Anu Kakakku


Tangan ibu berlumuran darah bapak.

Merah.

Dimana-mana merah. Di batik baru ibu, di dinding kayu kamar itu, di seluruh permukaan dipan kak Dewi, lalu tumpah meruap, menetes ke atas lantai tanah.

Jeritan ibu merontokkan debu di atap rumah, dan serpihan debu itu jatuh ke dalam bola mata kak Dewi yang melotot keluar. Kakakku yang ayu itu sudah tak bernyawa, dengan keadaan setengah telanjang dan bekas tangan bapak di lehernya.


Kata orang, bapakku gila.

Kata orang, ibuku wanita yang suka dipanggil-panggil (entah apa maksudnya)

Mereka juga bilang, kak Dewi dan aku bukan anak bapakku.

Lah kalau dia bukan bapakku kenapa kami memanggilnya bapak? Kalau dia bukan bapakku lah terus bapakku siapa? Karena yang aku tahu, seperti teman-temanku yang punya bapak dan ibu, aku dan kak Dewi juga memiliki bapak dan ibu. Iya, tho?

Ya, bapak yang mati dihantam lesung padi ibu.

Ya, ibu yang menjerit saat melihat anak perempuannya terbujur kaku.

Dan itu. Ditambah seorang kakak, Kak Dewi yang tak memakai baju hingga memamerkan anu.

Saat ibu menghilang dan orang-orang kampung menemukan bapakku dan kak Dewi yang mulai membiru, mereka mulai melihatku dengan pandangan sendu. Ibu-ibu itu memelukku dengan tubuhnya yang gemuk, bukan seperti tubuh ibuku yang langsing lagi ayu. Namun dari tubuh mereka tercium harum masakan, mungkin gulai ayam kesukaanku, bukan seperti tubuh ibuku yang berbau harum wewangi dan bedak.

Aku kira ibu akan muncul saat bapak dan kak Dewi mulai dibungkusi kain putih dan ditanam di pekarangan rumah. Namun ibu tak kunjung muncul, dan pakaian ibu yang bagus-bagus hilang entah kemana dari lemari pakaian. Lalu orang kampung mulai sibuk berbisik-bisik melihatku.

Ada yang bilang, kasihan aku jika ditinggal sendirian tanpa ada yang mau merawat.

Ada yang bilang, anak wanita panggilan dan lelaki gila pasti membawa bencana.

Ada yang bilang, seharusnya ibuku membunuhku sekalian agar tak merepotkan orang.

Dan aku jadi bertambah bingung. Kenapa mereka harus merawatku kalau aku punya ibu? Mungkin bapak dan kak Dewi memang tak bisa keluar dari lubang itu, wong diatasnya ditimbun begitu. Tapi ibuku kan masih ada. Ibu memang sedang pergi. Tapi ia akan kembali, kan? Ia toh ibuku.

Tapi ibu tak kunjung kembali, dan dapur kami tak pernah mengepul lagi.

Seorang wanita gemuk dengan pipi bebercak merah besar tiba. Ia bilang ibuku punya hutang padanya. Jadi aku harus bekerja. Apa itu? Aku bertanya. Lihat saja nanti, nduk. Yang penting hutang ibumu lunas, dia bilang. Giginya besar sekali saat ia tersenyum.

Jadi kutinggalkan gubuk kami dengan bapak dan kak dewi di pekarangan. Menaiki kereta besi tanpa kuda, melintasi perkampungan yang tak pernah kulihat, dengan gubuk-gubuk batu yang tingginya seatap. Kami berhenti di depan gubuk-batu muram beratap hitam. Bau bapak ketika menindih kak Dewi tercium kuat. Mungkin disini juga ada bapak-bapak lain yang menindik kak Dewi yang lain. Bergoyang-goyang melenguh seperti kerbau.

Kamar barumu, nduk. Ia menunjuk bilik seluas kakus. Tidur disini, nduk. Besok kamu mandi. Aku bertanya mengapa harus mandi. Kalau kamu bau tak ada lelaki yang mau menyentuhmu. Jawabnya kesal. Ia memandangku seakan aku bodoh sekali.

Apa aku akan jadi kak Dewi? Tanyaku. Wanita gendut bercelak itu berbalik, memandang heran. Lah ya tentu. Mau jadi apalagi selain itu? Tampangmu toh cukup ayu, turunan ibumu. Jawabnya sekenanya.

Ia meninggalkanku setelah mematikan lampu. Hening. Sunyi sekali. Aku menajamkan telinga, biasanya ada kerik jangkrik jika malam begini. Yang suka kudengarkan sembari meneliti wajah si bulan lewat jendela bersama nyamuk. Tapi yang kudengar hanya derit dipan, lenguhan lelaki, namun tanpa jerit kesakitan seorang kak Dewi. Aku menajamkan telinga. Kak Dewi disini berteriak ah ah dan tertawa kegenitan.

Aku berbaring. Dipan yang ini tak sekeras milikku di gubuk. Namun tak ada wangi pandan samar-samar yang diselipkan ibu di bantalnya. Tak ada siulan angin dan nyanyian jangkrik sebagai teman tidurnya. Tak ada kak Dewi yang berbaring diam-diam di sampingku setelah itu semua, menangis diam-diam sembari mengelus pelan rambutku.

Dadaku panas terbakar. Mataku panas-panas basah. Sakitkah, kak? Pernah aku bertanya saat ia menangis. Sangat, jawabnya. Gak papa dek, asal bukan kamu. Asal bukan kamu, nggak papa. Dan ia akan memelukku, lama sekali. Hingga air matanya membasahi rambutku.

Tak bisakah kamu keluar dari lubang itu, kak? Aku takut, sungguh takut. Ibu tak ada kak. Dan wanita bebercak merah itu menyuruhku jadi kamu, kak. Tak bisakah kamu keluar dan melindungiku lagi, kak? Bisakah aku menjaga anuku? Aku menangis hingga ayam mengumumkan kehadiran sang mentari.

Namun tak kunjung ada tangan yang datang dari kegelapan, mengelus lembut rambutku, meninabobokan dengan suara merdu.

Tak ada.

Aku punya ibu. Ya, ibu yang ditelan bumi setelah membunuh bapak.

Aku punya bapak. Ya, bapak yang memperkosa puterinya berulang-ulang setiap malam.

Aku punya malaikat. Satu malaikat. Yang sesuci perawan saat ia masuk ke dipanku malam-malam usai ia disiksa. Yang masih menggontorkan tangis dengan lantunan ayat. Ya, satu malaikat itu. Yang kutahu kini tengah di surga, mungkin melaporkan nasibku yang sama buruknya pada Gusti Allah.

Ah, bolehkah aku menyusulmu saja kak? Lubang itu tak begitu sempit untuk kita berdua, bukan begitu? Apa aku harus menunggu saja kak? Siapa tahu ibu akan menjemputku?

Aaaah.. Entahlah kak, yang kuingat hanya tubuh kakumu. Tanpa baju. Hingga terlihat kemana-mana anumu.

10 komentar:

  1. kenapa cerpenmu kebanyakan adalah cerpen yang gitu2, mengangkat masalah sosial yang tak berperikemanusiaan..???

    ReplyDelete
  2. kan gw kriminologi.. belajarnya tentang sisi kelam-sosial manusia, cocok dong hyahahaha ^^
    Yah kalau mau dijabarin mungkin karena gw ga suka happy-end. rasanya utopis banget. hidup ga pernah semudah-seindah itu (kesannya hidup gw susah amat ya hahaha) dan sisi kelam itu rasanya jauh lebih mudah dideskripsikan, karena rasanya lebih nyata, lebih 'bener'..
    iya sih nas, mungkin gw emg harus nyoba bikin cerita yang soft, yang warm. entah bisa atau ga. tapi harus nyoba ya. ditunggu aja. hahaha.

    ReplyDelete
  3. always waiting your creation lah..haha
    iya juga sih, aku juga gak terlalu suka happy-ending, tapi gak 'sekelam' cerpenmu, hahaha

    ReplyDelete
  4. keren. tulisannya bagus2. ajarin dong :) hihihi

    ReplyDelete
  5. hihihi hay Jenny. penulis juga kan ya? salam kenal yaaa :D

    ReplyDelete
  6. hay :D
    baru belajar sih, masih nol banget ilmunya wkwk
    panggilnya apa ini ya enaknya -___-
    aku kebiasaan nulis cerita cinta ketimbang yang horor terus kaya yang kamu tulis itu, keren2 :D
    ajarin dong hahaha

    ReplyDelete
  7. cerita nya sosial kehidupan didesa bener.

    ReplyDelete
  8. @jenny : panggil suci aja jen :) lho ga papa kan, setiap penulis punya ciri khas nya masing2 hehehe

    @abda : iya sih, tapi sebenarnya gue bukan jawa dan nggak pernah tinggal di desa yang bener-bener desa, jadi masih kurang real penggambarannya. ada ide, gan?

    ReplyDelete
  9. salam kenal sebelumnya :)

    hemm,, gaya cerita cerpennya sangat fresh,tapi kalau menurut aku (penilaian menurut selera pribada lho ya ^_^), kalau ngebaca cerpen ebih seru lagi kalau ada dialog tokoh yang dimunculin dalam cerita itu, karena kalau narasi aja biasanya suka bosan. :)
    IMO

    ReplyDelete
  10. @widie : salam kenal jugaa ^^ terima kasih sudah membaca. hehhehe. okee, makasih ya masukannya, lain kali biar pembaca nggak bosan akan gue masukkan dialog :) thanknyuuu

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers