Dia yang Telah Mati



Sentuhannya tak lagi terasa di kulit telanjangku.

Hanya lewat seperti angin yang tak pernah bertiup, yang tak akan meninggalkan jejak. Mungkin karena memang tidak ada dan tak pernah terjadi.

Sembari menghitungi satu persatu nafas berat, aku menatapnya, dan ia memang balas menatap. Bola mata cokelat yang penuh berisi permohonan maaf. Bola mata yang penuh berisi kesedihan. Dan mungkin bola mataku sendiri terpantul disana. Namun kosong.

Padahal dialah yang mati dan meninggalkan aku.

Dan aku hidup, bernafas, memandangi peninggalannya yang ada dan tiada, berusaha menahan jerit yang menyesakkan hati.


Seperti apa rasanya, bisa melihat mereka yang seharusnya tak terlihat? Menyaksikan peninggalan dari orang-orang yang sudah tak ada. Dan seakan belum cukup, aku disini menyaksikan ruh dia yang merupakan sebagian dari diri.

Klise, sebenarnya. Kanker. Penyakit paling mematikan. Tiga bulan yang dihabiskan di atas pembaringan rumah sakit untuk kesia-siaan. Ia tetap pergi pada akhirnya. Dan aku disana, menyaksikan sesuatu yang luar biasa menariknya menjauh dari tubuh nyatanya yang mulai mendingin seiring waktu.

Ia dirampas di depan mataku.

Aku menghabiskan waktu untuk terdiam. Merasakan diriku sendiri ikut mati bersamanya. Duduk di tepi jendela tempat ia selalu memelukku di saat terang bulan purnama. Hanya untuk menyadari bahwa tak akan ada lagi pelukan dan tawa di tempat ini.

Lalu malam itu kesakitan lain untukku tiba. Melihat ia atau bukan dia datang, menyapa dengan senyuman pedih, namun tak akan pernah bisa bicara lagi.

Ia disana, namun tidak disana. Aku bisa melihatnya, namun entah apa yang kulihat itu benar ada atau tidak. Ia tidak meninggalkanku, itu kabar bagusnya, tapi di lain sisi ia meninggalkanku untuk mendapatkan sesuatu yang lebih buruk.

Aku dan dia menghabiskan waktu hanya untuk saling menatap. Tak ada kata terucap. Aku dan dia tak memiliki beban untuk dibicarakan. Kami sudah menyiapkan perpisahan itu. kami tahu perpisahan itu tak akan memisahkan apapun, apalagi cinta. Kami tak menyesali perpisahan singkat aku dan dia.

“Lalu kenapa kamu kembali, sayang?”

Ia tersenyum pedih. Tak bisa menjawab. Tak mampu menjelaskan.

“Kita telah berusaha menyelesaikan semuanya sebisanya. Kita telah memastikan semuanya akan baik-baik saja. Lalu apa yang ketinggalan sehingga kamu kembali?” aku tersenyum. Mengelus udara tempat seharusnya rambut lembutnya berada.

Ia memandang. Hanya begitu. Diam. Berbaring di tempat yang masih meninggalkan lekukan tubuhnya, aroma tubuhnya, keringat gairahnya. Semuanya masih disana—kecuali dirinya.

“Kamu ingin aku ikut? Begitu sepikah dalam pembaringanmu? Kamu tidak suka kegelapan, resahkah kamu disana hingga kamu kembali lagi kesini? Kamu suka terbangun di tengah malam dan mencari pelukanku. Apa kamu disana terbangun dan kembali karena tidak menemukanku? Kenapa, sayang? Kenapa kamu kembali?”

Ia menangis. Jakunnya bergerak tanpa suara dan air mata.

“Aku memaafkanmu, sayang. Aku mengikhlaskanmu.”

Dalam tidurku, kami berpelukan seperti selalunya. Ia tetap tak berbicara. Dan kami mengulangi masa-masa bahagia itu lagi. Pertemuan pertama, awal kisah cinta, pertengkaran nakal, tawa di pelaminan, dan malam-malam bersama. Semuanya melintas seakan nyata. Semuanya berulang seperti tak akan pernah berakhir.

Dan aku tahu. Bukan hanya aku yang tak siap ditinggal mati olehnya. Aku mengira kehidupannya berakhir dan begitu juga dengan milikku. Hanya saja ternyata ia sama tidak siapnya hingga mengirimkan apa yang tersisa darinya untuk kembali padaku. Untuk selalu kembali dan kembali walau telah dipisahkan sesuatu yang tak mungkin dipungkiri.

“Kamu tidak bisa tinggal.”

Aku menangis.

“Biarkan kerinduan itu mengobati kehilanganmu. Kembalilah ke sana, dan tolong rencanakan upacara penyambutan yang indah untukku. Berdoalah untukku, awasilah aku selalu. Tertawalah bersamaku, kecup aku saat aku menangisimu. Karena kamu tahu aku akan berbuat hal yang sama tentangmu. Kamu tahu bahwa kehilanganmu tak akan tersembuhkan. Tapi bukannya tanpa akhir. Jika waktunya tiba, kamu akan tahu betapa cinta kita luar biasa.”

Ia memandangku. Lalu lenyap seperti udara hangat yang dihembuskan ke kegelapan malam.

Aku meraba bekas keberadaannya. Ia tak lagi disana, dan memang tak ada.

Aku mendengarkan detak jantungku.

Aku tersenyum. Itu dia. Aku menemukannya.

0 komentar:

Post a Comment

Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers