92 Hari Mencari Hati (1)



“Hey ganteng, bangunlah. Ini ada cake dengan banyak lilin di dekat pintu kamarmu. Hari ini kamu ulang tahun, ya?”

Suara itu membangunkannya. Rangga berguling di atas tempat tidur dan meringis saat sakit di kepalanya menyerang. Ia membuka mata dan menyadari bahwa seperti halnya kesadarannya—kedua matanya belum berfungsi sepenuhnya. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan rasa mual di perutnya begitu menyiksa. Bahkan usaha untuk menggapai jam beker di samping tempat tidurnya pun menjadi perjuangan yang begitu berat.

Bagaimana bisa ia baru saja terbangun saat waktu sudah melesat senja dan mataharipun bahkan sudah akan turun lagi?

Rangga mencoba duduk dan mendapati seorang perempuan tengah santai merokok di dekat pintu kamarnya, dan memakai sesuatu yang mirip sekali dengan t-shirt kesayangannya.

“Siapa lo??” bentak Rangga kaget.


“Aduh aduh… Tadi malam kamu minum berapa banyak sih sampai nggak ingat apa yang sudah kita lakukan?” kekeh perempuan itu sembari tersenyum menggoda. Ia kembali menghisap rokoknya dengan acuh.

Ya, Rangga tak bisa mengingatnya.

Dan sekeras apapun ia mencoba mengingat, Rangga hanya mampu mengingat pesta gila yang dibuat teman-temannya untuk merayakan ulang tahunnya. Mereka memang memesan begitu banyak minuman keras, dan mungkin sedikit ganja. Ia juga bisa mengingat bahwa dirinya sendiri minum begitu banyak.

Tapi, benarkah ia begitu hilang kesadaran hingga membawa pelacur ke kamarnya?

“Apa-apaan??”

Rangga merasa punggungnya bagai diguyur dengan air dingin saat menyadari bahwa dirinya sendiri nudis tanpa busana. Sembari mengutuki impulsnya yang begitu lamban, Rangga melompat dari tempat tidur dan memakai pakaiannya yang bertebaran dimana-mana dengan terburu-buru. Ia meringis jijik saat menyingkirkan sebuah celana dalam sutra bewarna hitam dari celana jeans-nya.

“Kamu kenapa sih? Hahahaha.” Kekeh si perempuan geli.

“KELUAR LO! PERGI!!” gerung Rangga murka. Pandangannya menjadi kabur saat efek alcohol masih berkuasa dalam tubuhnya. Rangga membiarkan tubuhnya jatuh ke kasur dalam posisi duduk.

Bagaimana bisa ia tidur dengan pelacur itu? Bagaimana bisa ini terjadi padanya? Kulit Rangga meremang karena jijik. Ia begitu panik sekaligus kebingungan. Ia begitu marah hingga ingin rasanya melenyapkan pelacur itu dari muka bumi. Namun yang paling ia inginkan adalah andai ia bisa memutar waktu agar ia tak perlu melakukan hal sebodoh ini.

“Oke, oke. Santai saja, tampan… Ya ampun, segitunya… Kamu seperti cewek yang marah karena perawannya direbut orang deh. Hahaha. Eh? Atau jangan-jangan kamu masih perjaka, ya? Ya ampuuun, aku nggak sadar lho. Soalnya tadi malam…”

“…PERGI LO, ANJING!!”

Jam beker yang ia lemparkan itu melesat hanya beberapa centimeter dari kepala perempuan itu. Bersamaan dengan bunyi benturan keras saat jam itu membentur dinding, jeritan  si pelacur memenuhi kamar. Lalu tanpa mengatakan apapun kecuali rintihan ketakutan, perempuan itu memunguti seluruh barangnya dan kabur secepat yang ia bisa.

Rangga terduduk lemas. Andai ia bisa menangis agar semua sesak di dada ini bisa sedikit dikurangi.

Bagaimana bisa ia tidur dengan seseorang yang bahkan tak ia kenal? Bukan, sebenarnya, bagaimana bisa ia tidur dengan perempuan lain selain Artika—orang yang begitu ia cintai? Bagaimana jika Artika mengetahui apa yang sudah ia perbuat?

Sedetik kemudian Rangga merasa darahnya bagai tersirap keluar.

Artika!

Rangga berlari ke arah pintu kamarnya, nyaris jatuh menimpa sebuah rak buku, menuju sebuah kotak yang terletak di dekat pintu kamarnya. Ia menyambar kotak itu dan membukanya seperti orang gila, sembari mengacuhkan pandangan menuduh tetangga-tetangga apartemen-nya.

Cheese cake dengan saus blueberry.

Rangga terduduk lemas. Hanya ada satu orang yang akan memberi cheese cake dengan saus blueberry sebagai kue ulang tahun. Hanya ada satu orang yang begitu egois sekaligus menggemaskan karena selalu memberi kue kesukaannya pada orang yang berulang tahun dengan asumsi ia yang akan menghabiskan semuanya.

Satu orang itu adalah Artika.

“Aku mau bikin surprise lho, di ultah kamu nanti! Eh, tapi jangan nanya ya, kan namanya surprise. Jadi tunggu saja ya, sayang!” kata-kata terakhir Artika menggema di dalam kepala Rangga.

Rangga kembali menghambur ke dalam kamar, mencari handphonenya yang entah dimana dengan terburu-buru. Saat ia menemukannya, Rangga mendapati ada sekitar 7 misscall dan 9 sms dari Artika—dimana sms terakhirnya berbunyi “sayang, kamu dimana? Aku kedinginan nih, udah 3 jam aku nunggu di depan kamar kamu. Aku masuk aja ya, kayaknya kamar kamu nggak dikunci.”

“Tidak…” rintih Rangga pelan.

Artika disini. Ia terbang jauh-jauh dari Jakarta ke Batam hanya untuk memberi Rangga surprise. Ia membawa cake dan menunggu di teras kamar Rangga sepanjang malam hanya untuk menyaksikan…

Rangga meraung pedih. Dengan nafas tak beraturan, ia berulangkali berusaha menelfon Artika, namun nomor yang dia hubungi tak pernah aktif.

Ia mencoba menolak percaya—namun di sudut hatinya Rangga tahu, ia telah seluruh belahan hatinya—Artika.

* * *

“Jadi, mbak mau ke Jakarta atau kemana nih, mbak?”

Kelihatannya penjual tiketnya nyaris kesal. Tentu saja, pikir Artika muram. Ia sudah 15 menit berdiri di sini, di depan antrian orang-orang yang tak sabar menunggunya pergi dari antrian, dihadapan seorang penjual tiket yang sudah mulai kehabisan kesabaran menunggu keputusannya.

Ya, tapi ia harus kemana?

Ia hanya ingin berlari. Sejauh mungkin, kalau bisa, dari semuanya. Artika sadar ia hanya belum bisa menerima apa yang sudah terjadi padanya—atau ia saksikan. Ia hanya ingin kabur dari kenyataan. Ia hanya ingin lupa. Ingin melepaskan diri dari kesakitan yang sejak tadi membelenggunya.

Hanya saja bagaimana caranya?

“Ya sudah, ke Jakarta saja mbak.” Artika berkata pelan.

Ia mungkin bisa kembali ke rumahnya. Ia mungkin bisa berakting seakan-akan ia membatalkan liburan yang ia siapkan untuk bersama Rangga. Ia mungkin akan menemukan alasan yang masuk akal untuk membatalkan cutinya, lalu kembali bekerja.

Tapi…

Artika nyaris menangis lagi. Ia begitu rapuh kini, ia begitu lemah. Adalah sesuatu yang tak mungkin jika ia kembali ke Jakarta, lalu menghadapi pertanyaan semua orang yang ingin tahu. 

Kalimat “gue akan menghabiskan cuti 3 bulan bersama si yayang lhooo~oo.” telah ia ucapkan nyaris kepada semua orang. Betapa bodohnya. Kini, setelah rencana indah itu gagal, tentu mereka akan bertanya-tanya. Semua orang pasti akan mencecarnya dengan tuduhan dan tebakan.

Dan itu hanya akan membuatnya semakin terluka.

Ia hanya butuh sendiri. Ia hanya butuh mencerna semuanya sendiri. Ia hanya ingin memikirkan semuanya dengan baik, dengan tenang. Ia butuh tempat dimana ia bisa berteriak sepuasnya dan sekencangnya hanya untuk melegakan dirinya.

Ya, Artika tahu ia harus pergi sejauh mungkin. Sendirian.

“Mbak, jangan ke Jakarta, deh. Ambil tiket yang menuju Jogjakarta saja.”

Jogjakarta! Sejak dulu ia ingin kesana. Eksotisme daerah itu telah memenjara hatinya sejak lama. Dan kini Artika akan mengandalkan kota itu untuk menyembuhkan hatinya. Disana ia akan sendirian, tanpa seseorangpun yang ia kenal. Ia akan berpetualang kemana saja kakinya melangkah, menyibukkan diri dan pikirannya mengenai hal-hal baru agar mampu 'melupakan'. Ia akan bertemu dengan sebanyak mungkin orang untuk menenggelamkan diri di cerita mereka. Petualangan baru! Pencarian baru!

Ya! Ia akan pergi dan mencari penyembuh hatinya di Jogjakarta selama 92 hari ke depan!

(bersambung)

4 komentar:

  1. males deh tapi, ceritanya ga ada kelam-kelamnya, ga asyiiii~ik :( jadi ga semangat lanjutin deh hahaha..

    ReplyDelete
  2. semangat dong!!!
    tp kok dari semua cerpen yang km buat rata2 ending-nya diserahin pembaca. Gak ada yang happy ending??
    coba aja kali ini g usah kelam, yang happy-happy aja hehehehe....

    ReplyDelete
  3. Semangat dong!!!

    Dari sekian banyak cerpen yang kamu tulis kebanyakan endingnya diserahin pembaca dan gak pernah happy ending kenapa???
    coba kali ini happy ending dan gak kelam-kelam trus hehehe ^^

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers