GOT Season 4: Kemegahan, Brutalitas, dan Peliknya Cinta

 Akhirnya weekend ini saya nonton Games of Throne Season 4 jugak! Aaakk!

Ah, kebahagiaannya tak terperi. Begitu juga dengan rasa gemas, kesal, ngeri, sedih, dan penasaran yang kemudian mengikuti. Setelah begitu lama menunggu Season 4 ini keluar, rasa penasaran yang kemarin kembali dijawab dengan rasa penasaran lainnya akan kelanjutan kisah yang diangkat serial novel dari A Song of Ice and Fire ini.

Yang paling saya tunggu tentu matinya Joffrey. Oooh I love that scene! Susah untuk menahan sorakan gembira saat ia mati dengan penuh ironi di pangkuan ibunya, di tengah-tengah acara pernikahannya sendiri. Dengan demikian karakter paling dibenci di GOT mati sudah. Kayaknya G.R.R Martin memang pilihan wedding organizer terburuk yang pernah ada. Ini kedua kalinya pernikahan dalam GOT yang berakhir sebagai tragedi mengerikan. But who cares? That son of a bitch die, thanks Seven-Gods. Hanya saja misteri siapa-yang-memasukkan-racun-ke-gelas-wine-Joffrey masih belum terlalu jelas. Memang racunnya diambil dari kalung Sansa, dan banyak pihak yang terlibat dalam upaya pembunuhan ini. Tapi orang yang benar-benar memasukkan racun ini belum diketahui.

sumber disini

Lalu bagaimana dengan Margaery dan obsesinya menjadi Ratu? Oh, jangan khawatir. Karena tepat setelah Joffrey mati, Margaery mulai ‘berkunjung’ secara teratur ke kamar Tommen—raja selanjutnya—untuk berbagi ‘rahasia kecil’. Entah kenapa cewek-cewek Tyrell ini banyak yang genit.

sumber disini

Hal paling menyebalkan yang saya dapatkan setelah menonton Season 4 ini tentunya adalah kenyataan bahwa sang Khaleesi, Daenerys Targaryen ‘bobo cantik’ dengan Daario Naharis. Sebenarnya di 9GAG sudah banyak spoiler tentang ini. hanya saja saya nggak percaya. Nggak mau percaya, tepatnya. Ilusi tentang Khaleesi yang tetap setia pada Khal Drogo setelah dia wafat terlalu indah untuk dirusak. Tapi ternyata G.R.R. Martin berkata lain.

sumber disini

Terlebih Khaleesi-lah yang menyuruh Daario untuk bugil. What the fraaack? Daario memang telah menggombali doi sejak pertama kali bertemu, tapi saya kira she will stay faithful to Drogo. Such a pity. Di Season 4 ini Khaleesi memang stress terus hingga mungkin butuh hiburan, tapi kenapa harus dari lelaki hina-dina semacam Daario? Walau berhasil menaklukkan Meereen dengan strategi gemilang yang bisa membuat Sun Tzu malu, keputusan Khaleesi untuk memerintah mulai menghadapi gempuran masalah. Mulai dari masyarakat yang tidak semuanya siap dengan perubahan, keputusan-keputusan politiknya yang kerap dianggap terlalu diktaktor (men-salib orang sebagai penunjuk jalan itu agak TEGA juga loh), hingga naganya, Drogon, yang mulai memiliki hobi buruk memanggangi anak-anak masyarakat desa di sekitar Meereen. Akhirnya Khaleesi terpaksa mengurung naganya, dan adegan ini sangat memilukan hati. Padahal yang buas dan keji hanya si Drogon, tapi yang kena getahnya justru Rhaegal dan Viserion. Tapi walau bagaimanapun, Khaleesi tetap karakter favorit (yeah, martin! I said FA-VO-RITE!) akuh.

sumber disini

Bicara tentang pengkhianatan atas cinta (yang dikira sejati itu), Tyrion Lannister disisi lain harus menghadapi kenyataan yang mungkin nggak begitu ‘pahit-pahit amat’ lagi mengingat bahwa dari lahir saja hidupnya sudah pahit. Di Season 4 ini dia menghadapi pilihan pahit untuk berpisah dengan Shae agar si pecun itu nggak mati, dituduh membunuh Joffrey, disudutkan oleh Ayah dan kakaknya sendiri, hingga tentunya dikhianati oleh Shae yang bukan hanya memberikan kesaksian bohong tentang rencana Tyrion untuk membunuh Joffrey, tapi juga ‘bobo cantik’ dengan Tywin. Agar bisa lolos dari hukuman mati, Tyrion akhirnya memilih untuk Trial by Combat, dimana Prince Oberryn bersedia menjadi wakilnya untuk bertarung melawan tukang jagal-nya Lannister, The Mountain. Setelah kematian Oberryn yang mengerikan (kepalanya dipecahkan dengan tangan kosong! Adegan ini benar-benar bikin lemas), Tyrion akhirnya dijatuhi hukuman mati. Tapi tampaknya Tyrion memang karakter favorit G.R.R. Martin, karena akhirnya toh dia selamat setelah mendapat bantuan dari Jaime dan Varys untuk melarikan diri. Un-tung-nya, dalam perjalanannya untuk kabur dari penjara, Tyrion tidak lupa mampir ke kamar Tywin, ayahnya, untuk membunuh Shae dan Tywin. Episode ini ditayangkan di Amerika tepat saat Hari Ayah, hingga meme tentang Tyrion yang membunuh ayahnya karena isu ‘ayah’ dibuat cukup banyak.

Kematian Tywin ini cukup menarik juga, mengingat dengan matinya doi, kekuatan Lannister seperti berkurang setengah. Menarik tentunya mengetahui siapa yang mewarisi ‘tahta’ Lannister setelah matinya Tywin. Kemungkinan besar sih Jaime—walau doi tidak akan dengan senang hati menerimanya. Tapi yang gue sayangkan juga adalah dengan matinya Tywin, berarti Cersei tidak perlu lagi menikah dengan Loras. Ah, padahal suatu kebahagiaan tersendiri jika melihat cewek licik ini menderita.

sumber disini

Bicara tentang Jamie dan Cersei, adegan cinta keduanya makin intens di Season 4. Sebenarnya sebagai pasangan mereka cukup cute juga, asal kita melupakan bahwa keduanya kakak-beradik, kembar pula! Yep, bersiaplah dengan adegan twincest yang bertebaran. Saya juga baru sadar ternyata baik Jamie dan Cersei masing-masing cemburuan berat satu sama lainnya. Dalam pernikahan Joffrey, Jamie mengancam Loras yang telah bertunangan dengan Cersei, dan Cersei mengancam Brienne karena menganggap Brienne main hati dengan Jamie. Bagi saya, akan jauh lebih baik jika Brienne dan Jamie menikah saja. Mereka cute banget kok bersama, apalagi adegan dimana Jamie menyerahkan pedang Valerian-nya ke Brienne. Jamie juga terbukti tidak se-brengsek saudara kembarnya. Dan lagipula Brienne juga masih dapat dihitung sebagai ‘Lady’, kan? Hanya saja ada potensi besar Cersei akan meracuninya sakin cemburunya. Sayang kalau seseorang sebaik Brienne mati gara-gara nenek sihir ini.

sumber disini

Balik ke anak-anak Stark yang tersisa, Bran dan rombongannya menemui banyak masalah di The North sana. Diculik, nyaris diperkosa, nyaris dibunuh, nyaris kehilangan dirinya karena terbuai oleh potensinya sebagai warg, nyaris menjadi bulan-bulanan tengkorak hidup, dan yang paling menyebalkan diantara semuanya—Bran hampir bersatu lagi dengan Jon Snow sebelum akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan demi bertemu Gagak Bermata Tiga. Bran sampai juga akhirnya disana, walau harus kehilangan Jojen yang dibunuh pasukan tengkorak. Sang Gagak sepertinya berniat memberikan Bran kekuatan mistik yang hebat, agak-agak menyinggung tentang ‘bisa-terbang’, walau sampai akhir Season, kekuatan ini belum pasti apa.

Sementara Sansa yang berhasil kabur dari King’s Landing saat semua orang panik akibat Joffrey, dibawa Littlefinger ke tempat bibinya, Lysa. Yang cukup mengagetkan disini adalah terkuaknya fakta bahwa Littlefinger-lah yang menyuruh Lysa meracuni suaminya, Littlefinger menikahi Lysa (untuk hartanya, pastinya), hingga Littlefinger membunuh Lysa dengan mendorongnya ke Moon Door. Tapi yang paling mengagetkan bukan itu pemirsa, karena Littlefinger mencium dan menyatakan cinta ke Sansa di Season ini. Yeah, gagal dapet emaknya, anaknya juga disambar. Ini semacam Severus Snape yang merkosa Harry Potter andai si Harry terlahir sebagai perempuan (dan tentunya akan mirip Lily).

sumber disini

Dan bagaimana dengan salah satu anak Stark yang menjadi favorit—Arya? Oh, dia tambah keren aja, kalau nggak mau dibilang brutal sih. Di season ini Arya masih bertualang bersama The Hound. Dan sepertinya teman seperjalannya ini membawa dampak buruk karena Arya mulai bisa dan biasa membunuh orang-orang. Bahkan dalam salah satu scene, dia menusuk leher orang dengan begitu mudah seakan kepalanya itu hanya semacam keju busuk yang super lunak. Setelah The Hound mati akibat bertarung dengan Brienne, Arya melanjutkan perjalannnya seorang diri, dan kali ini, entah kemana ia akan berakhir.

Disisi lain, Jon Snow, Aragorn-nya GOT, mulai menunjukkan kemampuan kepemimpinan yang keren di The Wall. Dari banyak sisi dia lebih keren dari Robb, sebenarnya. paling nggak dia lebih memilih The Crow dibanding Ygritte (yang akhirnya mati dalam pertarungan dalam pelukan Jon). Jauh berbeda dengan Robb yang ‘mengkhianati’ ibunya demi memilih perempuan yang ditaksirnya. Jon berhasil memimpin The Crow mempertahankan The Wall, hingga akhirnya pasukan Stannis datang untuk melibas wildings yang nyaris menggilas mereka. Jon akan jadi raja yang baik dan bijak, saya rasa. Semoga G.R.R. Martin nggak membunuhnya sebelum itu. Dan baru kali inilah gue menyukai Stannis, yang dalam Season ini kelihatan lebih waras dibanding season-season sebelumnya—walau Melisandre masih bercokol disisinya.

After all, Season 4 ini keren banget! Nggak sabar rasanya menunggu Season 5 yang entah akan keluar kapan. Bukunya saja belum tamat sih, karena kelihatannya G.R.R. Martin tengah bersenang-senang mengeksplorasi ceritanya. Saya sih nggak keberatan, asal Khaleesi nggak mati aja nanti di tengah-tengah.

Rasa kagum saya pada G.R.R. Martin semakin bertambah. Dia benar-benar jenius! Aneh juga kalau mendengar dia disandingkan dengan Rowling, karena saya lebih setuju dengan anggapan bahwa dia adalah versi Amerika-nya Tolkien. Martin benar-benar membuat cerita yang luar biasa, ditambah karakter-karakter dalam ceritanya yang begitu dalam hingga seakan-akan semuanya lompat dari buku sejarah terdekat. Bahkan karakter minor dalam kisah ini saja berkesan. Belum lagi kalau menyinggung tentang kemampuannya menghadirkan twist (Red Wedding, terutama). Semoga doi nggak mati sebelum kisah ini berakhir, atau itu akan menjadi TRAGEDI terbesar yang pernah ada. Sial.

Ah, semoga Season berikutnya cepat-cepat keluar, begitu pula dengan buku lanjutannya.


1 komentar:

Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers