30 Jul 2012

Serius, Move On Itu Gampang!

12:28 29 Comments

Eits, gue bikin postingan sedemikian rupa bukannya karena gue dalam proses move on dan sebangsasetanahair-nya, ya. Kaga. Boro-boro move on, gue lagi keenakan jatuh di pelukan lelaki yang sama berulang-ulang sampe ga mau pindah. Hahaha *tebar kesirikan*

Gue bikin posting soal move on ini gara-gara para klien curhat gue akhir-akhir ini menyuarakan permasalahan yang sama: “susah move on”. Dan karena sepertinya menarik untuk diangkat ke artikel-pengisi-liburan, akhirnya gue post, daripada blog ini nganggur dan gue dikatain blogger durhaka?

sumber gambar disini
“Ci, gue galau banget…”

“Kenapa emang?”

“Gimana sih cara ngelupain orang yang cepet?”

8 Apr 2012

Ternyata Tidak

23:54 27 Comments

sumber gambar disini

Aku terbangun dan kembali mendapatimu tengah memandang keluar dengan mata yang kosong, lagi. Diam mematung, berdiri disana tanpa jiwamu. Memandang namun tak melihat, karena kau tengah sibuk menjelajahi imaji yang tak bertanah. Wajah sedihmu terangkat ke atas seperti tengah mengendus mimpi yang hilang setelah kau bangun.

Aah, kau terlihat begitu malang sayang, karena itulah aku membenci keadaanmu yang sekarang.

Perlahan aku mendekatimu, namun kehadiranku bahkan tak sedikitpun mampu menganggu dunia dalam benakmu. Lagi dan lagi aku kembali memeras otak untuk menjawab pertanyaan sederhana ‘Apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu lebih bahagia? Lebih hidup?’ namun sekeras apapun aku mencoba—aku terus menerus gagal menemukan jawabannya.

4 Apr 2012

Definisi Yang Baru

19:14 19 Comments

sumber gambar disini


Kehidupan adalah drama yang skenarionya masih merupakan misteri bagi pemain drama itu sendiri. Sejak awal hingga akhir, sutradara drama itu mungkin akan mengeluarkan sedikit instruksi dan perintah tak-terbantahkan. Namun sisanya, para pemain dalam drama itu harus berimprovisasi sendiri. Menentukan langkah, ucapan, dan tindakan mereka sendiri—tanpa tahu akan jadi seperti apa akhir cerita mereka nantinya, atau akan menjadi apa dan bagaimana mereka nantinya.

Bagi Nora, akhir drama itu adalah kematian karena kanker tyroid ganas yang sudah menggerogoti tubuhnya—di umur yang baru menginjak 36 tahun. Ia seorang ibu rumah tangga biasa, dengan 1 suami dan 1 anak laki-laki. 

Ia cantik, pintar, dan kerap menjadi tempat bergantung orang-orang di dalam hidupnya. Kemampuannya mendengarkan dan mencerahkan, menyayangi dan memerhatikan—menjadi daya ‘magnet’ bagi orang-orang untuk terus menempel padanya.

3 Apr 2012

Aku Hanya Ingin Pulang

00:38 18 Comments

sumber gambar disini

“sudah berapa lama kamu tidak pulang?”


Pertanyaan dalam chat dari teman lama itu menimbulkan tawa. Tentu, seperti biasanya aku tetap mengetik kalimat ceria yang seakan menggambarkan betapa ‘baik-baik saja’nya duniaku. Namun di hati, ada bagian yang tertawa miris sembari menahan tangis.

Pulang? Pulang kemana? Aku tidak punya rumah. Aku ini hanyalah perempuan muda di awal 20 tahunan yang tak tahu harus pulang kemana jika sudah lelah. Jika ingin air matanya dihapus, bahkan untuk bersandar sejenak.

Rumah yang ditempati ibuku saat inipun, hanyalah rumah milik ayahku yang akan segera menjadi milik perempuan lain. Rumah itu bukan milik ibuku, maka tak akan mampu kusebut ‘rumahku’ bukan begitu?

19 Mar 2012

Pada Akhirnya

01:34 21 Comments

WHO memperkirakan ada 4,2 juta aborsi yang dilakukan per tahun. 750.000-1,5 juta dilakukan di Indonesia, 2.500 orang diantaranya berakhir dengan kematian. Sementara Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 1995: Aborsi memberi kontribusi 11,1% terhadap Angka Kematian Ibu (AKI) (Wijono, 2000).

sumber gambar disini


 “Sudahlah dek, kita gugurkan saja ya?”

Sungguh mengherankan bagaimana manusia bisa dengan sangat cepat berubah. Lelaki yang dulu kukenal sebagai sosok yang dewasa, penyayang, dan bisa diandalkan—kini tengah menggigil cemas, berkeringat deras dalam kepanikan di depan tagihan pertanggungjawaban.

Kalimat sepanjang ‘mas pasti akan menikahi kamu dek, mas nggak akan meninggalkan kamu’ yang dulu terucap, kini telah digantikan oleh pernyataan yang lebih pendek ‘kamu yakin dek, itu anak mas?’.

14 Feb 2012

Winterplay: On Sunday

22:21 16 Comments

Menurut gue sih, lagu ini cocok banget buat galau :’) Gue bukannya ada pengalaman ditinggal kekasih di hari ‘Monday’ sih, tapi percayalah, alunan musik, lirik yang ngena, dan vokal penyanyinya bener-bener pas buat galau, apalagi kalau ditambah hujan, aduh mak.

(n.b. vokalisnya cakep bangetlah. Gue yang cewe aja naksir! :-3)

10 Feb 2012

Tanpa Dirinya

20:20 10 Comments
(sumber gambar disini)
Jika nanti ia sudah tiada, aku tak akan mencari pengganti sosoknya yang selalu bisa memahamiku bahkan tanpa tanya, menyayangiku bahkan tanpa meminta balasan.

Karena kenyataannya, memang tak mungkin ada sosok lain seperti dirinya.

Karena itulah, sebelum nanti ia sudah tiada, aku akan mencambuki diri agar mampu kuat berdiri sendiri, tanpa menopang atau berharap pada sosok manapun selain diri sendiri.

Karena kenyataannya, tanpa dirinya di dunia ini, hanya tinggal diri sendirilah yang mampu mengerti, memahami, dan menyayangi diri ini dengan sepenuh hati.

25 Jan 2012

(3) Tersampaikan

17:51 18 Comments


(gambar diambil dari sini dan diedit dengan PhotoScape)


 “Kamu nggak apa-apa, Darl?”

Nia menatapku erat, wajah mungilnya berkerut khawatir.

Eh? Aku mengerjap dengan agak bingung, lalu mengedarkan pandangan ke sekelilingku.

Ah… Ternyata aku ada di rumah kami. Di ruang keluarga, tepatnya, dan berbaring di atas sofa bersama si manja. Ini seperti hari-hari liburku yang biasanya, namun kenapa aku merasa ada semacam rasa rindu yang menggila dalam dadaku, menimbulkan sesak yang pekat dan rasa panas di mata—seakan akan ada sesuatu yang berbisik dalam kegelapan disana bahwa hari-hari ini sudah tak mungkin lagi ada…

23 Jan 2012

(2) Selayaknya

12:02 27 Comments

(gambar diambil dari sini dan diedit dengan PhotoScape)

* * *

“Katanya saat kecelakaan itu bu Nia sedang berbuat mesum dengan selingkuhannya, ya?”

“Kasihan dokter Yano… dia kan sangat mencintai istrinya…”

“Ternyata istrinya sudah sejak lama berselingkuh, kan? Tuhan benar-benar menurunkan azabnya!”

Suara datang silih berganti, kadang hinggap, kadang hanya lewat dan berlalu pergi. Sosok-sosok yang mengucapkannya tak pernah terlihat jelas—namun mereka semua bewarna hitam dan menakutkan.

Ya, menakutkan.

Karena bagaimana bisa mereka mengucapkan hal-hal kejam lalu berganti muka di hadapanku untuk mengucapkan belasungkawa?
Daisypath Anniversary tickers