(2) Selayaknya


(gambar diambil dari sini dan diedit dengan PhotoScape)

* * *

“Katanya saat kecelakaan itu bu Nia sedang berbuat mesum dengan selingkuhannya, ya?”

“Kasihan dokter Yano… dia kan sangat mencintai istrinya…”

“Ternyata istrinya sudah sejak lama berselingkuh, kan? Tuhan benar-benar menurunkan azabnya!”

Suara datang silih berganti, kadang hinggap, kadang hanya lewat dan berlalu pergi. Sosok-sosok yang mengucapkannya tak pernah terlihat jelas—namun mereka semua bewarna hitam dan menakutkan.

Ya, menakutkan.

Karena bagaimana bisa mereka mengucapkan hal-hal kejam lalu berganti muka di hadapanku untuk mengucapkan belasungkawa?


“Jangan dengarkan, Yan…”

Ari hadir lagi dan lagi, menguatkanku hanya dengan berada ‘di sana’. Entah bagaimana bisa ia mengatur segala urusan pemakaman ini, melengkapi semua surat-surat yang datang, berbicara dengan orangtua Nia, lalu tetap menemaniku dengan siaga seakan tengah menjaga Kristal rapuh yang mudah runtuh.

Ego kelelakianku mencemooh dengan kejam saat aku dipapari kenyataan bahwa aku memang selemah itu. Hanya saja, sekuat apapun mencoba, aku bahkan tak mampu untuk mengangkat kepala.

Bagaimana aku bisa menghadapi dunia tanpa Nia? Bagaimana aku bisa menghadapi kenyataan bahwa ia bukan saja sudah pergi, namun juga meninggalkanku tanpa penjelasan—bahkan pembelaan? Bagaimana bisa aku percaya ia mengkhianati cinta yang terukir 7 tahun itu hanya untuk seorang lelaki tua yang bahkan lebih pantas jadi bapaknya?

Kenyataan? Fakta? Semuanya terdengar selayaknya sampah di telingaku.

Aaah… bolehkah aku tidur hanya untuk terbangun dan menyadari semua ini tak nyata adanya?

* * *

‘Apa kira-kira dia bisa kembali bekerja?’

‘Dokter Hana bilang dia masih berusaha mengatasi shock-nya, Pak. Segera setelah dia bisa mengatasinya, saya yakin dia masih mampu bekerja.’

‘Semoga tidak lama. Rumah sakit ini kan harus jaga nama!’

Ari menghela nafas berat. Tanpa sadar, ia sudah mengaduk cangkir yang sama lebih dari 7 menit. Berkali-kali sudut matanya menoleh untuk memastikan sosok Yano masih ada diruangan sebelah, masih baik-baik saja, dan tak melakukan sesuatu yang bodoh. Namun jelas pikiran lelaki tegap itu tengah berada di banyak tempat hingga semuanya jadi terlalu letih untuk kembali dan mengumpulkan keseluruhannya dalam satu potret untuk dipandang.

Hihihihi.

PRANG!! Cangkir itu jatuh dan berhamburan, pecah berserakan di lantai.

“Ari?” panggil Yano samar-samar, khawatir.

“Nggak apa-apa, Yan! Gue Cuma tergelincir! Ga usah kesini, biar gue yang beresin ya!”

Ia mencoba berbicara setenang mungkin, namun denyut jantungnya yang menggedor biliknya dengan kekuatan dan kecepatan penuh tak bisa menyangkal.

Apakah benar dia baru saja mendengar tawa khas perempuan jalang itu?

“Jangan bodoh. Dia sudah mati! Kau sendiri yang memastikannya.” Bisik Ari terlalu perlahan, pada dirinya sendiri. Ia berusaha mengontrol tremor hebat pada tangannya, namun berulang kali gagal. “Ah!! Anjing!” makinya nelangsa.

Ini bukan kali pertama tawa itu terdengar. Sejak kematian perempuan itu, ini sudah ke 3 kalinya suara itu terdengar. Awalnya Ari berpikir itu hanya ilusi yang diciptakan syaraf yang tegang berpadu dengan kimiawi yang tak seimbang. Namun kebetulan bernama ilusi-pun tak akan mampir berkali-kali, bukan?

Apakah ini pertanda bahwa ada sisi hatinya yang melirihkan penyesalan?

Tak mungkin.

Ia sudah berusaha menahan segala asa untuk melenyapkan perempuan itu dari muka dunia sejak Yano memperkenalkan perempuan itu ke hadapan wajahnya. Ia telah lelah menghabiskan malam-malam dengan ribuan rencana kematian-tak-terduga sebelum melihat jalan yang ditunjukkan Tuhan padanya untuk menghabisi perempuan itu tanpa jejak.

Dan ketika saat membahagiakan yang dramatis itu tiba, seharusnya, selayaknya, ia hanya diselimuti kebahagiaan karena telah menang, bukan?

Tapi kenapa tawa perempuan itu selalu berkumandang seakan menyiratkan bahwa dialah—perempuan jalang yang sudah mati itulah—yang selayaknya menang??

“Sialan!!”

* * *

Terkadang aku bangun hanya untuk menikmati permainan cahaya yang menembus gorden. Entah kenapa cahaya matahari di villa Ari ini bisa datang dari sudut yang begitu pas hingga tariannya seakan dipandu oleh koreografi andal.

Hanya itulah satu-satunya pelipurku. Karena setiap kali terbangun aku harus menghadapi ketiadaan keberadaan Nia lagi dan lagi.

Aku telah menghabiskan banyak waktu untuk menjelajahi setiap kemungkinan bahwa yah, bisa saja kan, terjadi kesalahan dan Nia masih hidup? Dia akan datang dan menjelaskan bahwa semuanya baik-baik saja—dan kami bisa kembali hidup dalam gelora kebahagiaan seperti selayaknya.

Tapi di sudut manapun aku mencari, Nia tak pernah ada atau kembali—karena ia memang sudah dikubur, mati.
“Yan… Lo belom makan seharian ini, Yan… Gue udah bikin bubur ayam kesukaan lo, lho… Makan ya, Yan?”

Sosok Ari datang dan mengabur, lalu tenggelam dalam sengatan cahaya. Suaranya terkadang jelas, namun terkadang seakan datang dari tempat yang benar-benar jauh. Aku ingin membuka mulut lalu memanggilnya, hanya agar ia bisa lebih mendekat lalu memegangiku agar tak kemana-mana. Tapi layaknya kesadaranku yang kini tak lagi ada di bawah kehendakku, begitu pula kata-kata dan imajiku.

“…jangan begini, Yan…”

Tetes-tetes hangat air membasahi sisi kepalaku, jatuh bergulir, menetesi dan membasahi pundak bahuku.

“Maaf, Yan… Maaf… Tapi gue mohon jangan jadi kayak gini, Yan… Lo masih bisa menemukan ribuan perempuan lainnya, tapi gue mohon jangan hancur karena perempuan itu, Yan… jangan jadi begini, Yan… Ga sanggup gue ngeliat lo kayak gini, Yan.. Tolong…”

Ari memelukku erat. Tubuhnya yang lebih atletis dari milikku sendiri gemetar hebat. Ia terisak dengan nafas berat, menyuarakan kepedihan dengan cara yang paling lemah. Ia yang tak pernah menundukkan kepalanya untuk orang lain, kini mengiba untukku?

Ya, seorang Ari mengiba untukku.

“Lo punya gue, Yan… Gue ga akan ninggalin lo.. Gue… Gue sa.. sayang banget sama lo, Yan… sayang banget…”

Apa?

“Ya, Ri… Maaf ya… gue juga sayang sama lo…”

Seandainya saja aku tahu apa yang sebenarnya tengah aku katakan…

* * *

“Dok, wajah anda pucat sekali! Mau saya ambilkan vitamin atau sesuatu?”

“Tidak usah, terima kasih, Len.” Ari menghela nafas letih dan bersiap membersihkan diri setelah berhasil mengoperasi 2 pasiennya sekaligus hari itu. Tak ada waktu istirahat, walau ia sudah tak tidur semalaman. Karena ia harus segera pergi ke villa-nya yang berjarak 2 jam perjalanan untuk memastikan kondisi Yano.

“Pasti berat ya, Dok, tiap hari bolak-balik mengurus pekerjaan dan dokter Yano? Kenapa dokter tidak memasukkan dokter Yano ke rumah sakit saja sih, dok? Biar lebih…” segera perawat itu terdiam setelah melihat kebengisan yang tiba-tiba muncul dari sudut mata Ari.

“Saya ini sahabat Yano sejak 15 tahun yang lalu, saya lebih mengerti dia dibanding dokter-dokter itu! Tidak usah mencampuri urusan saya atau Yano, karena kamu bukan siapa-siapa! Mengerti?” gelegar amarah Ari membuat beberapa perawat yang tengah berada di ruangan yang sama gemetar ketakutan.

“Ma…Maaf dok…” rintih Lena lemah.

Ari menghela nafas keras dan berjalan melewati semua orang, dan keluar dari ruang operasi itu. Ia hanya punya beberapa menit untuk meredakan keletihannya di bawah siraman air panas sebelum berpakaian dan berjalan setengah-berlari menuju parkiran.

Ah, Yano… seandainya saja bisa, aku tak akan meninggalkanmu. Tak sedetikpun. Aku ingin terus ada di sisimu, menjadi satu-satunya orang yang kau butuh atau inginkan… Yano-ku, tunggulah, aku akan segera ke sana…

 Ari bergegas membuka kunci mobilnya, melompat ke dalamnya, dan menjalankan mobilnya dengan tergesa-gesa. Ia nyaris saja menabrak salah satu mobil yang terparkir di sebelahnya saat ia berusaha keluar.

Hihihihi…

“Aaah!!” BRAKK!

Ari benar-benar menabrakkan mobilnya sendiri ke salah satu tiang tempat parkir.

Apa itu? Suara apa tadi? Perempuan itu lagi-kah?

“Pak Ari!! Bapak tidak apa-apa? Bapak luka nggak, pak?” sosok satpam segera berdatangan untuk mengecek keadaannya. Ari hanya melambai dengan tak sabar sebelum membelokkan mobilnya dengan tajam, nyaris menabrak salah seorang dari satpam yang menghampirinya, lalu menancapkan gas, melarikan mobilnya ke jalanan raya yang tengah ramai.

Ari…

Tubuh lelaki itu langsung mengejang saat suara yang sangat dikenalnya itu kini telah lebih dari sekedar tawa.

Ari… Bagaimana kalau Yano sampai tahu kau yang membunuhku, ya…

“Diam!!” jerit Ari sembari memukul dashboard.

Dia tak akan memaafkanmu, Ari… bisik suara itu, setengah bernyanyi.

“Dia… Yano.. Yano pasti akan mengerti! Ya! Dia pasti mengerti!!”

Yano akan meninggalkanmu jika dia tahu apa yang sudah kau lakukan, Ari…

“Tidak!! kau salah, perempuan jalang! Yano tak akan kemana-mana! Dia hanya punya aku! Dia MILIKKU!”

Dia akan menyebutmu menjijikkan jika dia tahu bagaimana perasaanmu yang sebenarnya! Hahaha!

“DIAAAAAAM!!”

Mobil itu tergelincir saat Ari tak lagi mampu menahan laju atau alurnya. Berkali-kali, bagai ballerina yang tengah melakukan pirouette en dehors, mobil itu berputar di tengah jalan raya, untuk beberapa kali tertabrak hingga akhirnya berguling ke sisi jalan.

Terdiam layaknya kalam yang tenggelam.


* * *

TUNGGU LANJUTANNYA DI : "TERSAMPAIKAN"

27 komentar:

  1. wkwkwkwk. salam kenal juga @izal.. kalo cuma mau salam ada cbox kok. hahahaha.

    ReplyDelete
  2. cerpennya bagus bgt ci...aq salut ma bakat nulis kamu...musicnya jug mendukung buat melow2 ne..*sedot ingus...

    ReplyDelete
  3. @kiky: iyaaaa musiknya bikin melo banget kan yaa huwaaa *sedot ingus bareng* maachi :-*

    ReplyDelete
  4. ini lanjutannya yang kemarin nggak sih mbak?

    ReplyDelete
  5. @daka: iya dak, kenapa? perpindahannya kurang rapi ya? hahahaha. maklum, ini kan perpanjangan kisah yang dipaksakan, kayak tersanjung. wkwkwk.

    ReplyDelete
  6. sedikit sih mbak, tapi gapapa masih bisa ngerasain feelnya :D

    ReplyDelete
  7. Tubuhnya yang lebih atletis dari milikku sendiri gemetar hebat. itu milikku yg mana ya mba suci? oiya maksudnya yg sayang itu si ari homo atau apa ya? *maaf* soalnya masih kurang ngerti ditambah kata yg dia cuman milikku hehehe. ditunggu post yg berikutnya di pourix :D

    ReplyDelete
  8. Menikmati lanjutan cerita yang kemarin sobat
    Sekarang ada nuansa horornya dan saya semakin yakin kalau Ari ternyata punya kelainan

    ReplyDelete
  9. ikutin lomba ci cerpennya, lagi banyak tuh GA- di blog tetangga,, hihi..

    klo liat gambarnya jadi ingat tragedi xenia maut, hhha

    ReplyDelete
  10. Saya selalu ingin menulis cerpen, dan belum berhasil sampai kini. ditunggu lanjutan cerpen kerennya :)

    ReplyDelete
  11. @daka: pyuuhh. aduh yang bagian ketiga lebih susah lagi transisinya. hahaha.

    @herlus: iya sodara, ari itu homo. yang kalimat itu sudut pandang pertamanya Yano. hahaha. susah ya kalo ganti2 sudut pandang? maap >.<

    ReplyDelete
  12. @riki: iyaaa.. Ari itu homooo. cocok ga ya bagian horornya? uummm..

    @tito: gue ga pede ikutan lombaaa :(( iya ya -___- padahal ini idenya sebelum gue tau ada kejadian itu lho. hahahaha. pas abis.

    @senja: ayo semangaaaat! ^^

    ReplyDelete
  13. teruskan menulis cerpennya ya Ci, aku belom sempet baca yang sebelumnya. sambil ngubek2 lagi :D

    ReplyDelete
  14. oh kan bener homo hehehe,ditunggu kelanjutannya mba :D

    ReplyDelete
  15. Nah khan beneran homo, hehehe
    Horornya kurang sedikit greget sobat, tapi sukses membuat saya merinding baca sendirian tadi malam
    ditunggu kelanjutannya sobat ^^
    Oia sekalian, ada bingkisan buat sobat
    diambil yaaa

    ReplyDelete
  16. Wah harus membaca awalnya nih biar bisa tahu alur ceritanya dari awal...
    Thanks share cerpennya sobat

    ReplyDelete
  17. ternyata dirimu juga seorang penulis handal Ci...keren... aku lanjut dulu ya ke lanjutannya....

    ReplyDelete
  18. Keren kak! ternyata yang ngebunuh ari yaa? baru ngerti. hehe

    ReplyDelete
  19. @yankmira: hehehe sip mbaaak ^^

    @herlus: huahahaha iyaaa dia homo, padahal gantengan Ari daripada Yano. wkwkwk

    @riski: makasi ya bingkisannyaaa ^^ ntar habis nyelesaiin cerbung ini gue bikin posting soal awardnya yaaa *kisskiss

    ReplyDelete
  20. @cardiacku: oke deh ^^ sama-samaa, makasi juga udah baca+komen yaa..

    @alaika: baru belajar nih mbaak. hehehe. makasi ya mbaak ^^

    @emelia: iyaaa padahal kan kemarin Nia nya udah mau sembuh, eh.. si Ari bunuh. hahahaha.. ngenes yak.

    ReplyDelete
  21. ayoo mana lanjutannyaaa???
    *penasaran
    *mrinding
    *geli ... Ariii oy Ariii
    qiqiqiqi

    ReplyDelete
  22. wah,,
    baru bisa baca..
    lagi seru2na napa dpotong --"
    kpan lanjutannya mbak ?

    ReplyDelete
  23. oalaaaaah gak nyangka bakal berakhir kayak gini...

    ReplyDelete
  24. @risa & @galau : lanjutannya udah ada nih gan (akhirnya kelar juga. huffhhness. wkwkwk)

    http://sucinabbila.blogspot.com/2012/01/tersampaikan.html

    @inggit: belooom! masih ada satu lagiii hahahaha

    ReplyDelete
  25. ....saya jadi inget kata orang inggris sana. "The enemy of my enemy is my friend." :D

    Bisa dimodifikasi. "The killer of my wife is my friend." ^^

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers