Sounds Good, Cheri? (3 - Final)



..sebelumnya di Sounds Good, Cheri (2)...

Hidup yang tenang, bukan berarti selalu mudah untuk dijalani.

Hubungan kami seakan begitu sempurna. Tenang, bahagia, tanpa adanya konflik yang berarti.
Setiap hari hanya tertawa, menikmati hari, dan menutup hari dengan memadu cinta. Tidak ada lagi keresahan atau rasa bersalah. Yang ada hanya bahagia dan.. ya, bahagia.

Memang harus kuakui, sempat terjadi beberapa pertengkaran. Lea memang pribadi yang mudah tersulut, namun mas Adrian mengakui bahwa sejak adanya aku, Lea menjadi lebih tenang dan terkontrol dari biasanya. Ia bisa begitu marah pada mas Adrian, berteriak dan memukul, namun justru selalu lembut padaku. Ia seakan menyayangiku seperti adik perempuannya sendiri. Sosok yang ia tahu harus ia lindungi.

Karena itu, awalnya aku merasa seperti manusia yang tidak tahu diuntung saat mendapati diriku tidak bahagia dengan keadaan ini.

Apalagi yang kucari?


Pertanyaan itu terus-menerus kuulang dalam benakku.

Namun semua ini terasa salah. Bukan seperti ini yang kuinginkan. Seperti apapun mas Adrian dan Lea mencintai atau menyayangiku, tapi aku tak pernah mampu masuk ke ‘dunia’ yang terbentang diantara mereka berdua.

Aku selamanya tetap menjadi orang ketiga.

Dan kenyataan itu terlalu menyakitkan untuk diterima.

* * *

“Mas, Mbak… Aku ingin pergi.”

Sore itu, Lea dan Mas Adrian tengah berbaring tanpa sehelai benang-pun diatas kasur putih. Keduanya tampak letih dan mengantuk, saat-saat yang aku tahu tidak tepat untuk menyampaikan keinginanku.

Tapi, rasanya hati ini sudah tak kuat menahan lagi.

“Pergi kemana, cheri? Ke pantai lagi? Kemarin memang belum puas sih ya mainnya…” sahut Lea tak jelas. Sebagian mukanya memang masih terbenam di bantal.

“Bukan jalan-jalan, Mbak. Bukan bareng-bareng juga. Aku ingin pergi. Aku sendiri. Aku sudah mengepak barang-barangku, mulai saat ini aku tidak akan kembali lagi kesini.”

Keduanya kini menoleh. Wajahnya dipenuhi keterkejutan. Dan sedikit ketidakpercayaan. Namun jelas keduanya kini mendengarkanku dengan lebih serius.

“Kamu ngomong apa tho, Tiara?” mas Adrian yang berbicara.

“Aku ingin pergi, Mas.” Dengan datar aku mengulangi. “Aku tidak bisa hidup seperti ini terus.”

“Apa??” Lea memekik. Ia segera meloncat dari atas kasur dan menyambar kedua bahuku. “Tiara lo ngomong apa sih?? Ini apa-apaan??”

“Aku ingin pergi, Mbak. Dan ini sudah keputusanku.” Sahutku, lebih kuat.

“LO GILA!?” jerit Lea. Mas Adrian bertindak cepat, menyambar Lea dan menyeretnya untuk menjauhiku. “Kenapa sih lo ini?? Kerasukan apa??”

Baby, baby, please calm down…” Mas Adrian berusaha memeluk Lea, namun perempuan itu dengan kuat terus meronta.

“Aku tetap akan pergi! Aku bisa gila kalau terus seperti ini!” kini, aku mulai mendengar jeritanku mulai bercampur dengan tangis.

“Apa sih yang salah?? Apa lagi yang kurang, hah!? APA!!?” gerung Lea murka.

Dear, dear, sudah… oke? Everything gonna be alright! Kita masih bisa mencari yang lain, oke?” Mas Adrian melakukan segala usaha untuk menenangkan Lea.

“Setelah semua yang kami lakukan untuk lo, dan sekarang lo bersikap nggak tahu diuntung kayak gini!?” jerit Lea lagi, masih berusaha mencengkramku.

 “Tapi aku ngerasa, disini aku hanya dimanfaatkan!!” balasku.

“Dimanfaatkan?” desisnya. “Oh ya, tentu lo dimanfaatkan! Saat lo sudah nggak berfungsi baik lagi sebagai engsel. Lo terlalu banyak menuntut, terlalu banyak komplain tentang segalanya, itu berarti lo sudah-tidak-dibutuhkan, Tiara!”

“Engsel! Engsel! Kamu gila!! Aku manusia, Mbak!! Aku nggak bisa hidup cuma untuk pemanis hubungan kalian!!” jeritku. “AKU NGGAK BUTUH JADI ORANG KETIGA!!”

“BANGSAT!! Perempuan bodoooh!!!” raung Lea. “Lo seharusnya bahagia karena dicintai!!”

“Sayang, sayang. Hush! Sudah, oke?” suara mas Adrian mulai meninggi.

“Tapi dia harusnya sempurna! Kamu tahu itu! Perfect!!” jerit Lea. “Profilnya… dia… harusnya.. perfect!!” suara indah itu mulai terbata-bata, serak oleh air mata.

“Iya, baby… Tapi it’s doesn’t work, okay? And you know what? I’m tired of this kind of game! Aku nggak butuh ‘snack’ lagi, baby… aku sadar, kamu sudah cukup. Kamu yang terbaik. Kita sudah nggak butuh siapapun lagi untuk mewarnai hubungan ini, honey… okey? Just let her go… Sekarang, hanya ada aku dan kamu… Lagipula kita sudah akan menikah, oke, baby?”

Menikah?

Ada bagian dari diriku yang mati saat mendengar itu.

Ya, aku tahu, mereka berdua pasti suatu saat akan menikah. Pasti. Hanya tinggal menunggu waktu. Dan dalam rencana terdahulu, kemungkinan besar aku akan tetap bersama mereka. Entah sebagai apa.

Tapi, menikah?

Jauh di dalam hatiku, aku bersyukur karena sudah memutuskan untuk pergi dari cinta segitiga ini.

“Gimana sih… kenapa gini…” Lea mulai mengisak. Ia terhuyung dan terduduk di atas kasur.

Mas Adrian memanfaatkan ketenangan Lea untuk menjalin kontak mata denganku. Ia memintaku untuk keluar dari kamar itu – sesuatu yang segera aku turuti dengan senang hati. Aku segera mengumpulkan barang-barangku dan menyusunnya di dekat pintu depan.

Ya. Semuanya sudah diputuskan. Dan kegilaan ini berakhir. Harus berakhir.

Beberapa menit kemudian mas Adrian keluar. Tanpa kata, ia mulai membantuku mengumpulkan barang dan mengangkatinya. Aku mengerti. Berdua, kami turun ke lantai dasar dan memanggil taksi. Dalam hati, aku bersyukur karena tidak begitu banyak membawa barang saat pindah kesini.

Mungkin, sebenarnya aku tahu. Bahwa semua ini memang hanya sementara. Dan suatu saat, ketika ini semua akan berakhir, aku harus kembali lagi ke awal kehidupanku.

“Aku minta maaf atas semua ini, Tiara.” Kata mas Adrian pelan.

“Tidak mas, harusnya aku yang minta maaf…” sahutku sembari tersenyum. Ya, ini salahku. Kesalahanku karena mau menerima lelaki yang sudah jelas-jelas memiliki tunangan. Kesalahanku karena mau menjalin cinta yang rumit.

“Berbahagialah, Tiara…” ia mengecup dahiku pelan. Tanda perpisahan.

“Pasti, Mas…” aku menjawab, penuh senyuman.

Lalu pintu ditutup dan taksi itu melaju ke kegelapan kota Yogyakarta. Melaju meninggalkan semua kebahagiaan yang pernah kunikmati selama ini.

Sesungguhnya terasa sangat berat. Dalam 2 bulan ini, perasaan ini, pengalaman ini, entah dengan kata atau deskripsi seperti apa yang harus aku gunakan untuk menjelaskan semuanya. Kegilaan Lea meracuniku. Bagaimana aku bisa mencintai mas Adrian, namun juga mencintai Lea setelahnya?

Tidak bisa.

Aku tidak cukup kuat untuk berpartisipasi dalam dunia manipulasi yang diciptakan Lea.

Dunia itu sungguh memikat. Ya, cinta yang terlalu banyak. Terlalu manis hingga membakar tenggorokan. Menimbulkan rasa ketertagihan, namun meracuni.

Seseorang tidak akan mampu terlibat terlalu lama dalam dunia seperti itu.

Cinta yang secukupnya. Manis yang secukupnya, lebih rasional dan membahagiakan.

* * *

Aku menunggu.

Dan dalam penantian seperti ini, detak jarum jam terasa sangat mengganggu.

Lama.

Seharusnya tidak selama ini.

Atau mungkin, rencaku memang kurang tepat?

Tok tok tok.

Ah! Itu dia!

Aku berlari menuju pintu kamar kos-kosanku. Sebelumnya, aku menyambar botol parfum dan menyemprotkannya beberapa kali, serta merapikan baju yang tengah kukenakan saat itu.

Lalu aku membuka pintu, dan menemukan sosok perempuan bertubuh indah yang tengah mengigil dalam selendang tipisnya.

Kami berpandangan. Aku tersenyum. Wajahnya masih dipenuhi kebingungan.

“Jadi, asal kamu tidak menjadi orang ketiga, bukan?” ia bertanya dengan suara serak. Mungkin keterlambatannya akibat tangisan dan teriakan.

Aku berhasil.

Kini panggilan lo-gue yang biasanya ia alamatkan padaku, telah berganti menjadi aku-kamu. Kini, aku bukan lagi orang ketiga baginya. Tapi sudah menjadi satu-satunya.

Aku tersenyum, lalu memeluknya. Erat. Seerat yang aku inginkan.

“Aku selalu tahu kamu pasti akan memilihku.” Bisikku di telinganya. Lalu aku mendongak, mencengkram rambut halusnya dan mengarahkan wajah itu pada wajahku.

Ah… bibirnya memang selembut yang selalu kubayangkan selama ini. Harum, beraroma cherry, dengan kelembutan sempurna. Tidak kasar seperti milik mas Adrian.

Lea masih terdiam. Namun aku tahu dia bahagia. Sekalipun ia baru saja meninggalkan semuanya, meninggalkan mas Adrian dan segala yang dulu ia punya.

Tapi kini ia memilikiku.

Dan bersama, hanya berdua, aku yakin kami bisa memiliki kehidupan yang sempurna. Karena aku memiliki semua yang tak dimiliki mas Adrian. Dan cintaku pada Lea sempurna, karena aku tak membutuhkan kehangatan orang lain untuk mampu setia padanya.

Aku. Lea. Selamanya berdua. Sounds good, cheri?

~ THE END ~

3 komentar:

  1. ah ternyataaa...

    sounds good ? ahahaaa ,, tidaaakk .... :D

    ReplyDelete
  2. Oke fix gue jadi penggemar lo, kak. Haha. Kata2 lo asik banget. Salam kenal kak :)

    ReplyDelete
  3. Deskripsinya detail banget... ada unsur kehidupan pribadi ne hehehe...

    Endingnya gak terduga banget, Keren.

    Sounds Good... very good ^^

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers