27 Agu 2011

Untukmu, Perempuan yang Dicintai Suamiku



Kamu tahu? Aku kerap merasa hancur setiap kali mendapati dia menangisimu.

Aku tak pernah melihatnya menangis untuk apapun. Dia terlihat begitu kuat. Begitu tegar. Namun saat mengenangmu, ia selalu menangis. Apa itu berarti seberharga itukah kamu untuknya? Atau kehilanganmu belum mampu ia terima walaupun ia telah bersamaku—secara fisik—selama bertahun-tahun?

Saat kamu meninggalkan dunia ini, hubungan suami-istri kalian secara resmi terputus, namun ternyata tidak dengan hubungan bernama ‘cinta’ itu.

Saat ini mungkin akulah yang duduk bersamanya sebagai ‘istri’. Namun menyaksikan perasaannya terhadapmu yang tak kunjung berakhir, aku meragu jika hubungan bernama ‘cinta’ itu juga terjalin diantara dia dan aku.


Aah, kenapa kamu tidak pergi dengan sebenar-benarnya pergi? Kenapa masih meninggalkan hal yang harus meresahkan kami yang masih hidup? Kenapa aku harus mencemburui dan tersakiti olehmu yang bahkan tak ada lagi di dunia ini? Bagaimana caraku menyaingimu yang telah tiada? kau sungguh meninggalkan sesuatu yang tak bisa dibilang adil bagiku, kau tahu?

Sebagai perempuan, aku ingin melihat suamiku—orang yang paling kucintai—hanya memandangku, hanya memikirkanku. Namun kenyataannya suamiku tak pernah benar-benar memandangku, tak pernah sepenuhnya memikirkanku.

Dan ini semua karenamu!

Kamu juga perempuan, bukan? Kamu tahu rasanya. Ya, kamu pasti tahu rasanya. Jauh lebih buruk daripada ia menyelingkuhiku dengan perempuan lain. Jika ia berselingkuh, aku mampu untuk menuangkan emosi. Terus terang menangis, marah, menyalahkan, memperbaiki diri, dan berusaha merebut hatinya lagi.

Tapi apa yang harus kulakukan jika suamiku mencintai perempuan yang bahkan tak bisa kusaingi?

Aku bukannya membencimu, sungguh...

Suamiku memang tak pernah menyebutmu di depanku. Foto-fotomu pun tak lagi menghiasi rumah ini. Ia hanya mengenangmu lewat kenangan. Ia hanya membicarakanmu dengan putra kalian. Ia bahkan tak pernah membanding-bandingkan kita. Dan saat orang lain membandingkan kita—dialah yang pertama kali menghentikannya.

Ia juga tak memintaku menjadi dirimu. Sejak awal ia telah menegaskannya. “Jangan mencoba menggantikan istri pertamaku. Ia tidak akan bisa terganti. Lagipula aku menikahimu bukan untuk menggantikan siapapun. Jadilah dirimu sendiri.”

Aku tahu, itu sebabnya alasanku membencimu akan terdengar begitu egois.

Aku juga bukannya membenci putramu. Hanya saja ia anak yang terlalu membanggakan, terlalu menyilaukan. Tampan, pintar, dan kharismatik. Aku lelah menerima pujian dari orang-orang di sekitar kami, pandangan melecehkan saat tahu aku bukan ibu kandungnya, dan rasa iri karena aku sendiri tak mampu memberi suamiku seorang anak.

Aku tahu... aku hanya tak bisa mengatasi rasa diabaikan dan kesedihan ini karena berharap aku juga bisa bahagia—setidaknya sama seperti dirimu dulu.

* * *

“Mas... Aku tidak hamil-hamil. Padahal kita sudah mengecek ke dokter dan tidak ada masalah, kan... kenapa ya mas?”

Topik ini selalu melelahkan untuk dibahas, kau tahu?

“Belum rezeki itu namanya. Sabar sajalah.” Ia menjawab santai sembari membaca koran.

Apa dia juga se-acuh ini padamu dulu? Apa dia juga tak mampu memahami perasaanmu seperti ini dulu? Ia seakan-akan tak mengerti arti pentingnya untukku, apakah kau juga pernah merasakannya? Atau apakah ia hanya bersikap sekejam ini kepadaku?

“Apa kamu memang tidak mengharapkan punya anak dariku, Mas?” aku mulai terisak. Ya, rasanya sakit. Rasanya pedih. Rasanya panas di mata ini terlalu hebat untuk ditahan. Rasanya sesak di dada ini terlalu berat untuk ditolerir.

Aku tak lagi bisa bersabar.

“Ya kepinginlah. Tapi yang Diatas kan belum memberi. Ya harus sabar. Usaha.” Jawabnya, masih sekenanya.

“Usaha gimana, kamu saja masih terus mengingat si Reina itu.” Kini aku setengah berteriak.

BRAKK!!

Suamiku bangun mendadak, membuatku melompat kaget. Membuatku sadar bahwa aku telah melakukan hal yang sangat bodoh dengan menyebutkan namamu dalam pertengkaran ini. Ya, bisa kulihat jelas dari matanya yang memerah dan mendelik. Bisa kulihat di tangannya yang menggenggam penuh emosi.

“Kamu ngapain nyalah-nyalahin dia? Maksud kamu apa??” ini pertama kali ia membentakku begini kasar. Sungguh.

“Aku hanya ingin kamu cintai utuh, mas! Nggak ada yang lain!” aku terisak. Aku kehilangan pegangan.

“Terus maksud kamu nyebut nama istriku itu apa??” ia melempar korannya dengan kasar.

Aku terhentak. “Yang istrimu itu aku, mas! Aku! Bukan perempuan yang sudah mati!!” jeritku.

PLAKK.

Ya Tuhan. Ia menamparku. Tidak keras. Namun sakitnya menyayat di seluruh tubuh dan hati. Aku terdiam, dan ia juga terdiam. Suara langkahnya keras dan tegas saat keluar dari ruangan. Meninggalkanku sendirian di atas karpet itu. Menangis sesenggukan. Tidak mampu lagi menahan sakit yang menyerang di sekujur tubuh.

Jangan. Jangan berani salahkan aku. Sakit ini sudah terlalu lama kutahan dan kau tahu itu.

“Ibu...”

Suara putramu lembut menegur. Ya, ia memanggil bapaknya dengan sebutan ‘papa’ lalu menyebutmu ‘mama’. Namun ia memanggilku ‘ibu’. Karena ia memang tak mau menggantimu denganku.

“Ibu sudah, jangan menangis...”

Aah, aku sungguh tak perlu penghiburan menyedihkan dari putramu saat ini. Hanya menambahi sakit. Aku hanya ingin pergi dan melupakan semua sakit ini. Mungkin mati menyusulmu itu ide yang tak terlalu buruk. Aku hanya terlalu lelah, kau tahu. Sungguh sangat lelah.

“Mama bilang... nanti kalo dedek sudah lahir, semuanya akan lebih mudah bagi ibu. Mama bilang ibu harus sabar, papa hanya belum bisa ikhlas...”

Apa? Putramu bicara apa?

“Ibu sudah cukup baik, bu... Ibu juga sudah hebat... Mama dulu bilang kalau walaupun ibu kelihatannya ceroboh dan lugu, sebenarnya ibu itu hebat. Walaupun ibu tidak bisa diajak ngobrol panjang soal pengetahuan umum, tapi kalau soal ilmu fisika ibu jagonya. Mama bener lho bu. Ibu memang tidak sama dengan mama, tapi ibu juga sama hebatnya dengan mama.”

Aku terhenyak. Aku hanya mampu memandangi putramu.

Putramu tersenyum, seakan memahami kebingunganku.

“Mama dulu suka bercerita soal ibu saat masih di rumah. Mama bilang, kalau mama meninggal nanti aku harus kuat. Aku harus bisa menjaga papa, ibu, dan dedek yang akan lahir. Makanya waktu ibu datang, aku sudah tahu semuanya soal ibu, karena mama menggambarkan ibu dengan tepat sekali.”

Tubuhku gemetar. Kebetulankah, atau kau jangan-jangan memang...

“Mama suka bercerita soal masa depan, bu... salah satunya tentang ibu...”

Ya Tuhan. Ternyata benar.

“Makanya ibu sabar ya... Sabar sedikit saja lagi. Kuat sedikit saja lagi. Nanti semuanya juga akan jadi baik... jadi lebih mudah bagi ibu... Mama juga bilang, ibu jangan marah terus sama mama. Bagi mama, ibu itu seperti adik perempuannya. Mama terus mengawasi ibu dari ‘sana’...”

Aku mulai menangis. Tapi kali ini bukan karena kesakitan.

Entah kenapa rasanya hangat. Putramu tengah membicarakanmu. Tengah membicarakan aku, suamiku, dirinya, dan ‘adik’nya. Dan kehangatan itu menjalariku. Entah kenapa sakitnya dibasuh oleh kata-katanya. Entah mengapa aku merasa begitu tolol telah memenuhi diriku dengan perasaan negatif selama ini.

Aku begitu takjub. Begitu merasa luar biasa. Ini seperti sebuah keajaiban, kau tahu? Sulit dipercaya. Benarkah yang dikatakan putramu ini?

Maaf. Bisakah kau dengar maaf itu? Maaf karena aku sudah begitu menyalahkanmu. Tanpa mengenalmu terlebih dahulu, aku dibungkus oleh prasangka-ku sendiri. Tak pernah kupikirkan bahwa kamu mengenaliku sejak dulu—tahu bahwa suamimu akan bersama perempuan lain sepeninggalanmu. Namun caramu menghadapinya, membuatku malu. Membuatku berkaca diri.

Maaf karena aku telah begitu bodoh selama ini.

Dan terima kasih. Sungguh terima kasih karena telah mengawasiku. Terima kasih karena telah membimbing suamiku padaku. Terima kasih karena melahirkan putra yang luar biasa untuk kumiliki. Terima kasih, karena telah mau menjadi ‘kakak’ku.

Terima kasih. Sungguh terima kasih.

3 komentar:

  1. idenya ajaib...
    aku ngebacanya malah melayang kalo cowoku suka perempuan lain hikzzz...jd kyk ceritamu itu prsaannya..
    intinya cerpenmu berhasil membawa aku mnjd tokoh ibu hehehhe
    ku tunggu cerpen2 ajaibnya ya..

    BalasHapus
  2. iya yaaa seraaam kalo org yg kita suka masih terjerat orang lain -_____-
    iyaa ^^ makasi udh mau baca. fufufu

    BalasHapus
  3. udah sering baca, tapi masih tetep nangis T_T

    BalasHapus

Daisypath Anniversary tickers