Child Migration: Kasus Penculikan 150.000 Anak-anak oleh Pemerintahan Inggris

Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang diculik, dipisahkan ribuan kilometer dari rumah dan orangtuanya, untuk menghabiskan masa remaja dengan bekerja paksa dan menerima berbagai jenis kekerasan, bahkan kekerasan seksual, di negeri yang sama sekali asing?

sumber gambar disini

MARGARETH HUMPHREYS, SANG PEJUANG

Menjadi pekerja sosial jelas bukanlah hal yang mudah. Bukan hanya berbicara mengenai resiko yang besar, kesulitan yang dihadapi saat bekerja, hingga gaji yang tidak layak—bukan, karena hal yang paling berat adalah menghadapi stress dan tekanan yang muncul akibat bersentuhan dengan luka orang lain dan ‘menyerap’nya menjadi luka-mu sendiri.


Sebelum magang di LBH APIK, saya tidak pernah mampu membayangkan rasanya bekerja di sektor ini. Namun bahkan, 3 bulan sudah cukup membuat saya kewalahan menghadapi stress yang saya terima akibat menangani belasan kasus kekerasan. Itulah sebabnya, saya sangat mengagumi sosok Margaret Humphreys, perempuan Inggris yang saat ini menjabat sebagai Direktur Child Migrants Trust.


Sumber gambar disini
Margaret dan suaminya, Mervyn Humphreys awalnya bekerja di Dinas Sosial Inggris selama bertahun-tahun, hingga kemudian pada tahun 1986, Margaret menemukan kasus yang sangat sulit untuk ia percaya pada awalnya—yaitu skandal mengerikan Pemerintahan Inggris mengenai migrasi besar-besaran lebih dari 150.000 anak dari keluarga miskin di Inggris, ke negara-negara seperti Australia, Kanada, New Zealand, Rhodesia, dan negara-negara persemakmuran Inggris lainnya. Margaret mendapat surat dari seorang perempuan Australia yang menyatakan bahwa saat ia berumur 4 tahun, ia disekap dalam kapal dari Inggris menuju Australia dan memohon Margaret untuk membantunya menemukan keluarganya di Inggris.

“How could this happen? Why don’t people know about it and why aren’t people outraged now they know?”
Margaret Humphreys (Metro, 2011)

Tentu awalnya Margaret mengira perempuan ini berbohong karena menurut hukum yang berlaku, tidaklah mungkin segerombolan anak-anak disekap dalam kapal, tanpa pendampingan, menuju negeri yang sama sekali asing, tanpa pemberitahuan orangtua maupun berkas-berkas dokumentasi mengenai identitasnya. Namun pada kenyataannya, inilah yang terjadi.

Observasi yang dilakukan Margaret akhirnya menguak skandal sekaligus state crime yang dilakukan oleh pemerintahan Inggris serta pemerintahan negara persemakmuran lainnya, yaitu skema child migration (saya pribadi lebih suka menyebutnya ‘penculikan’ bahkan trafficking) besar-besaran, dimana dalam berita situs BBC yang berjudul ‘British Children Deported to Australia’, dijelaskan bahwa pada tahun 1940, 50-an, hingga 60-an, pemerintah Inggris telah menipu banyak anak-anak dan mengirim mereka ke Australia sebagai ‘good white stock’—yang kemudian saya pahami sebagai salah satu upaya menjadikan kulit putih sebagai ras yang mayoritas di berbagai belahan negara persemakmuran inggris tersebut.

Upaya migrasi ini dilakukan dengan pemaksaan, penculikan, bahkan penipuan. Anak-anak ini diberitahu bahwa orangtua mereka telah meninggal, dan mereka akan dikirim ke suatu negara dimana matahari terus bersinar dan mereka bisa memetik jeruk sesuka hati, bahkan mengendarai kuda ke sekolahnya. Padahal kemudian, anak-anak ini dikirim ke panti asuhan, perkebunan, hingga lahan pembangunan untuk bekerja paksa mendirikan gereja dan sebagainya.

SEJARAH CHILD MIGRATION DI INGGRIS

Dari berita yang gue baca di situs BBC News yang diterbitkan pada tanggal 20 Mei 1998 dengan judul “The Children Britain Did Not Want” (aishh, judulnya aja udah bikin nyesek), selama lebih dari 100 tahun, Inggris mengirimkan banyak dari warganya keberbagai belahan dunia. Memang, beberapa diantaranya berangkat dengan sukarela karena ingin mencari penghidupan yang lebih layak (BBC News, 1998).

Namun pada kasus child migration ini, ditemukan bahwa ratusan ribu anak-anak dari keluarga miskin atau broken home, telah ditipu dan dikirim keluar Inggris agar pemerintah Inggris tidak perlu mengeluarkan biaya ‘sosial’ yang besar untuk mereka, serta membantu Inggris mendongkrak kesejahteran warganya (ada yang merasa kalau kebijakan ini mirip-mirip dengan pemikiran Hitler atau Orde Baru?).

The Daily Telegraph mengemukakan alasan King James I yang memerintahkan migrasi ini pada Thomas Smyth, orang yang memiliki otoritas di Virginia Company (perusahaan kolonisasi Amerika) untuk mengirimkan “orang-orang berusia muda”  yang dianggap berpotensi menjadi masyarakat yang ‘bermasalah’ dengan alasan “clear our court from them” (The Daily Telegraph, 2011).

Mereka dilabel sebagai yatim-piatu, meskipun sebagian besar dari mereka masih memiliki orangtua, dipisahkan dari saudaranya, dan dieksploitasi untuk bekerja, bahkan juga dieksploitasi sebagai obyek seksual para biarawan dan biarawati di gereja.

KEKERASAN YANG DILAKUKAN OLEH PENDETA DAN BIARAWATI


sumber gambar disini

Diantara anak-anak ini, mereka yang dikirim ke Bindoon yang dibawahi oleh Catholic Cristian Brothers, merupakan anak-anak yang menerima perlakuan yang paling mengerikan. Mereka dipaksa membangun bangunan Bindoon, menerima kekerasan yang luar biasa, termasuk perkosaan dari pendeta-pendeta di Bindoon, hingga akhirnya praktik ini dihentikan pada tahun 1967. Setiap malam, para pendeta memilih satu dari mereka untuk disodomi bersama dan disebut sebagai ‘The Chosen One. Bahkan kemudian ditemukan bahwa banyak anak-anak ini yang kemudian meninggal di dalam institusi tersebut. (BBC News, 2006).

"Madness, ruthless and sadistic madness on the part of at least some of the nuns and a depthless depravity on the part of some of the men who inhabited the place are the defining characteristics of those who ran the orphanage." (BBC News, 1998)

Dalam berita lain yang juga diturunkan oleh situs BBC News, anak-anak yang berada dalam panti asuhan Neerkol di Queensland bahkan disiram dengan air mendidih, dikunci di ruang bawah tanah, dicabuti kuku-nya, dicambuki, hinga diperkosa selama  90 tahun. Seorang anak perempuan bahkan dipatahkan tangannya karena berpegangan tangan dengan anak laki-laki yang sesungguhnya merupakan saudaranya. Ia dianggap ‘kerasukan setan’ dan dibakar oleh biarawati disana. Setelah terkuaknya kasus ini, pihak yang bertanggung jawab, termasuk Sisters of Mercy, telah meminta maaf kepada para korban (BBC News, 1998).

SAAT TRAFFICKING ANAK DILAKUKAN SECARA TERORGANISIR OLEH NEGARA

Dalam kasus child migration ini, telah jelas dan juga sudah didukung oleh berbagai bukti bahwa pemerintah-lah yang menjadi pelaku perbuatan yang luar biasa kejam ini. Karena bahkan pada tahun tersebut, tidak mungkin ada pihak yang dapat mengirimkan begitu banyak anak-anak dari Inggris ke berbagai negara tanpa persetujuan pemerintah.

Pada awal kasus ini terkuak karena perjuangan Margaret dan kolega-nya di CMT, pemerintah menolak bertanggung jawab atas segala kesalahan yang mereka lakukan. Bahkan, dibutuhkan 23 tahun hingga akhirnya pemerintah Inggris melalui Perdana Mentrinya, Gordon Brown, meminta maaf pada tahun 2010 (iye, baru tahun 2010) kepada ribuan anak—anak yang dipaksa menuju wilayah mantan koloni Inggris. Bahkan dalam permintaan maaf ini, PM Brown sempat-sempatnya ‘ngeles’ dengan menyatakan bahwa alasan pemerintah melakukan child migration ini adalah ‘untuk mencari kehidupan yang lebih baik’ (RNW Indonesia, 2010).

Namun bagaimana-pun juga, permintaan maaf yang setengah-ngeles ini begitu besar maknanya bagi para korban sekaligus Margaret yang bertahun-tahun dituding menyebarkan cerita bohong dan fitnah bagi pihak gereja dan pemerintah.

“The child migrants and their families were deeply moved by Gordon Brown’s apology on behalf of the nation. I thought it was essential and a good day for the nation.” Margaret Humphreys (Metro, 2011)

Saat ini pemerintah Inggris memang sudah berjanji akan memberikan dana bagi korban child migration yang ingin kembali ke Inggris untuk menemui saudaranya. Namun mekanisme pembiayaan ini belumlah mencapai kata adil, karena kemudian pemerintah membuat pengecualian bagi mereka yang keluarganya sudah meninggal dan ingin mengunjungi makam keluarganya.

AKHIR YANG TIDAK SELALU BAHAGIA


sumber gambar disini

Dalam banyak kasus, memang terdapat happy ending dimana anak-anak yang ‘diculik’ ini bertemu lagi dengan keluarga mereka, menemukan jati diri mereka yang sebenarnya serta memenuhi ‘lubang kosong’ di hati mereka akibat luka luar biasa yang ditimbulkan oleh kekejaman ini.

Seperti halnya dalam kasus Rose Kruger yang dibawa ke Australia pada umur 11 tahun, namun akhirnya kembali ke Inggris, rumahnya, dan bertemu kembali dengan saudara perempuannya (BBC News, 1998). Namun hingga saat ini, masih banyak mereka yang belum menemukan keluarga maupun jati dirinya, atau bahkan telah menemukan keluarganya  namun justru menemukan bahwa keluarga yang ia tunggu-tunggu telah meninggal dan ia ‘terlambat’ menemukan mereka.

Perjuangan inilah yang kemudian terus dilakukan oleh Child Migrants Trust yang berupaya untuk melacak identitas mereka yang menjadi korban dalam child migration, mencari keluarga mereka, dan mempertemukan korban dengan keluarganya.

FILM ‘ORANGES AND SUNSHINE’


sumber gambar disini

Kisah perjuangan Margaret Humphreys kini telah diangkat dalam film berjudul ‘Oranges and Sunshine’ yang disutradarai oleh Jim Loach dan dibintangi oleh Hugo Weaving, David Wenham, serta Emily Watson. Film ini dibuat dengan menggandeng Margaret Humphreys serta Child Migrants Trust sendiri. Film ini juga menjadi media Humphreys dan kolega-nya untuk menyiarkan kebenaran mengenai kasus child migration dan menyadarkan para korban yang masih belum melaporkan kisahnya.

Adapun, menurut saya, film ini berhasil memotret beratnya perjuangan Margaret dan lembaga CMT dalam memperjuangkan hak-hak, pertanggungjawaban, dan kesempatan korban child migration dalam mendapatkan identitas asli dan keluarga mereka. Scene-scene yang ada menggambarkan Margaret sebagai sosok pahlawan sekaligus manusia biasa yang sangat menderita karena menerima berbagai tekanan, termasuk berjauhan dengan keluarganya.


 SUMBER REFERENSI

BBC News. (2006, Maret 6). British Children Deported to Australia. Retrieved Juni 23, 2013, from BBC Home: http://www.bbc.co.uk/insideout/eastmidlands/series9/week_nine.shtml
BBC News. (1998, Maret 30). Orphans 'Tortured' by Nuns for 90 Years. Retrieved Juni 23, 2013, from BBC News: http://news.bbc.co.uk/2/hi/asia-pacific/71733.stm
BBC News. (1998, Mei 20). The Children Britain Did Not Want. Retrieved Juni 23, 2013, from BBC News: http://news.bbc.co.uk/2/hi/uk_news/96875.stm
Child Migrants Trust. (n.d.). Retrieved Juni 23, 2013, from http://www.childmigrantstrust.com/
Metro. (2011, Juli 25). Margaret Humphreys: Emily Watson's Potrayal of Me Was Surreal. Retrieved Juni 23, 2013, from Metro: http://metro.co.uk/2011/07/25/margaret-humphreys-emily-watsons-portrayal-of-me-was-surreal-91358/
RNW Indonesia. (2010, Februari 24). PM Gordon Brown Minta Maaf. Retrieved Juni 23, 2013, from Radio Nederland Wereldomroep Indonesia: http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/pm-gordon-brown-minta-maaf
The Daily Telegraph. (2011, Juni 09). Better Life or The Empire Fodder? Retrieved Juni 23, 2013, from The Daily Telegraph: http://www.dailytelegraph.com.au/better-life-or-the-empire-fodder/story-fn6b3v4f-1226071919369

4 komentar:

  1. menarik nih kayaknya. ntar malam deh saya baca ini Insya Allah

    ReplyDelete
  2. Dan, mengapa Australia, jika di hitung secara sistematik, lebih banyak warga keturunan Inggris, ya karena bekas negara pesemakmuran.
    Kalau Rhodesia, setahu saya, kebanyakan keturunan Amerika, tapi pada tahun berapa gitu, kebanyakan kulit putih di sana di bantai & di perkosa.
    Tapi secara keseluruhan, masih seruan kisah Man Of Steel vs Hitler, pada era 1901 hingga 1943 :)

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers