Jika Lian Bukan Maryam



Katanya, ia suamiku.

Namanya ah… siapa tadi? Semacam Tegar atau Teguh atau itulah.

Benarkah? Mungkin benar. Ia menunjukkan banyak sekali foto dirinya dengan seseorang yang mirip aku. Tapi aku tak tahu siapa dia. Mereka bilang aku tak ingat. Mungkin akan ingat. Jadi kata mereka pelan-pelan saja. Jangan dipaksakan. Aku belum sembuh benar. Entahlah. Lagipula, apa pula itu ‘suami’?

Aku tidak suka berpikir. Atau mengingat.

Rasanya berat. Rasanya aneh.


Kadang ada gambar-gambar asing yang tak kukenali, hanya saja rasanya akrab. Seorang bayi. Seorang laki-laki. Kehidupan datar yang menyedihkan. Ruangan dengan banyak orang dan tekanan. Wanita yang mirip aku. Wanita yang bukan siapa-siapa. Wanita yang tidak spesial. Yang seperti wanita lain, menikah, punya anak, dikelilingi keluarga, dan bekerja. Tapi hanya itu. tidak lebih.

Namun gambar itu akan timbul lalu tenggelam. Muncul lagi, biasanya. Tetap tidak jelas. Tetap tidak penting. Aku benci mengingatnya. Tapi ada rasa sesak di dada yang memberitahuku bahwa ada yang hilang. Ada rasa terburu-buru dan gatal entah dimana.

“Aku sayang kamu, Lian…”

Ya, akhir-akhir ini lelaki itu selalu mengucapkan itu. Tiap aku memandangnya heran. Ia akan tersenyum. Menggenggam tanganku. Kami akan duduk seharian, dan dia berada di sisiku selama itu. Menatap, kadang dengan air mata. Bercerita tentang seseorang yang katanya aku. Menyentuh dengan hati-hati hanya untuk menarik tangannya lagi seakan aku akan menjerit jika ia menyentuhku.

Kenapa ya? Padahal sentuhannya membuatku nyaman.

“Dulu kamu suka masak lho, Lian… Masakanmu enak sekali. Tapi kadang Teguh suka protes karena dia sukanya pedas-pedas, padahal kamu paling nggak tahan. Kamu inget nggak, masakan apa yang Teguh paling suka?”

Apa ya?

Kenapa mereka bertanya sesuatu yang aku tak tahu?

Mereka menatap rapat, tersenyum dengan mata berair, diam menunggu sesuatu aku luncurkan dari bibir. Mereka menanti jawaban. Tapi apa? Aku bahkan tidak tahu apa-apa soal Lian. Mungkin Lian seseorang yang mereka kenal.

Tapi aku Maryam. Yang hidupnya hanya untuk berjihad di jalan Tuhan. Maryam ini tak pernah memasak. Maryam ini baru lahir kemarin. Seorang wanita yang bercadar dan bersuara halus telah menunjukkan jalan kebenaran padanya. Orang-orang yang benar telah merekrutnya menjadi keluarga. Ajaran yang benar telah diserukan padanya. Agama. Agama lebih penting dari apapun. Dan kesempurnaan Agama hanya bisa dicapai dengan Jihad.

Mereka menyuruhku melepas cadar.

Mereka mengambil buku tuntunan yang diberikan wanita-wanita itu.

Mereka memulangkanku ke tempat yang salah.

Mereka mempertemukanku dengan orang-orang yang salah.

Mereka mengira aku adalah Lian.

Padahal aku Maryam. Yang akan berjihad. Yang memiliki peranan penting dalam menyukseskan Agama Tuhan. Aku akan jadi bidadari surga jika jihad ini berhasil. Mereka bilang aku akan jadi orang penting di akhirat jika aku berusaha di dunia.

Aku bukan Lian, lho. Lian hanya istri dan ibu. Hanya putri dan kakak. Hanya pekerja kantoran yang sepanjang hari duduk dan ditekan. Yang keberadaannya begitu bias oleh cahaya lain. Yang tidak akan diperdulikan dunia jika ia tidak menghilang. Lian tidak akan jadi seperti ini bila bukan karena Maryam.

Sungguh. Aku ini Maryam, bukan Lian. Dan aku memilih jadi Maryam, bukan Lian.



Nb. Murni fiktif. Murni karangan. Hanya berasal dari dunia fiktif. Tidak ada hubungannya dengan cerita nyata, orang-orang di dunia nyata.

0 komentar:

Post a Comment

Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers