Aku Bukan Lesbian, Ibu, Aku Pecinta...


Aku tahu. Kalau aku mati, aku pasti akan masuk ke neraka. simple saja. Orang yang masuk neraka pastilah berdosa. Dan dosaku sangat amat besar. Jadi mungkin neraka yang akan kumasuki neraka yang setimpal itu.
Namun sekalipun aku tahu ini salah, bukannya aku tidak mencoba atau benar-benar berusaha… Hanya saja menutup telinga dari suara hati jauh lebih susah daripada suara-suara sumbang itu.
Aku berdosa besar. Karena aku pecinta sesama jenis.

Menjijikan ya? Aku juga berpikir seperti itu. Bukannya aku tak risih saat teman-teman kuliahku sudah menyusun perencanaan matang soal bekerja dan menikah. Yah, aku juga berpikir soal itu. Tapi aku berpikir soal ‘menikah dengan Ciara’.
Ciara ‘hanya’ seorang cewek cantik dengan tawa kecil mirip kicau burung. Ia popular di kampus, begitu juga pacarnya yang datang ke kampus dengan BMW mengkilat. Namun ia menganggap aku yang bukan siapa-siapa ini, aku yang pendosa ini, sebagai ‘soulmate’nya.
Yah okelah. Dia boleh menyebutku apa saja. Hanya saja aku lebih senang jika bisa memanggilnya ‘pacarku’ seperti cowok itu memanggilnya.
Ya, ya.
Aku tahu… aku pasti akan masuk neraka setelah mati nanti…
Aku hanya (oke, memang terdengar seperti pembelaan) tidak tahu dari mana rasa ini berasal. Seperti halnya mereka atau kamu yang memiliki rasa tertarik pada lawan jenismu. Well, aku juga. Hanya saja aku tertarik pada sesama jenis.
Bagiku, Adam hanyalah makhluk ciptaan Tuhan yang gagal. Makhluk coba-coba karena kesempurnaan yang sesungguhnya telah Tuhan wujudkan dalam Hawa. Tuhan menyempurnakan Adam dalam Hawa. Jadi kenapa Tuhan tidak meniadakan saja makhluk gagal itu? Untuk apa ada makhluk yang tak sempurna jika ia sudah menciptakan makhluk terindah?
Bukan. Bukan pendidikanku yang salah. Bukan orangtuaku juga yang salah hingga aku bisa berfikir seperti itu.
 “Kamu itu cantik, nduk… Masa belum ada cowok di kampusmu yang melirik kamu?” adalah pertanyaan favorit ibuku. Biasanya ia mengatakan ini saat aku tengah menghidangkan teh padanya yang tengah sibuk menjahit, setelah aku duduk di sofa dan melayangkan pandangan kearah jalan berdebu di depan rumah.
Aku benci pertanyaan ini.
Namun aku lebih benci lagi jika harus membalas tatapan ibuku yang penuh harap, lalu harus menggumamkan dusta seperti ‘aku kurang cantik’ atau ‘masih belum tertarik’. Rasanya kebohongan itu selalu bisa diendus ibuku.
Aku tidak tertarik dengan makhluk berjakun tanpa dada yang baunya menyengat itu. Belum lagi kulit mereka kasar dan oh ya, suara mereka yang serak seperti okestra gagal.
Oh. Itu salahku untuk tidak berkata jujur? Memangnya kamu seorang anak dengan ibu yang sakit-sakitan dan memaksa diri bekerja dengan menjahit baju? Memangnya kamu seorang anak yang terlahir dari ayah seorang narapidana yang divonis mati karena kasus sodomi terhadap belasan bocah lelaki?
Jangan adili aku karena kau tak tahu apapun soal hidup yang menghancurkan kehidupanku!
Aku tahu kau pasti pernah merasakan sakit hati saat orang yang kau cintai memeluk orang lain—seseorang yang kau tahu tak lebih baik darimu, yah, kecuali kenyataan bahwa dia laki-laki! Itulah yang aku rasakan setiap cowok BMW itu memeluk Ciara.
Sesakit itu. Seperih itu.
Bukankah aku yang mendengarkan curhatan dan keluh kesahnya setiap hari? Mengelus rambutnya dan terkadang mencuri kesempatan untuk memeluknya? Bukankah aku yang paling mengerti baju apa yang paling cocok dikenakannya? Orang yang tahu padanan make-up nya? Lalu KENAPA dia memilih cowok BMW itu daripada aku?
Yah..
Tentu saja. Cowok BMW itu laki-laki. Dan aku… Aku perempuan… dan perempuan ditakdirkan untuk melengkapi makhluk ciptaan yang gagal itu… dua kesempurnaan tak akan bisa memadu harmoni indah dengan baik. Terlalu menyilaukan.
Hanya saja, sekalipun aku tahu, tetap saja berat.
Rasanya seperti ada dalam tubuh yang tidak pas. Rasanya seperti gatal-gatal hebat yang tak tahu ada dimana. Aku mencoba menuangkannya dalam lembar-lembar Diary itu, berharap dapat memperoleh sedikit ketenangan jiwa, namun yang kudapat hanyalah isak tangis ibuku di suatu senja.
Ya, dia membaca diary itu.
Ya, kini dia tahu aku menyukai sesama jenis.
“Kamu lesbian…” isaknya berat, dengan nafas yang berbunyi. “Hina.. Hina.. seperti ayahmu.. sungguh hina…” jeritnya tanpa suara, jatuh ke lantai. “Ibu gagal mendidikmu… Oh Gusti, apa salahkuuu?”
Ibu, ibu, aku bukan lesbian ibu, aku hanya pecinta.
Aku pecinta yang jatuh cinta pada bunga-bunga yang tak pantas ia hirup. Aku pecinta yang memerankan tokoh yang salah dalam kostum yang salah pada drama yang salah. Aku pecinta yang tak punya cinta yang cukup layak untuk mencinta, ibu.
Hanya saja ibuku tak mendengar.
Kepalanya penuh dengan kata ‘L’ itu hingga ia tak pernah mau mendengar penjelasanku. Kepalanya penuh dengan jeritan ketidakberdayaan dan kekecewaan hingga matanya kehilangan cahayanya. Ibuku tak pernah pulih, dan ia terus mengucapkan kata ‘L’ itu sembari meratap menatapku.
Aku tahu… Sangat tahu… Jika mati nanti, aku akan masuk Neraka. Karena saat malaikat bertanya apa aku ini lesbian atau bukan, aku dituduh berbohong saat kujawab ‘bukan’…
Karena aku memang bukan Lesbian… Aku hanya Pecinta…

1 komentar:

Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers