Sebelum Senja Berlalu


sumber disini
 Jingga, mungkin nanti setelah senja menyapa, kamu akan mengingat semuanya.
Kuharap batasnya adalah lupa. Bukan ketidaktahuan yang dipicu dan diolesi dengan ketidakperdulian.
Karena andai ini tentang sang lupa, maka aku masih mampu berjumawa bahwa semuanya akan kembali seperti sedia kala. Namun jika memang kita bicara tentang ringkihnya keperdulian, harus kuakui dengan berat hati bahwa diantara berbagai hal yang bisa kau tawarkan, kau justru memilih cobaan.
Dan Jingga, berdoalah agar harapanku seperti waktu.

Agar ia bisa terus melaju tanpa ampun.  Tanpa batasan, persis layaknya doa-doa senyap yang ingin kubiarkan tumbuh tinggi, lebar, dan tebal.
Tapi ternyata harapanku adalah elang yang tak sanggup terbang, Jingga.
Ia punya segala yang dibutuhkan untuk menjelajahi sang Tak Terbatas. Namun disinilah ia, duduk diam terpekur menatap. Meringkuk ditengah kerentanan, melindungi diri agar tak menjadi punuk.
Lukaku, adalah karena diantara begitu banyak pilihan untuk mencoba, aku justru memilih untuk menunggu. Lukaku, karena aku pikir bahwa sayapku mampu membangkitkan asa yang terpekur, namun ia justru tidur. Lukaku, adalah saat melihatmu berbalik, lalu menghilang di tengah pekik.
Andai harapanku adalah waktu, maka kuharap ia bisa muncul sebelum semuanya jadi semu.
Andai harapanku adalah waktu, maka kuharap ia bisa mengantarku padamu.
Sebelum senja berlalu, kuharap aku tahu apa sebenarnya dirimu. Kuharap lukaku dan perihmu telah berlalu. Kuharap keberanian menganugerahiku kekuatan untuk mencoba mempercayai sekali lagi.

Sebelum senja berlalu, sebelum aku dan kamu jadi entitas yang tak lagi satu...

3 komentar:

  1. kereenn .. !!
    dari dulu pengen banget bikin tulisan yang kayak gini, tapi sayangnya sampai sekarang gak pernah bisa :'(
    perbendahraan katanya masih kurang ...

    ReplyDelete
  2. Luka selalu menawarkan banyak cara untuk sembuh,,,,, Hehehee


    Tulisannya keren... LIKE!

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers