Pelajaran dari Dasar Jurang

Hooowdy Readeers! 

Mungkin banyak dari lo yang belum tahu apa itu kriminologi. Well, kata om Bonger (1970: 21) “kriminologi adalah ilmu pengetahuan yang bertujuan menyelidiki kejahatan seluas-luasnya”. Ini berarti, kriminologi memasukkan seluruh cabang ilmu sebagai bahasannya (kebayang gaaa tuh, luasnya kayak apa? Wkwkwk). Sementara kriminologi menurut om Sutherland dan Cressey (1974) dibatasi sebagai bagian dari sosiologi (kumpulan pengetahuan tentang gejala sosial): “kumpulan pengetahuan yang meliputi delinkuensi dan kejahatan sebagai gejala sosial”. (sumber: Mustofa, M. (2010),Kriminologi: Kajian Sosiologi terhadap Kriminalitas, Perilaku Menyimpang dan Pelanggaran Hukum , Bekasi, Sari Ilmu Pratama,2nd Ed, hal 7-10)

Sebagai kriminolog, gue banyak berurusan dengan penjahat, kejahatannya, korban kejahatannya, dan reaksi masyarakat akan kejahatan itu. Kriminologi adalah ilmu yang mengurusi sisi gelapnya manusia, sisi ‘jelek-buruk’nya kehidupan. Sehingga dibutuhkan mental kuat untuk belajar di jurusan ini.

Walaupun demikian, dalam banyak situasi gue justru menemukan ‘pembelajaran’ hidup yang sungguh bermakna. Kadang ga jarang ngebuat gue nangis sakin terharunya.

Dalam jurang kubangan lumpur yang gelap, berbau, dan penuh noda dari kehidupan manusia itu, banyaaaak banget pelajaran yang bisa gue raih. Dua diantaranya, akan gue ceritakan disini!



sumber gambar disini

“Ia diperkosa, dihamili, dipaksa aborsi, lalu dijebloskan ke dalam penjara”


Gue bertemu dengan M—17 tahun, dalam kunjungan lapas terkait penelitian mengenai anak yang berhadapan dengan hukum.

M dijebloskan ke dalam lapas itu karena menurut pengadilan, ia terbukti bersalah mengaborsi dan membunuh anaknya sendiri, dengan cara menyiramnya dengan air panas.

Mungkin sebagian dari lo masih akan menyalahkan M, menganggapnya ‘gila’ dan ‘menyeramkan’ karena pengadilan memutus ia bersalah.

Tapi benarkah demikian?

Yang tidak diketahui dan tidak mau dipercaya oleh pengadilan dan media massa adalah, M diperkosa oleh pacarnya sendiri. Ia dijebak dan dibawa ke suatu perkampungan yang sangat terpencil dan tidak memiliki akses apapun, hingga tak mampu melawan. Saat pada akhirnya ia hamil, pacarnya mengatakan bahwa ia mau sih, tanggung jawab. Tapi jangan salahkan dia kalau dia masih main-main dengan cewek lainnya (laki-laki beeejaaaattt!).

Pengadilan, juga media, mengatakan M sengaja mengaborsi anaknya sendiri. Padahal saat itu pacar M lah yang datang membawakan suatu obat yang M telan dengan paksaan. M sendiri tidak tahu obat apa itu, hingga akhirnya malam itu ia merasa sakit perut dan mengira ingin buang air besar.

Ternyata, yang keluar malam itu bukanlah kotoran, melainkan anak yang sudah ia kandung selama 8 bulan. Anak lelaki itu meninggal, dan tak mengeluarkan suara apapun saat terbujur kaku dalam kloset. Sambil menangis, M memandikan anaknya itu lalu membungkusnya. Esok paginya, pacarnya yang bejat datang untuk mengubur anaknya—sebelum akhirnya ketahuan warga dan dilaporkan ke polisi.

Pengadilan menolak mempercayai M. Bahkan dalam proses pengadilan M tidak didampingi pengacara atau bantuan hukum seperti apapun. Padahal merupakan hak-nya lah untuk didampingi karena ia masih berstatus anak-anak. Ia harusnya diberi informasi dan berhak mendapatkan pembelaan.

Namun M dijebloskan ke lapas tanpa pembelaan—kecuali dari dirinya sendiri.

Kasus M membuat gue sadar bahwa di dunia ini masih sangat banyak anak-anak seperti M. menjadi korban, namun justru disalahkan dan disudutkan oleh orang-orang yang seharusnya membelanya. Ia menjadi orang yang termarjinalkan hanya karena ia berstatus anak sekaligus perempuan—dua posisi paling lemah sejagad raya.

Penelitian mengenai M-lah yang membuat gue semakin memantapkan diri bahwa demi orang-orang seperti M-lah, gue harus punya arti, punya status, yang bisa membantu mereka sesedikit apapun. Gue ingin berarti, dan menyelamatkan mereka walau gue ini bukan siapa-siapa.

Gue rasa, M-lah yang sudah melecutkan semacam cambukan semangat pada gue, menyadarkan gue bahwa memang ‘disinilah’ panggilan jiwa gue yang sebenarnya.


“Ayah kandungnya memperkosa dia, dan menghancurkan kehidupan dia dan ibunya.”

sumber gambar disini

Namanya Lucky. Bukan nama sebenarnya, tentu. Dia adalah korban kekerasan seksual yang pelakunya adalah ayah kandungnya sendiri. Kenapa gue beri nama alias ‘Lucky’? karena jika nama itu adalah doa, maka gue berharap dia bisa beruntung walau sudah dihancurkan kehidupannya sendiri.

Umurnya 5 tahun, dan dia sudah diperkosa sejak umurnya 3 tahun.

Gue bertemu dengannya saat dia dan ibunya tengah menempuh proses pengadilan menghadapi ayahnya—di kantor Lembaga Bantuan Hukum. Saat itu, gue yang tengah magang membantu Lucky dan ibunya untuk menghadapi proses pengadilan ini.

Dari luar, Lucky dan ibunya tidak berbeda dengan orang biasanya. Tapi tidak ada yang tahu apa yang mereka jeritkan dan lirihkan di setiap tidurnya. Selain kehancuran mental, Lucky juga menderita luka fisik yang parah. Bahkan dokter yang memeriksa alat kelaminnya mengatakan bahwa luka di daerah tersebut sudah seperti ‘terowongan’.

Ibu Lucky, yang bukan hanya harus menerima bahwa suaminya menipunya (saat hendak memperkosa ayahnya selalu menyuruh ibunya berbelanja di tempat yang jauh), harus memikul penderitaan Lucky juga menanggung biaya hidup mereka berdua. Keduanya dari kalangan bawah, dan saat itu ibu Lucky tak punya penghasilan. Rasa shock akibat peristiwa ini telah meluluhlantakkan ibu Lucky.

Dan disaat itulah gue menyadari bahwa ternyata gue juga bisa punya arti bagi orang lain.

Lucky kemudian menjadi luar biasa dekat dengan gue. Dia bahkan lebih memilih tidur di pangkuan gue daripada ibunya. Padahal saat itu kita baru ketemu 2 kali. Dia juga selalu mengajak gue bermain, dan mendengarkan kata-kata gue. Bahkan, saat pengadilan berlangsung, dia memilih berada dalam gendongan gue, menghadapi pertanyaan hakim yang menyakitkan, harus menunjuk foto-foto alat bukti yang membuatnya mengingat segala kenangan pahit dan mengerikan itu.

“Disodoknya pakai apa?” “Yang ngasi kamu itu yang mana?” “Pernah dipukulin ga?”

Uuurgh, demi Tuhan yaa, walau gue tahu ini demi menegakkan hukum tapi tetap saja ngeliat ekspresi Lucky yang sudah mau menangis ngebuat gue pingin cepat-cepat ngegendong dia keluar dari persidangan. Dia ketakutan dihadapkan dengan banyak ‘bapak-bapak asing’ (dia memang masih trauma dengan sosok pria dewasa) dan sekalipun hakim itu bertanya dengan lembut—Lucky tetap ketakutan.

Untung saja, kehadiran gue bisa membantunya walau sedikit. Lucky menjadikan gue berarti saat ia memberi tahu tanpa kata bahwa gue berarti untuk dia.

“Aku mau jadi kayak tante kalau udah besar!” katanya—satu point yang ngebuat gue nangis dalam perjalanan pulang.

Di sisi lain, ibu Lucky juga merupakan korban. Trauma yang ia alami dan kesakitan psikologis yang ia rasakan memang tidak terlihat. Tapi dari sorot matanya saja—gue sudah tahu kedalaman luka itu. Berbekal pengalaman hidup yang nggak seberapa, gue mencoba meyakinkan ibunya, menguatkan ibunya.

“Yang ngebuat saya kuat bukan psikolog kemarin. Yang ngebuat saya kuat justru kata-katanya mbak Suci. Yang saya ingat-ingat kalau saya ketakutan waktu sidang, atau waktu saya lagi gamang saat wawancara kerja. Yang nguatin saya justru mbak.”

Disinilah gue jadi mikir, hidup gue sendiri juga ga seindah milik kebanyakan teman-teman gue. Gue jadi seperti ini ya karena luka-luka yang gue dapatkan dari hidup sudah lumayan banyak. Di usia belia gue harus mempertanyakan eksistensi manusia dan kejahatannya. Di usia belia gue sudah harus mengerti bahwa kehidupan, dan segala sosok panutan—bisa menjadi monster yang begitu menakutkan.

Tapi gue survive. Gue pernah berada di dasar jurang, dan kini gue sudah bisa memandang pemandangan yang ada di atas jurang. Yah, gue akan selalu bisa menoleh ke belakang untuk melihat jurang itu tadi. Tapi pengalaman itulah yang berharga, bukan? Nggak setiap orang pernah jatuh ke jurang gelap berlumpur itu dan berhasil memanjat ke atas.

Mungkin karena itu juga gue bisa memahami Lucky dan ibunya. Tahu cara menguatkan mereka karena gue juga pernah ada di dasar jurang yang sama. Bertemu dengan mereka ngebuat gue sadar, mungkin Allah sengaja memberikan jalan hidup yang gak mudah bagi gue agar gue bisa membantu orang-orang seperti Lucky dan ibunya.

Setidaknya, walau nyaris ga bisa memberikan apa-apa, gue bisa membisikkan jalan rahasia untuk meloloskan diri dari jurang kegelapan kehidupan yang menakutkan itu. J

25 komentar:

  1. jurusan yang kamu ambil unik banget :D hebat >.<

    ReplyDelete
  2. ya amppun, aku membaca artikel ini semua ampe abis, dan membuat mataku berkaca2...
    sekejam itukah seorg laki2.. hingga hrs mmbwt wanita menderita. apa mreka tdk sadar, bahwa mereka bs ada didunia ini karena wanita.

    mungkin kalo bkn keadilan didunia ini yg bs menjebloskan mereka yg bejat, biarlah keadilan Tuhan nanti yg akan mereka rasakan.

    salam kenal..

    ReplyDelete
  3. kamu hebat Suci... bangga rasanya memiliki teman, walau masih hanya teman di dunia maya yang punya nilai dan semangat juang seperti kamu.... keep going and continue the efforts ya dek.... mereka membutuhkanmu...

    kedua cerita ini sungguh membuat terenyuh, walau sudah sering membaca penderitaan kaum tertindas, tapi jujur, membacanya melalui penuturan orang2 yang berhubungan langsung dengan kasusnya membuat ku makin percaya, banyak sekali ketidakadilan di dunia ini... dan sayangnya, tak banyak yang seperti kamu Ci...

    semoga ke depannya akan lebih banyak kaum terkait (yang memang berwenang di ranah ini) berhati mulia seperti kamu, sehingga akan banyak Lucky dan M lainnya yang akan mampu menatap hari esoknya, walau mungkin tak jauh lebih baik dari sebelumnya...

    ih kok jadi panjang dan mulai ngawur ya? okd, aku balik kerja dulu... hehe.

    keep posting ya, tiba2 aku jadi ingin bikin cerita tentang kamu dan para kaum tertindas yang sedang kamu bantu.... boleh? (suatu hari nanti...)?

    ReplyDelete
  4. kasihan sekali Lucky...duh, dunia memang semakin jahat dan kejam ya.

    ReplyDelete
  5. cerita yang lucky ngebuat gue tersentuh.
    gue ga tega ngebayangin seorang bocah kecil yang harus ngerasain pahitnya dunia ini :((
    semoga lucky bisa jadi kayak elo, suci :D

    ngomong ngomong. lucky itu maish kecil, cowo atau cewe?

    ReplyDelete
  6. Ya Allah merinding bacanya, boleh share di Fb?? di cantumin sumbernya kok, kalau boleh... =)

    ReplyDelete
  7. Tersentuh banget bacanya :) bejat emang ntu cowok (tp gk semua cowo ya kaya gitu) mueehhehehe

    ReplyDelete
  8. @asep: hahaha makasi mas ^^

    @penghuni60: iyaa, semua itu pasti ada balasannya.. dan ga semua pgalaman buruk itu musibah. kalo dipikir2 bisa juga lhoo jadi anugrah :)

    @alaika: :') masih banyaak bget yg lebih hebat perjuangannya dr aku mbaak. makasi ya mbaak :) jdi lebih smgat deh hehehe

    @sang cerpenis: iyaa :( makanya penting bgt menegakkan perlindungan trhdp anak2 dan perempuan..

    @reza: cewek, za. umurnya 5 tahun wktu itu. amin.. smga dia menemukan cahayanya sendiri yaa :)

    @uzay: boleh mas.. :)

    ReplyDelete
  9. huhuhuhu ikutan mewek .... *ambil tisu*

    apa sih yg dipikirin tu cowok.... *geleng-geleng*

    ReplyDelete
  10. sedih banget bacanya. aku sendiri (yg bukan siapa2) tidak terima mereka digituin. makin banyak saja orang jahat. tidakkah setiap orang mempunyai 'belaskasihan' dan 'pikiran'? tega sekali. >.<

    ReplyDelete
  11. wah, jadi kriminolog kayak jadi psikolog juga ya.

    sumpah cowo2 yang lo ceritain ini sungguh bejatnya amit2 jabang bayi! semoga mereka diterima disisiNYA deh! errrr! kesel gue bacanyaaaaaaaaaaa !@##$^&*()

    ReplyDelete
  12. Keren jurusanmu... Bener2 terenyuh dengan kedua cerita kamu, apalagi cerita si Lucky.. Semoga dia kuat menjalani hidup dan bisa menjadi seperti kamu.. Dan semoga saya tidak menjadi seperti lelaki seperti yang di ceritakan di cerita pertama ataupun kedua.. Amin

    ReplyDelete
  13. pengalaman yg luar biasa..
    stuju dgn kta2mu...ak jg prnh ada di dasar jurang...dan benar skali,,smua itu adalah pelajaran berharga yg membuat kita makin kuat..

    tetap smgt ya^^
    salut deh :)

    ReplyDelete
  14. M yang nggak bersalah, tapi justru di salahkan =(

    Lucky yang masih kecil tetapi sudah............. kenapa dunia ini begitu kejam?? anak seumuran Lucky itu tak pantas diseperti itukan.. bagaimana jika dia dewasa nanti? bagaimana masa depannya? *terharu*

    ReplyDelete
  15. wah kriminologi?
    serius saya salut banget sama cerita di postingan ini. mbak suci hebat banget. bisa jadi penyemangat buat orang orang di pihak yang lemah hukum. padahal mereka sangat perlu pembelaan. semangat ya mbak :D

    semoga lucky sama ibunya bisa dapet jalan yang baik. bisa lepas dari trauma dan punya kehidupan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. amin :)

    ReplyDelete
  16. waktu kelas 2 SMA aku pengen banget kuliah di jurusan ini karna emang dasarnya aku gampang banget penasaran sama sesuatu hal yg jarang banget di pikirn sama orang lain. tapi aku bingung kalo di jurusan ini apa aja yg harus di pelajarin. karna kalo nanya ke google referensinya pasti dikit. dan sekarang aku banting stir pengen kuliah di jurusan seni.

    tapi setelah baca ini, semangat buat kuliah Kriminologi ada lagi. aku terharu banget bacanya. makasih loh mbak :')

    ReplyDelete
  17. manusia, manusia, manusia ~

    mau dibilang apalagi? karena ini lah manusia -__-"
    mau protes? Hmmm... sepertinya gabisa --,

    ReplyDelete
  18. aku jadi tertarik sama jurusanmu say, keren banget sumpah, kita bisa jadi lebih berguna bagi orang yang kebanyakan.
    lain kali ajak anak kancut sih ikut bantu2,, pengen rasainnnn >.<

    ReplyDelete
  19. Kriminologi? Belajar untuk menjadi kriminal? Hahahaha maap maap, cuma becanda.... :D

    Habis namanya itu lho, memaksa saya untuk menerka seperti itu... ^^

    ReplyDelete
  20. masya allah ...
    betapa kerasnya relalita hidup di luar sana
    jadi malu sama diri sendiri yang sedikit2 masih suka ngeluh.
    jadi tambah eneg sama DPR (lho kok, he he)

    neng suci, sering-sering sharing cerita giniannya dong. karena tidak semua orang punya kesempatan untuk tahu banyak seperti dirimu. saya tunggu ya...

    ReplyDelete
  21. "dan segala sosok panutan—bisa menjadi monster yang begitu menakutkan..."

    saya ngeri baca kalimat ini , mbak ...
    :(

    seindah-indahnya hidup adalah ketika kita betul2 bisa berarti untuk orang lain..
    maju teruusss ,,, :D

    oiy, sy ijin share d fb jg y.. hhehee
    sumber teteup dicantumkaan :D

    ReplyDelete
  22. ceritanya seram :(
    lebih menyeramkan dari HorrorFact :(
    kenapa ya, ada sifat buruk dlm diri manusia.. kenapa ngga baik semua aja :(

    ReplyDelete
  23. doain saya sukses di kriminologi 2014 ya! semoga bisa meneruskan perjuangan mbak :)

    ReplyDelete
  24. Wah kak... aku kelas 1 SMA dan dari SMP udah excited banget sama jurusan kriminologi.. pengen banget bantu mereka T^T tapi gimana ya caranya u/ masuk jurusan itu? UI pula pasti ketat seleksinya.. mohon bantuan dan referensinya ya kak... hehehe

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers