begitu membenci namaku, aku juga membenci namamu. Mereka menyebutmu dengan begitu mudah. Bercerita tentangmu dengan begitu gampang.

Dan aku harus menggigit bibir untuk menahan sesak di dada setiap kali mengingat semua kesakitan itu, sembari tetap tertawa seakan memang tak pernah ada luka.

Aku lelah dengan keberadaanmu.

Aku benci dengan ingatan dan kesakitan yang kau bawa.

Aku belum kuat, dan entah kapan akan siap—tertawa tulus dengan semuanya, memanggilmu tanpa beban. Kita seharusnya memang tak saling menyentuh. Kita seharusnya memang saling berjauhan. Karena itulah jangan lagi muncul. Jangan lagi bangkitkan kenangan yang membuatku ingin menjeritkan gunungan emosi yang sudah aku tenggelamkan.

Pergilah. Biarkan dunia kita tetap dibatasi tabir yang tegas. Jangan biarkan angin sekeras apapun menggoyangkannya. Pergilah. Cari kebahagiaanmu sendiri dan tinggalkan kami dengan kebahagiaan kami sendiri.

Maaf ya, tapi aku tahu aku akan selalu membencimu.

2 komentar:

  1. walah, aku juga ga tau e nang, kamu kenal apa nggak. hahaha.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers