Kegelapan Berduka


Sosok itu bergerak cepat dan pasti dalam kegelapan total. Seakan ia memang bagian dari kegelapan yang menyelimuti tempat ini. Seakan ia memang dilahirkan untuk berada dan hidup dalam kegelapan. Aku memejamkan mata, namun suara nafasnya pun tak bisa kudengar. Ia lebih sepi dan halus dari bayangan. Bau darah menguar dari tubuhnya, tapi aku berani bertaruh ahli forensik manapun tak akan bisa menemukan darah di pakaian yang ia kenakan, bahkan dengan bantuan luminol sekalipun.

Seperti biasa, ia ‘bekerja’ terlalu rapi.

“Anna, kamu belum tidur?”

Tenang sekali suaranya. Dalam kegelapan, mataku tak mampu menatap raut wajahnya. Hanya saja pastinya, tetap saja tak ada yang bisa dibaca disana. Padahal tentu seseorang diluar sana telah kehilangan nyawa karena dia. Namun orang yang aku panggil ayah ini adalah seonggok daging tak beremosi.

“Aku tidak bisa tidur, Ayah.” Aku berdiri dan menghidupkan lampu meja di sampingku. Kedatangan cahaya yang tiba-tiba tak menimbulkan reaksi apapun pada bola matanya. Ia tetap menatapku tajam dan erat, mungkin penuh prasangka.


“Dasar bandel.” Sekejap wajah es nya meluntur dalam senyum hangat. Senyum yang kutahu tidak palsu. “Kamu menunggu Ayah, ya? Kan sudah Ayah bilang, kamu masih terlalu kecil untuk bergadang.” Ia mendatangiku untuk menggendong tubuh kecilku di dadanya yang bidang. Kulitku yang disentuhnya merinding, namun senyum kekanakanku tak lepas dari wajah.

“Bacakan dongeng ya, Ayah. Malam ini aku mau The Lady with the Alligator Purse.”

“Bagaimana kalau The Tale of Peter Rabbit saja, hem? Dari dulu Ayah selalu merasa The Lady with the Alligator Purse kurang cocok untuk anak berumur 7 tahun. Hahahaha.”

Ia meletakkanku dengan hati-hati di atas kasurku yang empuk. Sembari menyingkirkan sejumlah boneka yang bertebaran disana, lelaki itu duduk di tepi tempat tidurku, mengambil buku dongeng dengan ilustrasi indah dan mulai membacakannya untukku.

Aku tidak memerhatikan cerita anak-anak konyol itu. aku sudah menghafal semuanya dalam sekali baca. Yang kini aku perhatikan adalah lebam samar di tangan lelaki ini. Tak kuasa kutahan seulas senyum tipis. Kelihatannya korbannya malam ini cukup tanggung untuk memberikan perlawanan sebelum kematian menjemputnya.

* * *

‘Siapa?’

‘Putrinya Monica. Kita bunuh juga?’

‘Jangan. Kudengar putrinya Monica bocah yang jenius. Dengan didikan yang pas ia bisa menjadi salah satu agen kita. Bawa saja ke markas.’

‘Jenius? Yang kutemukan ini bocah 3 tahun!’

‘Ia sudah bisa berbicara dalam kalimat lengkap sejak umur 19 bulan. Ia mampu menghafal kamus sejak umur 2 tahun. Mereka bilang, ia salah satu dari fenomena anak Indigo.’

‘Bagiku Indigo dan Autis tak ada bedanya.’

‘Kalau begitu kau yang tolol, Will. Anak ini akan jadi wanita dewasa yang jenius. Dan kelihatannya kecantikan Monica juga menurun padanya. Ia akan jadi agen kita yang paling berbahaya. Dengan otak Einsten dan tubuh serupa model halaman tengah majalah Playboy.’

‘Dia membuatku takut, Troy. Lihat matanya! Aku punya firasat suatu saat anak ini akan menikam kita sebagai ganti pembalasan ibunya!’

‘Jangan tolol. Bawa saja anak itu!’

* * *

“Anna, cita-citamu apa kalau sudah besar nanti?” dengan tangannya yang besar, kasar, serta tak cocok memegang sisir pink anak perempuan, lelaki itu menyisiri rambutku yang indah. Tangan yang biasa berlumur darah itu mampu sebegini lembutnya? Ah, ia bahkan melakukannya lebih baik daripada ibu.

“Aku ingin jadi sepertimu, Ayah.” Jawabku sembari tersenyum lebar. Palsu, tentu saja. Tapi mana tahu dia.

“Jadi seperti ayah?” kulihat ia tertegun. Mungkin menebak apa artinya kalimatku barusan. Prasangkanya menggelora di dalam jiwanya seperti badai  lautan. Namun aku tahu ada tekanan berat yang lebih berkuasa dari sisi lain. Tekanan dari rasa sayang dan cintanya padaku. Hmm, lelaki ini mengenal arti menyayangi lewat aku—bocah yang ia pungut.

Lucu juga melihat pembunuh jatuh cinta. Aku tahu ia agen tempur terbaik di organisasinya. Itu yang kudengar malam itu. saat aku dibawa paksa meninggalkan ibuku yang tak lagi bernafas, ke sebuah bangunan rahasia bawah tanah. Saat itu aku dipamerkan bagai ternak sirkus. Mereka berdebat apa aku sebaiknya dimusnahkan atau di’bina’.

Saat itu mereka semua terlihat sebagai predator.

Hanya lelaki ini yang tidak. Ia muncul entah dari mana, berlutut di depanku dan tersenyum, mengusap rambutku lembut dan menawariku sebatang cokelat swiss yang lezat. Ia bertanya dengan penuh atensi, mengkhawatirkan keadaanku. Tak butuh waktu lama bagi orang-orang itu untuk memutuskan pengasuhanku padanya.

Sejak saat itu aku hidup bersamanya. Seorang pembunuh yang setiap malam berkeliaran dengan tubuh dingin licin tanpa nafas. Seperti malaikat pencabut nyawa dalam bentuk lelaki tampan yang kharismatik.

Lelaki yang mungkin terlalu dibutakan rasa sayang hingga tak menyadari pisau yang kutempelkan erat-erat di vena tenggorokannya.

* * *

“Anna, kamu tidak suka kucing, ya?”

Aku menoleh dengan hati-hati. Setengah mati berusaha menahan tawa yang hendak aku lepaskan saat melihat kalung kucing bodoh itu di tangannya. Kelihatannya kuburan yang kugali untuk makhluk menyebalkan itu telah ditemukan. Kok bisa ya, padahal galianku lumayan dalam lho.

“Dia menyebalkan, Ayah. Terus menerus berisik dan mengikutiku kemana-mana.” Yah, salahmu juga sih, Ayah, memberikan kucing bego padaku sebagai hadiah ulang tahun. Bagiku daging segar yang tidak punya otak lebih baik jadi barang praktek kesenian dan berakhir di pemakaman.

Lelaki itu memandangku penuh-penuh. Tanpa emosi seperti biasanya, tentu saja. Namun bola matanya seperti menembus relung jiwaku yang mati-matian aku sembunyikan. Sial, pemahamannya membuatku jadi pegal-pegal.

Sejenak aku mengira ia akan mengeluarkan kata-kata. Atau serangan barangkali? Mungkin bahkan bisa saja ia langsung ketakutan lalu membawaku ke tempat menyeramkan itu. sudah pasti para predator itu akan memangsaku, kemudian. Itu sebabnya aku kaget saat ia hanya menghela nafas panjang. Hah? Si pembunuh ini terdengar seperti pasrah? Yang benar saja, ah.

 “Kamu tahu, Anna? Menjadi seseorang seperti ayah tidak pernah membahagiakan. Ayah berharap bisa menjauhkanmu dari semua itu. kamu mengerti kan, Anna?”

Ya. Aku terlalu mengerti, Ayah. Mungkin justru itu masalahnya sebenarnya.

* * *

Malam ini aneh. Kegelapan jauh lebih berat dan pekat dari biasanya. Rasanya seperti… berduka? Memang kegelapan bisa berduka? Tapi serius. Rasanya seperti itu. Selama 4 tahun, kegelapan telah menjadi sahabatku dan lelaki itu. sedikit banyak aku jadi mengerti bentuk dan sifat kegelapan, itu sebabnya yang malam ini bisa dikategorikan ‘berduka’. Rasanya mengiris sedih. Ah, susah juga mendeskripsikannya dalam kata-kata. Mungkin kau harus merasakannya sendiri agar mengerti.

Kenapa ya?

BRAKKK!!

Refleks, aku mengeluarkan pisau bedah yang kucuri dari rumah sakit di ujung blok ini. Pisau yang telah menemani beberapa ‘pengalaman’ kecilku dengan makhluk-makhluk bodoh. Selama ini aku menghindari makhluk yang berotak. Habisnya aku sudah menetapkan. Darah pertama yang akan membasahi pisau lucuku ini adalah darah lelaki itu.

Lalu suara berisik di belakang itu siapa ya? Apa aku harus mengambil pisau lainnya? Sayang sekali jika pisau lucuku ini harus digunakan sebelum waktunya.

“…Anna…”

Lho? Suaranya si lelaki pembunuh itu?

Aku menyusuri ruangan secepat kaki pendek ini bisa membawaku. Wangi manis darah langsung menyembur saat aku mendekati asal suara tadi. Pintu belakang kami terbuka, dan si lelaki itu terbaring di lantai. Nafasnya berat, ia berbau darah miliknya sendiri, dan dadanya berlubang.

Eh?

Kesadaran memukulku kuat-kuat. Rasanya otak yang selalu aku banggakan itu membeku dalam hitungan nano-detik. Lututku lemas hingga aku terpaksa berlutut di atas genangan darah lelaki itu.

Jangan!! Ini tidak adil!!

“..na..” gumam lelaki itu, mulai kehilangan kesadaran.

“Ayah?” panggilku hati-hati. Ia tidak mungkin akan mati, kan?? Tidak mungkin!!

“..aku.. memang bukan.. ayah.. kandungmu..” jiwanya berpendar terang-redup seiring usahanya berbicara padaku. “Tapi.. ibumu..” Sebutir air mata bergulir di ujung matanya. Aaah, si pembunuh menangis? “..aku.. mencintai.. ibumu, Anna.. sungguh, hanya dia..” ada gelembung darah yang baru pecah di sudut bibirnya. “maaf.. ibumu… aku tidak bisa…”

“Shh!!” aku menutup mulutnya dengan tanganku. Anehnya, tangan itu gemetaran. Anehnya, pandangan mataku mulai kabur karena terasa panas dan berair. Apa aku juga melakukan kebodohan seperti menangis, misalnya? “Kau tidak boleh mati! Tidak boleh!! Aku yang harus membunuhmu! Hanya aku! Kau harus mati di tanganku!! Kau.. Kau… Kau kan sudah membunuh ibu…”

Ah, aku mulai terisak.

Bayangan cepat-singkat mulai memenuhi otakku. Lelaki ini, menyuapiku makanan. Lelaki ini, malu-malu menghadiahiku boneka. Lelaki ini, tertawa keras saat mendorongku di ayunan. Lelaki ini, mengecup sayang dahiku setiap malam. Lelaki ini, tak bosan menungguiku di perpustakaan. Lelaki ini, yang selalu mengatakan ia menyayangiku.

Kehangatannya jauh lebih besar dari ibu kandungku yang telah mati di tangannya…

Dendamku yang kekanak-kanakan telah membuatku menepis kenyataan mengenai ini semua.

“…aku menyayangimu, Anna.. kau.. akan selalu.. jadi putri kecilku..” ia tersedak-sedak dan mulai kehilangan fokus penglihatan. Namun energi terakhirnya ia fokuskan untuk mengusap rambutku—rambut yang setiap sore akan disisirinya dengan penuh sayang.  “..maaf, Anna.. maaf.. jangan.. tolong jangan jadi seperti aku, Anna..”

Nafas terakhirnya terdengar bagai simfoni kemalangan.

Aku tidak sadar sejak kapan aku mulai berteriak keras. Aku tidak tahu sejak kapan tanganku sudah memeluk tubuhnya yang mulai mendingin. Atau bahkan mengacuhkan pisau lucuku yang tergeletak tak berguna di sampingnya. Aku hanya memfokuskan diri untuk mengguncang tubuhnya, berharap ia akan bangkit, kembali bernafas, lalu memulai hari yang seperti selalunya.

Ayah…

Sungguh kata itu selama ini telah kehilangan maknanya.

Dua sosok tinggi-besar menginterupsi kemalanganku. Mereka berdiri di sana, menatap Ayah dan aku. Matanya dingin, seperti para predator itu. salah satu dari mereka meraba nadi Ayah untuk memastikan kematiannya.

“Mati.” Ia menolehkan bola mata dingin itu padaku. “Bocah ini?”

“Bawa saja.”

Sesuatu di dalamku mengeras dengan cepat dan pasti.

Perlahan, aku meraih pisau bedah yang tergeletak di antara genangan darah Ayah. Dengan sudut mata, aku melirik Ayah yang terbaring resah. Ia tentu akan marah, namun aku tak akan sudi dibawa pergi kemana-mana.

Maaf Ayah. Masalahnya, takdir juga mendukungku untuk menempuh jalan yang kau tempuh.

Dan pisau lucuku mulai menari-nari dalam kegelapan. Menciptakan simfoni kemalangan bagi orang lain, menumpahkan darah manis untuk membentuk lukisan abstrak bewarna merah di dinding dapur rumah kami.

0 komentar:

Post a Comment

Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers