Malaikat Kecil, Sindrome Down, dan Angkot Pagi ini


Sebenarnya kejadiannya bukan hari ini sih. Lebih tepatnya kemarin pagi.

Intermezzo, saya merupakan pengguna setia kendaraan umum. Pecinta bumi? Berniat mengurangi polusi udara? Sayangnya bukan. Impian saya punya motor terbentur kendala sana-sini. Jadi ya itu, saya berusaha nyeneng-nyenengin diri dengan mengambil segala sisi positif yang bisa saya dapatkan di kendaraan umum—hal yang tidak akan saya dapatkan kalau saya punya motor sendiri.

Yah, sebodo dengan tukang angkot yang mantan pembalap F1, yang suka nyetir ngebut atau tancap gas dan ugal-ugalan. Sebodo dengan nge-tem yang bikin saya kayak baru mandi spa. Sebodo dengan bapak-bapak yang ngangkang lebar walau tau penumpang banyak. Sebodo dengan cowo genit yang ngira saya televisi. Sebodo dengan bau ketek. Sebodo dengan cewek yang teriak-teriak sama handphonenya seakan satu angkot penderita tunarungu.

Selalu ada yang seru. Yang bisa saya tertawakan. Yang bisa saya keselin.


Bertemu—bukan berinteraksi—dengan banyak orang tanpa mengenal. Melihat secuil dari bagian diri mereka pagi atau petang itu. si ibu dengan lipstick merah. Bapak-bapak kuyu dan lusuh. Si cewe cantik dengan baju dan BB mahal. Si cowok ganteng yang maskulin. Si ibu yang ngingetin saya akan si emak di rumah. Emak-emak pasar. Si bapak yang mukanya madesu. Si adik yang lucu dan menggemaskan. Si mbak yang pake tanktop berasa bule.

Saya nggak kenal mereka dan mereka bukan bagian dari hidup saya. Tapi untuk beberapa menit, kadang kami berbagi kisah atau bagian dari diri.

Ada pagi dimana saya mendapatkan pengalaman seru selain bengong menatap keluar jendela. Tapi ada juga pagi dimana saya hanya bengong melihat pemandangan yang sudah dilihat entah untuk berapa-ratus kalinya.

Tapi pagi ini istimewa.

Karena saya bertemu dua malaikat kecil di angkot saya.

Awalnya tidak ada yang istimewa. Saya jalan-cepat ke depan gang, masuk angkot yang ngetem di depan gang, dan duduk di depan pintu—spot favorit. Dalam angkot ada ibu-ibu betawi, dua mbak-mbak, seorang bapak, dan seorang ibu yang tengah memangku bocah lelaki dan memegangi tangan bocah perempuan berseragam SD. Tidak istimewa karena setiap pagi ini pemandangan yang sama. bocah-bocah yang berangkat sekolah. Ibu atau mbak yang mengantar mereka.

Hingga saat si bocah perempuan mengulurkan tangan untuk menciumi tangan seluruh penumpang dan si bocah lelaki mendecak-decakan lidahnya meniru ular.

Baru saat itulah saya benar-benar memerhatikan wajahnya. Kedua bocah itu memiliki struktur wajah dengan ciri-ciri yang pernah saya baca di buku Campbell (asek). Mata sipit, mulut kecil-lebar yang agak tidak wajar, hidung pesek, wajah yang terkesan ‘blenyek’, dan gigi yang tidak sempurna serta tidak lengkap.



Yah, penjelasan saya memang nggak mendeskripsikan dengan baik, tapi saya tahu ketika melihatnya, membandingkan dengan keterangan di halaman kitab suci Biologi itu, kalau dua bocah ini pengidap sindrom down.

Sindrom down sendiri diderita anak-anak di seluruh dunia dengan perbandingan 1 : 700. Cukup banyak, kan ya? Sindrom ini merujuk pada kelainan kromosom yang mengakibatkan kecacatan mental dan fisik. Tahu kan proses pembelahan sel saat zigot bertumbuh? Nah kromosomnya gagal membelah dengan sempurna sehingga perkembangannya terganggu. Penelitian juga menyatakan bahwa jika seorang ibu melahirkan seorang anak dengan sindrom down, maka kemungkinan untuk melahirkan anak dengan sindrom yang sama sangat besar.

Sepertinya itu yang terjadi.

Bocah perempuan jelas lebih tua dari si adik. Ibu mereka normal. Namun si ibu melahirkan dua anak pengidap syndrome down.

Dan ibu mereka tersenyum.

Ia tidak malu. Ia membalas setiap pandang orang terhadap dua anaknya. Ia tersenyum bangga saat anak perempuannya nyengir dengan wajah aneh dan menyalami setiap orang. Ia mengelus sayang ketika si anak lelaki menggapai-gapai kesetanan.

Dan yang lebih penting; ia menyekolahkan keduanya.

Itu benar-benar unyu moments di saat saya nyaris nangis saat meyaksikan itu.  dan sepertinya penumpang seangkot juga merasa hal yang sama. si mbak-mbak mencoba mengobrol dengan bahasa tarzan pada si anak perempuan. Ibu di samping saya mengelus kepala si bocah lelaki.

Si bocah perempuan tersenyum, tertawa, dan mencoba menceritakan sesuatu dengan bahasanya.

Ia sungguh luar biasa.

Dan ia jelas punya ibu yang luar biasa.

Mereka turun di sebuah gang yang kemungkinan besar menuju sekolah kedua bocah ini. Si ibu berkata dengan pelan, “ayo disalamin!” maka si anak perempuan menyalami setiap orang di angkot itu dengan sepenuh hati. Saat melihat saya, ia tersenyum lebar, tertawa senang, dan untuk pertama kali saya mendengar bahasa yang saya paham;

“Mbak. Cantik!” dan dia mengancungkan jempol ke arah saya.

Itu pujian yang membuat mata saya benar-benar basah. Bukan soal artinya. Bukan soal pujiannya. Tapi cara ia mengungkapkannya. Cara ia mengatakannya dengan susah payah namun sepenuh hati. Saat angkot melaju dan meninggalkan tiga orang itu di belakang, kepala saya dipenuhi berbagai hal yang hangat dan penuh rasa syukur.

Seumur hidup saya belum pernah membagi kebahagiaan sebanyak itu untuk orang di sekitar saya. Bocah-bocah itu kekurangan, tapi Tuhan memberinya kelebihan dalam kebaikan hati dan caranya menyentuh hati.

Ah.

Sungguh hanya beberapa menit yang berharga. Tapi rasanya mereka tak akan terlupakan. Dua malaikat yang saya temukan di belitan kusut rutinitas.

0 komentar:

Post a Comment

Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers