1 Des 2012

Kebenaran Mutlak Itu Tidak Ada


Realitas itu sesuatu yang direkonstruksi. Realitas, terbentuk dari perspektif kita masing-masing. Karenanya, sulit untuk menentukan kebenaran absolute. Karena dalam dunia yang penuh oleh perspektif dan realitasnya masing-masing, dunia adalah abu-abu. Tidak ada yang putih atau hitam mutlak.

Seperti itulah gue memandang lingkungan gue.

Setiap orang boleh berpendapat. Mengatakan apapun. Melakukan apapun.

Tapi gue ga boleh menganggap itu sebagai kebenaran atau kesalahan mutlakTidak boleh, karena tidak ada kebenaran mutlak, kecuali lo Tuhan.

Otherwise, lo bisa menyebut itu sebagai realita. Realita dari perspektif lo.

Realita akan selalu benar, tapi belum tentu realita lo juga dianggap benar oleh orang lain. Karena orang lain memandang realita dari perspektifnya sendiri.


Seperti gelas yang berisi setengah air di atas meja. Mungkin orang lain bisa memandangnya sebagai meja yang diatasnya ada gelas yang berisi setengah udara.

Itu benar. Sama-sama benar. Namun berbeda.

Dan berbeda bukan berarti salahBerbeda hanya masalah perspektif.

Itu sebabnya sekali lagi, tidak ada yang namanya kebenaran absolute.

Setiap orang membentuk perspektifnya melalui motif, sikap, emosi, kebiasaan, keinginan, hingga mungkin hayalan yang ada dalam dirinya.

Hingga mungkin, dia bukan ‘melihat’ apa yang memang diterima inderanya, tapi ‘melihat’ sesuai yang diinginkan oleh benaknya.

Itulah manusia.

Tidak sama seperti mesin mekanik yang akan menghasilkan output persis seperti apa input yang dimasukkan user. Manusia, adalah tubuh yang penuh ruh, jiwa, emosi, dan sebagainya.

Doktrin di kriminologi ini yang ngebentuk gue jadi gue yang sekarang.

Adil adalah mendengarkan semua pihak.

Adil adalah menghargai kebenaran dari setiap perspektif pihak.

Maka, setelah mengadu berjam-jam pada Allah dan memperoleh ketenangan, gue sadar.

Dalam permasalahan ribet yang dimulai dari tengah tahun 2012 ini, gue rasa gue sudah mulai melihat ujung kisah ini.

Setelah mendengar semua pihak, setelah menerima setiap ‘realitas’ sebagai suatu kebenaran dari pihak masing-masing. Gue memutuskan tidak boleh berkata ‘dia benar’ atau ‘dia salah’ siapapun dia.

Karena well, tidak ada satupun pihak dari pertarungan ini yang bisa mengajukan bukti nyata yang otentik.

Satunya tidak mampu memberi bukti nyata kalau memang peristiwa itu ‘ada’, satunya lagi tidak mau di-konfrontasi untuk memberi bukti nyata bahwa peristiwa itu memang ‘tidak ada’.

Hanya kesaksian dan kesaksian. Hanya perspektif dan realita yang sama-sama benar - tentu, menurut masing-masing pihak.

Gue tidak bisa memberi kepercayaan sepenuhnya, 100% pada satu pihak. Gue hanya nggak ingin menyesal. Karena dalam pengadilan-pun, jika hanya ada saksi tanpa adanya bukti minimal 2, maka orang tersebut tidak dapat dibilang ‘bersalah’.

Bahkan dalam Al-Quran pun, manusia jelas-jelas disuruh mencari bukti otentik yang nyata. Al Hujuraat: 6 "..periksalah berita itu dengan teliti agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan (yang sebenarnya) yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu." 

Yaqub bukan hanya mendengarkan anak-anaknya, namun juga meneliti bukti baju penuh darah yang mereka bawa. Yusuf dibuktikan tidak bersalah bukan hanya dari kesaksiannya, namun bukti nyata posisi robeknya baju. lalu tuduhan perzinahan yang harus memiliki saksi dan memang ada bukti penetrasi.

Jadi score-nya masih 1-1 dalam ranah ilmiah, maupun secara agama. Karena tak ada satupun yang mampu membawa bukti yang mendukung kesaksian mereka.

“Kok lo bisa berpikir kayak gini sih, Ci? Ini masalahnya GEDE lho.” Tanya seorang teman.

Well, gue juga nggak mengerti kenapa. Seakan-akan dalam permasalahan ini gue membuang kemanusiaan gue dan berpikir seperti mesin. Seakan-akan mental gue terbuat dari baja dalam jenis yang terkuat. Atau memang, begitulah gue, yang lebih nyaman mengutamakan logika diatas hati dan emosi.

Mungkin, karena gue makhluk Post-modern, gue nggak mampu memandang permasalahan hanya dari satu sisi. Karena itu adalah sebuah KESALAHAN TERBESAR yang bisa gue buat dalam hidup.

Untuk itulah gue memutuskan memandang dari setiap sisi yang ada. Selama tidak ada yang mampu menyodorkan bukti nyata.

Tapi kemudian permasalahannya adalah “Sekarang kamu harus memilih ikut siapa. Kamu harus memilih mau ada di sisi mana. Kamu nggak bisa terus ditengah-tengah. Dan kalau sudah iya, ya jangan tanggung.” Kata teman yang lain. Ada juga tweet yang gue suka dari Anggi, "Senetral-netralnya orang, pasti harus memihak."

Maka itulah dia. Gue memilih.

Dan dalam pilihan gue, gue berserah diri pada Allah.

Gue tahu ini berat. Gue tahu menjalankannya tidak mudah. Bahkan untuk gue. gue bertanya-tanya sejauh apa gue mampu. Tapi gue juga bertanya-tanya mana mungkin gue ada disini, di posisi ini, kalau gue dirasa tidak mampu oleh Yang Diatas?

Tapi gue yakin selalu saja ada hikmah yang bisa gue ambil. 

Seumur hidup ditempa kesakitan, toh gue malah menjadi pribadi yang lebih kuat dari sebelumnya.

Dan lagi, gue tahu, gue nggak akan pernah jadi korban. Ya oke, walaupun gue merugi, tapi keuntungan yang bisa gue peroleh jauh lebih besar sehingga mampu menutupi kerugian itu.

Karena tidak seperti manusia, Allah tidak pernah mengingkari janji.

Gue pegang itu.

5 komentar:

  1. Suci, aku juga baru saja mendapat ilmu semacam ini.. Namun, konteksnya pada narasi, yaitu tidak ada fakta di luar fakta. Selebihnya adalah fakta yang terpostulasi. Menurutku sih sama dengan apa yang kamu paparkan di atas, karena fakta sama dengan realitas.

    BalasHapus
  2. yang paling mutlak adalah kuasa Tuhan,dan manusia hanya bisa menikmati & sekaligus menghadapi apa yang terjadi didepan mata

    BalasHapus
  3. Blognya cantiq, sis!
    Salam kenal dan kalau sempat mampir sekalian mengundang untuk gabung dengan teman-teman lain yang sudah SUBMIT URL BLOG-nya di Direktori Weblog Indonesia :)

    BalasHapus
  4. Menurut cara pandang interpretasi, hakikat suatu gejala ditentukan oleh bagaimana cara orang menafsirkan atau memberi makna terhadap suatu gejala. Sedangkan menurut cara pandang empiris, hakikat dari suatu gejala ditentukan oleh apa yang bisa ditangkap oleh pengalaman inderawi. Adapun pada suatu yang bersifat mendasar dan obyektif, hakikat suatu gejala hanya ada satu, tidak berbilang, dan tidak berubah-ubah. Kebenaran ada yang obyektif seperti 1 + 2 = 3. Kebenaran ada juga yang bersifat subyektif seperti cantik, manis, elok, baik.

    BalasHapus

Daisypath Anniversary tickers