Cost-and-Benefit Relationship

sumber gambar disini

“Kenapa lo mau sih sama dia? dia kan brengsek!”

“lo bego ya? Udah dibohongin, masih aja mau sama dia!”

Kalimat diatas gue rasa cukup sering didengar oleh lo yang (mungkin) not-so-happy dengan pasangan lo atau yaaaa.. happy sih, cuma ya tetap aja pasangan lo punya seabrek sifat jelek.

Kemudian jawaban “ya namanya juga udah cinta.” Mungkin kerap lo suarakan sebagai balasan dari berbagai pertanyaan miring soal keputusan lo untuk tetap menjalin hubungan dengan orang yang sama.

Jawaban paling klise dan mungkin paling njiji’i. tapi yah, kemudian nggak perlu repot-repot menjelaskan lebih panjang. “Cinta”. Udah, cukup itu saja. Kemudian biasanya orang yang lo ajak bicara kalau nggak memilih mendecak, ngatain lo bego, atau menceramahi lo soal move on.

Tapi sebenarnya angka orang-orang ‘bego’ ini cukup fantastis lho, khususnya dari kaum hawa. Yah bilang aja udah dibohongin, diselingkuhin, bahkan dapat perlakuan kasar alias kekerasan – tapi kok ya masih mau sih sama orang itu?


Jawaban ilmiahnya sih biasanya dijelaskan dengan ‘ketergantungan’. Si korban (atau sebut saja pihak yang lebih apes dari pihak satunya) merasa sudah ‘nggak bisa lepas’ dari pelakunya. Ngerasa si pelaku adalah the only one dalam hidupnya. Sudah ‘kadung cinta’ sampai merasa mustahil berpindah hati. Atau memiliki seabrek harapan ‘dia pasti berubah suatu saat nanti’ aaargh, bullshit!

Yah kalo udah begini mah susah untuk meyakinkan korban untuk move on.

Tapi, ternyata ‘keterikatan ekstrem’ ini bukan satu-satunya alasan lho. Pengalaman gue sebagai tempat-curhat kemudian membuat gue sadar bahwa kini ada beberapa ‘fenomena’ baru atau alasan baru mengapa seseorang masih mau bertahan dalam hubungan yang ‘sulit’.

Jadi nggak semua orang (terutama cewe) yang bertahan di hubungan 'sulit' dengan orang yang 'brengsek' itu bodoh atau murahan lho, karena ternyata ada juga keputusan yang lahir dari pemikiran realistis berikut ini:

COST AND BENEFIT RELATIONSHIP

“Gue sadar dia brengsek, tapi kalau gue mengkalkulasikan kebrengsekan dia dan potensi ‘baik’ yang bisa gue dapatkan dari dia, maka sebenarnya ya gue tetap bahagia. Sayang kalo 'dilepas', soalnya sekalipun gue ketemu yang ga brengsek, belum tentu juga dia se-'oke' cowo gue ini.”

Memang sih, si doi brengsek. Suka bohong soal jadwal, bahkan main hati dengan cewek yang gak lebih oke dari lo.

Tapi kemudian duitnya buannyak, rek. Atau dia cowo yang super-ekstra perhatian (yang bahkan walau kasih sayangnya terbagi sama cewe lain, lo tetap merasa masih berkecukupan). Atau lo merasakan kepuasan dan kenyamanan emosional  yang luar biasa dengan doi.

Hingga pada akhirnya, lo merasa kesakitan yang dia beri setara (atau bahkan kurang) dari kebahagiaan yang lo dapatkan dari doi.

Lo berpikir secara logis bahwa dalam hubungan ini kemudian, ada sistem untung-rugi. Dimana lo menjalani hubungan yang ‘nggak sehat’ itu bukan karena embel-embel cinta semata, namun karena lo menyadari bahwa se-rugi-ruginya lo, pada akhirnya lo masih untung besar karena ‘benefit’ lo masih jauh lebih besar dari ‘cost’ yang lo rasakan.

Karena ya well, ini hidup bro. Ga ada yang selalu-indah atau seluar biasa bayangan lo. kalo lo mengejar 'hubungan sempurna' mah lo bakal jomblo terus -__-

MISSION ACCOMPLISHED!

“Gue hanya nggak mau menyesal karena nggak pernah memberi dia kesempatan untuk berubah. Kalau gue putusin sekarang, gue akan bertanya-tanya ‘gimana kalo dia memang niat berubah?’. Dan gue sendiri sadar mungkin gue memang belum melakukan yang terbaik. Itu sebabnya, gue mau memberi kesempatan sekali lagi. Seenggaknya kalo kemudian putus, gue tau gue udah memberi dia kesempatan dan sudah melakukan yang terbaik.”

Kenapa gue tidak mencoba berjuang? Kenapa gue tidak berusaha dulu sebelum menyerah? Apa memang ini semua kesalahan gue? bagaimana kalau ternyata dia memang ingin berubah?

Terkadang move on terasa sulit saat kita justru memiliki ‘penyesalan’. Maksud gue, kalau lo udah tau bahwa diri lo udah berjuang secara maksimal dan perjuangan itu ‘tidak dibalas’, lo bisa bilang “Toh gue sudah berusaha, tapi dia emang brengsek. Ya sudah.” 

Udah. Lebih gampang move on. daripada lo menyerah terlalu cepat, pasti nanti akan muncul pertanyaan penuh sesal seperti diatas sana. Ujung-ujungnya ya jadi susah move on.

Tapi jangan samakan alasan ini dengan “Aduuh, gue percaya dia pasti nanti berubah.” ya! Beda soalnya. 

Kalau ‘dia-pasti-berubah’, biasanya lo disakiti berkali-kalipun keukeh memaafkan tanpa make logika. Ini mah namanya ‘buta’. Dan agak bodoh, karena nyaris dalam banyak kasus, orang yang begini ga akan pernah berubah kecuali si korban meninggalkannya atau hahaha, ngebunuh si pelaku.

Tapi orang yang mengemukakan alasan ‘gue-ingin-memberi-kesempatan-pada-dia-dan-diri-gue’ itu (sebenarnya) berjuang untuk dirinya sendiri. Bukan untuk si pelaku. Dia memaafkan pelaku dan berjuang melakukan yang terbaik karena ga ingin mengecewakan diri sendiri. 

Dan dia tahu, saat nanti dirinya merasa ‘oke-gue-udah-cukup-berusaha’ dan si pelaku masih ‘terus-menyia-nyiakan’ maka ia akan meninggalkan si pelaku dengan hati yang mantap dan tenang.

Aliasnya, mission accomplished deh! Toh pertimbangannya disini agar tidak ada penyesalan (bagi diri sendiri) dan ketika alasannya sudah cukup, ya dia pergi. tapi ya sukur-sukur kan, kalo ternyata pelaku berubah beneran? :p

IT’S ALL ABOUT REVENGE

“Gue bertahan karena sebenarnya gue lagi nyiapin rencana balas dendam. Gue ingin ngebuat dia ‘lega’ karena mengira gue memaafkan. Tapi nanti, setelah dia kembali bahagia dan mengendurkan pertahannya, baru gue balas dia perlahan-lahan sampai gue puas!”

Sebagai anak kriminologi kemudian gue tahu, bahwa sebagian besar perempuan yang dihukum karena pembunuhan – korbannya adalah pasangannya (pacar, suami, dsb) dan diakibatkan oleh kekerasan yang dilakukan oleh si korban pada perempuan yang menjadi pelaku. Si perempuan dipukuli terus, diselingkuhi, diperas secara ekonomi, dijadikan budak seks, and so on – hingga pada akhirnya ia ‘terpaksa’ menyelamatkan hidupnya dengan membalas dendam daaan mengambil nyawa orang yang sudah menyia-nyiakan dia.

Maka takutlah pada pembalasan dendam perempuan *menggigil*

Salah satu klien curhat gue akhirnya nggak memutuskan pacarnya yang super brengsek. Doski bahkan akhirnya berteman secara diam-diam dengan selingkuhan pacarnya, lalu menyusun rencana balas dendam yang indah. Doski dan selingkuhan pacarnya mengumpulkan banyak bukti kebrengsekan si pacar selama berbulan-bulan, dan berencana akan ‘membuka’ segalanya akhir bulan ini tepat di pesta surprise si pacar. Sudah pasti, bukti-bukti berikut akan segera beredar di youtube, facebook, dan kaskus juga barangkali.

Siapa bilang orang sabar selalu tertindas? Hahahaha. 

Masalahnya, kalau cowo lo selingkuh trus lo putusin begitu aja ya seneng doi, bisa cepet-cepet cari yang lain. Tapi kalo lo ‘maafkan’ dan justru bersikap lebih baik dan mesra? Doi akan lebih jatuh cinta kan? Nah disaat itulah baru lo balas dia pelan-pelan

Seems legit, right? ;p 

Itulah sebabnya, para cowo-cowo sekalian. Berhati-hatilah dengan perempuan yang marah. Apalagi perempuan yang seharusnya punya banyak alasan untuk marah, namun justru ‘mudah memaafkan’. 

Jangan bangga kalau lo selingkuh lalu kami terlihat seakan tidak tahu apa-apa. Jangan bangga kalau kami terkesan percaya dan menelan mentah-mentah kebohongan anda. BOYS, KAMI TAHU. Tapi kami mungkin memilih pembalasan yang lebih brilliant dari sekedar marah-marah :) 

Karena kami mampu berbohong lebih baik dan lebih rapi dari anda. Dan kami tahu, dalam membalas dendam, bukan hanya hati anda yang harus kami incar, namun juga harga diri anda sebagai lelaki.

8 komentar:

  1. Pandangan yang realiatis. I like it.

    ReplyDelete
  2. Hahaha.. Endingnya mantep ye

    Tapi keputusan-keputusan ini ada kemungkinan dilakukan sama cowok juga lo.. Dalam kasus yang sebaliknya, tau kalo ceweknya selingkuh tapi dia bertahan.. hehe

    ReplyDelete
  3. gue bnget -__- klo kita berbicara tentang rasa/cinta.... Pikiran mah gak jalan...

    ReplyDelete
  4. membaca tulisan yang terakhir tentang balas dendam..saya jadi ngeri membayangkan..apakah memang bisa membalas dendam atau bakalan terperosok lebih jauh kedalam kebersamaan dengan sosok yang akan jadi sasaran balas dendamnya...btw-tak ada manusia yang sempurna,,namun dalam memilih berhubungan dengan orang lain...apabila semuanya berprilaku buruk,,,maka tentu ada yang terbaik diantara mereka ,,,,salam hangat dari Makassar :-)

    ReplyDelete
  5. @kiky: hahahaha maachiii :-*

    @eysurbakti: bener bangeet ^^ itu narasumber gue juga ada yg ccowo kok hehehe

    @putra: makanya, tergantung kita maunya ikut yg mana ya ga ;)

    @wisnu: yoyoy ^^

    @hariyanto: bener banget mas, wah suka deh sama analisisnya. memang ada kemungkinan justru 'jatuh lebih dalam' sih.

    ReplyDelete
  6. aduh gimana ya mau komen bingung juga nih, klo uda cinta buta trs kecewa akhirnya ngeri ui hehhe

    Mampir kesini ya, salam kenal Peta Indonesia Karya Anak Negeri

    ReplyDelete
  7. Setuju sih, walau udh pcrn bertahun", cweknya diem aja klo disakitin pdhl hatinya udh kena pnyakit hati tingkat dewa, ada saatnya meledak langsung deh bilang SELAMA KITA PACARAN AKU SAKIT HATI KALO AKU GAK SAYANG KAMU DARI DULU AKU UDAH PUTUSIN KAMU (si cwok cuma bisa diem mungkin sambil menetaskan air mata dan dlm hatinya berkata sialan klo tau ngapain pacaran lama")

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers