Sebut Saja Gadis

Mereka korban.
Namun mereka tetap disalahkan karena menjadi korban.
Mereka. Bernama. ‘perempuan’.

Ada stigma di dalam masyarakat yang memandang bahwa perempuan yang menjadi korban perkosaan adalah perempuan yang hina dan ia diperkosa karena kesalahannya. (Taslim, 1995)

Masyarakat memberi label bahwa perempuan korban perkosaan sengaja ‘menggoda’ dan ‘menantang’ laki-laki dengan memakai pakaian mini, rok ketat, berdandan menor, bahkan sengaja mengundang nafsu birahi laki-laki pemerkosa (Bernas, 1995; Kompas, 1995; Taslim, 1995)

Secara psikologis, korban perkosaan berpotensi mengalami trauma jangka panjang (Post Traumatic Stress Disorder), tentunya karena peristiwa perkosaan merupakan suatu hal yang mengguncang keadaan fisik dan mental korban perkosaan.



SEBUT SAJA GADIS



Jika saja hanya kematian satu-satunya yang bisa menolongku terlepas dari semua mimpi buruk ini, aku tak akan pernah merasa keberatan menenggelamkan diri dalam pelukannya.

Sungguh.

“Sial! Panggil dokter! Denyut nadinya melemah lagi!”


Suara-suara berputar diatasku bagai burung pemakan bangkai. Menyebalkan sekali, seandainya mereka memang benar burung pemakan bangkai. Setidaknya aku kan sudah mati kan, kalau begitu? Tapi kehidupan masih terasa menggerogotiku dari dalam. Memuakkan. Menjijikkan. Aku ingin melepaskan jiwa ini dari tubuh kotor yang nista ini.

Aku ingin mati.

Menurutku seperti halnya hidup, mati itu juga hak individu yang tidak boleh dilepaskan selama kami masih manusia. Kenapa hak untuk memilih mati disingkirkan dari piagam HAM? Siapa yang paling tahu mengenai kebutuhan hidup-mati kecuali orang yang mengalaminya? Mereka boleh berkoar bunuh diri itu hina. Namun selama mereka tidak pernah merasakan apa yang dirasakan oleh mereka yang memilih mati daripada menjalani hidup yang terlalu mengerikan, orang-orang sok sosialis itu tak akan mengerti.

Sungguh, aku ingin mati.

Jadi tolong, jangan panggil ‘penyelamat-nyawa’ berbaju putih itu lagi.

“..anak ini.. hh.. hh.. seperti menolak hidup saja!” suara bercampur deru nafas lelah terasa dekat.

“wajarlah, dok. Dia baru diperkosa setengah lusin pria!”

..degg..

HENTIKAN!! JANGAN UCAPKAN ITU!!

Rasanya aku baru saja menjerit. Bersama tubuhku, berbarengan dengan jiwaku. Hanya lidahku yang tak melakukan apapun. Kembali semburan cahaya kelam-putih berputar mengerikan; mengantarku dengan keras ke hempasan permainan mental yang menyedihkan.

Aku hilang.

Tapi akan kembali datang, sialnya.

* * *

“Gadis, makan dulu ya sayang?”

Aku benci nama itu.

Sejak dulu, mungkin sejak kedua orangtuaku yang bodoh memberikannya saat aku masih berupa orok yang bodoh dan lemah. Nama yang mengundang ambiguitas. Nama yang memancing tanya dan tawa. Nama yang melahirkan ironi; terutama saat harfiahnya tak lagi sesuai denganku saat ini.

Lagipula lucunya lagi, mereka yang diperkosa di media-media sering kali namanya disamarkan dengan ‘sebut saja gadis, sekian tahun’. Tapi ini beneran perempuan yang bernama gadis yang diperkosa, lho! Nggak perlu ‘sebut saja’ karena memang namanya gadis! Kurang ironis apa coba? Ha-ha-ha!


Gadis.

Ha-ha-ha!

Gadis?

Demi Tuhan-yang-Tak-Selalu-Ada-Saat-Dibutuhkan, aku kini bahkan tidak ‘gadis’ lagi…

“Nak, kamu sudah 3 hari belum makan apa-apa… Nanti kamu sakit, sayang… Makan sedikiiit saja, ya?” suaranya tersendat seakan nyaris menangis.

Ya, Mama.

Sakitnya paling seberapa sih? Cukupkah untuk membuatku mati, Mama? Aku tidak ingin tinggal di dunia di mana orang-orang akan menertawai kesakitanku. Aku tidak ingin tinggal di dunia di mana orang-orang memandang rendah aku yang saat ini. Aku tidak ingin tinggal di dunia dimana aku tak lagi bisa memandang masa depan.

Dia diperkosa ya? Iih! Makanya jangan kegenitan! Pakai baju kok bergaya bener sih? Rasain tuh, jablay sih!

Eh, dia katanya baru diperkosa lho! Bisa di’pake’ dong? Ga akan keberatan juga kan, ya? Lagipula sudah nggak perawan! Sekalian saja! Hahahaha.

Kok kamu masih mau deket-deket sama dia sih? Dia katanya diperkosa lho. Jijik banget, ya ga sih?

Mereka akan menertawaiku, Mama. Karena mereka masih memiliki apa yang memang menjadi hak mereka, sedangkan aku tidak. Mereka akan merendahkanku, Mama, karena kini aku tidak lagi memiliki sesuatu yang paling dibanggakan perempuan. Mereka akan menyiksaku, Mama, karena aku sudah disiksa dan hal itu hanya membuat mereka mengira aku memang pantas disiksa.

Tuh kan, Mama? Siapa yang bisa bilang kematian itu mengerikan jika hidup terasa sebegini menjijikannya?

“Maaf ya Mama, aku hanya ingin mati…”

Isak tangisnya membahana, mewarnai langit kelabu-kemerahan milik Jakarta. Ia memelukku dan menjerit pedih. Ya, pedih. Kepedihan yang bahkan membuatnya mau saja mati bersamaku. Aku anak gadisnya. Anaknya yang baru diperkosa orang dan kini berkata ia ingin mati. Ia melahirkanku dan membesarkanku untuk melihat aku bahagia dan dibahagiakan kehidupan.

Aaah, aku bingung. Siapa yang lebih sakit ya sebenarnya? Ia atau aku? Mama yang merasa gagal melindungi gadis kecilnya atau aku yang gagal melindungi kegadisanku? Mama yang menyaksikan kepedihan meruntuhkanku atau aku yang runtuh karena kepedihan?

Tapi lalu, ia mendengar aku sudah memilih mati.

* * *

“Aku akan tetap mencintai kamu, Dis!”

Ia bergerak untuk meraih tanganku, namun kutepis.

Jangan disentuh, Arkha. Aku kotor. Jika kamu sentuh, nanti kamu ikut kotor. Memang aku sudah mandi berkali-kali, sih. Satu hari ini saja aku bahkan sudah mandi 7 kali. Dengan banyak sabun, membasuh semua tempat yang kira-kira pernah diperciki air mani makhluk-makhluk biadap itu.

Namun setiap kali aku menutup mata semuanya kembali, Arkha.

Ruangan kotor dengan tikus dan kecoa berseliweran acuh, tak terpengaruh jeritanku yang kesakitan. Tumpukan sampah dan barang-barang apek berbau gudang. Lampu kuning menjijikan yang hanya diam. Tawa kekeh penuh hasrat. Bau memuakkan campuran keringat, kebiadapan, kebinatangan, dan air mani. Tubuhku yang diperlakukan seperti ternak.

Kotor.

Aku kotor.

Aku tahu, sejak saat itu bahkan, aku tahu. Aku tak akan pernah kembali bersih. Oleh sebab itu jangan menyentuhku, Arkha. Nanti kamu ikut kotor.

“Jangan begini, Gadis… Sakit rasanya melihat kamu begini… Aku mencintaimu. Aku akan dan akan selalu menerima kamu apa adanya. Karena aku mencintai kamu, Gadis. Tapi jangan begini… jangan hancur begini, Gadis… sakit sekali rasanya. Semua ini memang berat, tapi kamu masih punya aku, Gadis… Percayalah. Jangan menyerah.”

3 tahun aku berpacaran dengannya, dan kini aku melihatnya menangis sesenggukan. Menyingkirkan semua harga diri yang biasanya melekat erat padanya seperti pantat. Ia menangis sembari mengiba-iba.

Aaah, Arkha. Ternyata bukan aku sendiri saja yang hancur, ya?

* * *

Malam adalah yang terberat. Karena keheningan akan membawa suara-suara dari masa lalu itu padaku. Memejamkan mata hanya akan membawa kilasan erat-pekat kejadian saat itu. aku tak bisa lari kemanapun. Selama tubuh ini masih mengikuti jiwaku, aku tak akan pernah bisa tenang. Karena masalahnya terletak di tubuh ini. Tubuh yang sudah kotor ini.

Aku memandang jendela kamar rumah sakit yang kutempati ini.

Merasakan darah dari luka mengerikan di bagian vitalku masih menetes pelan.

Tapi yang lebih terasa adalah luka di hatiku yang layaknya lubang besar tanpa tepi dan dasar.

Aku menjejakkan kaki di lantai keramik yang dingin.

Langkahku tak bersuara seperti setan.

Jendela itu terbuka tanpa suara.

Angin menghempas, gorden mengibas.

Kursi di bawahnya memudahkanku memanjat.

Aku ada di atas kini, dari ketinggian sekitar 6 lantai.

“JANGAAAN!!” seseorang menggebrak pintu dan menjerit. Mencoba berlari untuk meraihku. Mencoba menghentikanku meraih kebebasan yang setengah mati eh, sepenuh mati yang kuinginkan.

Terlambat, lho.

Aku terjun, merengkuh erat pelukan kebebasan. Ya! Sebentar lagi aku akan meninggalkan tubuh nista ini. Sepertinya akan sakit saat menghantam lantai nanti. Tapi apalah artinya jika itu bisa membebaskanku dari kesakitan berkepanjangan nanti?

Aku bebas, lho. Kini aku pergi. Menuju kebebasan dan keadilan versiku sendiri.

5 komentar:

  1. Widiiiiih,,, ceritanya kritis! Lanjutkan!

    ReplyDelete
  2. hmm...keren euy..sumpah sadis abis ceritanya

    ReplyDelete
  3. @kak zikri: fufufu. mohon bantuannya dan bimbingannya kak. O.O
    @nndi : hehehe. iya bebii. makasii :-*
    @annas: kok saddiiis? O.O

    ReplyDelete
  4. cerita yang tak ada awal dan tak ada ujung.....apakah kehidupan itu juga tak ber awal dan tak ber ujung...???

    ReplyDelete
  5. hihihi.. maklum, om don. be baru belajar ^^ hehehe

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers