(1) Penyelesaian


(gambar diambil dari sini dan diedit dengan PhotoScape)


Saat itu rasanya kakiku tak menapak walau kenyataannya aku tengah berjalan.

Ribuan kali menyusuri lorong ini untuk bersiap menghadapi pasien dengan keadaan separah apapun, aku tak pernah merasa kedinginan seperti saat ini. Takut, khawatir, ingin berteriak, tak percaya, amarah, dan segala emosi yang campur-baur mendesakku dengan kuat dari dalam, seakan ingin keluar dengan mengoyak setiap senti tubuhku.

‘Yan, lo dimana? Bisa kembali lagi kesini nggak? Nia kecelakaan mobil, Yan… dan sekarang dia disini...’

 ‘..Bagaimana bisa? Itu tidak mungkin, Ri. Dia ada di rumah!’


‘Tapi, Yan, menurut tanda pengenalnya…’

Mungkin dia berbicara, atau tidak. mungkin dia melanjutkan ceracauannya, atau tidak. entahlah, karena detik berikutnya aku membanting stir mobil untuk kembali ke rumah sakit. Klakson keras dari berbagai mobil di jalan raya hanya terdengar seperti bisikan. Kenyataan bahwa kepanikanku bisa saja menyebabkanku ikut celaka terasa hanya bagai sentilan.

Bagaimana mungkin ini bisa menimpa orang yang paling kukasihi?

“Kecelakaannya sangat parah, Yan. Mungkin sebaiknya lo nggak melihat Nia dulu.”

Ari mengejarku dengan terburu-buru. Berusaha menghalangiku yang melesat dalam kecepatan penuh. Di dahinya menitik keringat dingin—sesuatu yang hanya kulihat di saat ia benar-benar stress saat menghadapi situasi buruk nan pelik pasiennya.

“Bagaimana keadaannya?”

“Yan…”

“Jelaskan saja, Ri!!”

“Ah… Area Basal retak berat, otak depan luka parah, bulbus olfaktori hancur, kerusakan pada thalamus, kerusakan syaraf otak, dan… em, rongga mata kanan hancur dan mata keluar dari rongganya.”

Ya Tuhan…

Aku sungguh berharap segala macam hal mengerikan yang dijelaskan sahabatku tadi hanya bualan. Namun aku tahu, saat aku memasuki ruang operasi itu dan menemukannya disana, aku tahu bahwa semua hal yang dikatakan Ari benar. Entah siapa yang berbaring di atas meja operasi itu. Entah siapa. Karena Nia yang kukenal adalah perempuan luar biasa cantik dengan bola mata terindah yang pernah kulihat.

Makhluk dengan tengkorak terbuka itu tak mungkin dia.

“Yano!!”

Aku tenggelam dalam badai warna yang penuh suara jeritan tertahan. Semuanya berputar memusingkan, merenggut kesadaran diriku dengan kasar dari akarnya. Namun bagai iklan komersial yang ditayangkan sekejap mata diantara tayangan sesungguhnya, sensasi itu dengan cepat mereda, lalu kembali menyajikan kenyataan yang menghancurkan tepat di depat mukaku.

“Jangan masuk lagi, Yan… Gue mohon, jangan… biar dokter Trijoko yang menangani operasinya, oke? Lo percaya kan sama beliau? Lo disini aja, Yan…

Aku tak ingat apa aku menangis atau menjerit, atau justru tidak? Aku tak mampu mengingat apa yang disodorkan Ari dan apa yang kuminum darinya. Aku tak ingat berapa lama aku duduk di kursi ruang tunggu. Aku tak ingat mengapa staff-staff rumah sakit yang lewat memandangiku dengan pandangan mengasihani.

Ada apa ini??

“Permisi? Dengan Pak Faryano?”

Semburat kabur menyajikan sosok ngawur berwarna cokelat-tanah.

“Hm?”

“Kita dari Kepolisian, pak. Sebelumnya kita turut menyesal atas apa yang terjadi pada istri bapak. Tapi kita punya beberapa pertanyaan untuk menunjang penyelidikan. Kira-kira bagaimana pak?”

“Hmm… Ya…”

“Begini pak, apa bapak kenal dengan Roy Wibowo?”

“Mmm.. Nggak... Relevansinya apa, ya?” kesadaranku mulai kembali secepat tetesan air yang malas.

“Saat kejadian ibu Nia ini berada dalam mobil pak Roy Wibowo ini, pak.”

Apa?

‘Halo, Yang? Kamu dimana? Aku hari ini pulang cepat, agak demam.’

Bagai kaset rekaman, suaraku yang tengah menelfon Nia beberapa jam yang lalu terdengar lagi, lebih jelas dan keras dibanding ingatanku sendiri.

‘Ah? Iya.. Oh ya ampun.. em.. iya, sayang.. oke..’

‘Kok kamu kedengaran aneh, Ni? Lagi dimana ini?’

‘Nggak kok, Yan. Aku.. aku di rumah..’

Tuh, kan? Dia ada di rumah. Seperti itulah yang ia katakana padaku. Jadi bagaimana mungkin ia berada dalam mobil orang asing yang tak pernah aku kenal sebelumnya?

“Tidak  mungkin. Dia di rumah.”

“Tapi istri bapak kecelakaan mobil, pak. Dan mobil yang ditumpanginya itu adalah milik almarhum Roy Wibowo.”

“Anda mencoba mengatakan bahwa istri saya bohong sama saya, begitu??”

“Ah, bukan, pak… Tapi kenyataannya…”

“Bapak-bapak, maaf. Interogasinya bisa diundur saja gak? Tolong peka sedikit pak, ini teman saya baru kena musibah.” Gelegar marah suara Ari menyapu secara mendadak.

Aku hanya mendengar sekilas bahwa sosok kabur berwarna cokelat itu mengiba maaf lalu hilang. Dan Ari kembali berada disisiku, meremas pundakku, lalu menggumamkan sesuatu mengenai tidak pantas atau kurang ajar. Lalu sosoknya yang kabur pergi lagi, dan keheningan yang sangat keras kembali memangsaku hidup-hidup.

 “…istri dokter Yano ditemukan setengah bugil, ya?”

Suara apa itu? Bicara apa mereka?

“Dia lagi selingkuh, tuh. Cowoknya malah nggak pakai celana!”

Hentikan…

“Bukannya dokter Yano sayang banget ya sama istrinya? Mereka baru menikah 5 bulan ini, kan? Jahat ya istrinya, tega banget…”

Kumohon, hentikan…

“Kasihan dokter Yano. Kurang cakep apa coba? Muda, tajir, berprestasi, lagi! Kualat tuh istrinya!”

DIAAAAM!!

Jeritan itu tidak pernah tersampaikan. Alih-alih keluar, ia justru menggema dalam kepalaku. Memantul dan beresonansi dengan hebatnya. Mengguncang seluruh kesadaran, meruntuhkan apa yang coba kupertahankan.

Aku tenggelam dalam kegelapan yang pekat, tanpa satupun yang bisa kujadikan tempat bersemat…

* * *

“Yano!!”

Ari menghembuskan nafas lega saat akhirnya Yano membuka matanya dengan lemah.

Lelaki itu jelas sekali mengalami shock yang hebat hingga kehilangan kesadaran. Yah, bagaimana tidak? polisi dengan segala ketidakpekaannya, bisik-bisik gossip diantara para staff rumah sakit. Dan yang terburuk adalah perempuan yang dia sayangi dengan segenap jiwanya ditemukan nyaris tanpa bentuk dalam sebuah mobil bersama pria lain.

Ah, Yano… Seandainya saja aku perempuan, tentu tak akan sulit merebutmu dari perempuan itu. Perasaanku padamu tak setengah-setengah seperti dirinya. Keinginanku untuk memilikimu sebagai satu-satunya tak pernah meragu seperti Nia… kenapa Tuhan menciptakanku sebagai lelaki jika tubuh ini justru mengurung setiap inchi dari cinta yang kurasakan?

“Ari… Bagaimana Nia?” lirih Yano lemah.

Kenapa disaat perempuan itu telah meluluhlantakkanmu kau tetap memanggil namanya dan mempertanyakannya? Ah Yano, kita sama-sama menyedihkan, bukan? Aku dan cintaku yang tak akan pernah terucap, dan kau serta cintamu yang layaknya racun mematikan yang membunuh perlahan.

“Masa kritisnya… sudah lewat…” Ari berucap dengan susah payah.

Sebulir air mata jatuh dari mata indah Yano, mengalir pelan ke perbatasan rambut cokelat-alaminya. “Kok bisa begini ya, Ri? Gue kurang apa… Gue salah apa… Apa karena gue selalu sibuk, makanya…” ucapan Yano tertelan pekatnya sesak. Ia hanya menelan semuanya dan kembali terdiam, menatap nanar lampu ruangan dalam kosong yang menyayat.

Yano… Yano-ku… Aku diam dan membiarkanmu bersama iblis betina itu untuk melihatmu terus tersenyum dan bahagia… bukan untuk menyaksikanmu hancur dalam nestapa… ah, Yano… seandainya saja perempuan itu tak pernah ada…

“Udah, Yan… Istirahat saja… Gue janji sama lo, begitu lo bangun nanti semuanya bakal beres. Lo tenang aja ya…”

“Bener, Ri?”

“Lo percaya sama gue, kan? 15 tahun kita bareng emang pernah gue ngingkarin janji gue sama lo?”

Senyuman lemah mengembang di wajah pucat Yano. “Nggak, sob,” jawab Yano. “Lo satu-satunya orang yang nggak pernah ngecewain gue…”

“Makanya, sekarang lo tidur aja ya…”

“Ya… Makasih banyak, Ri…”

* * *

Kenapa kau tidak ikut mampus saja sih, bersama lelaki bodoh itu? Kenapa kau harus kembali? Kenapa?

Cairan dalam jarum suntik itu mengilat tertimpa cercahan cahaya muram.

Tapi kau tidak akan bisa menyakitinya lebih dari ini, jalang. Kau dengar? Kau tak akan bisa menyakitinya, karena aku tak akan membiarkanmu melakukannya!

Jarum suntik itu menembus selaput tipis kantong infus, lalu bercampur baur dengan cairan lainnya dalam kantong yang sama.

Matilah… aku tahu kau akan bersyukur karena aku telah menyelamatkanmu dari hidup yang kejam. Kau tentu tak ingin hidup dengan tampang monster seperti itu kan? Ya kan? Kau yang selalu mengagungkan kecantikanmu… ah, hanya tinggal menghitung hari sebelum kau menyadari buruknya tampangmu, lalu kau akan mengakhiri hidupmu sendiri.

Perlahan namun pasti, mengalir beraturan ke dalam nadi tubuh yang tergeletak diam di atas pembaringan.

Tapi itu hanya akan menambahi luka Yano. Karena itu biarkan aku membantumu sedikit, ya? Biarkan aku yang mengakhiri semuanya. Jika Tuhan masih menyisakan ini semua, maka biar aku yang memuluskan penyelesaiannya. Derita Yano, hidupmu, keberadaanmu… Semuanya! itu sebabnya, matilah… MATILAH!

Dia nyaris tertawa, namun menyimpannya untuk kemenangan dirinya sendiri. Perlahan, dalam kegesitan dan kelicinan layaknya ular, ia meninggalkan ruangan itu dan bergegas pergi sejauh mungkin untuk mengaburkan jejaknya.

Tinggal menunggu waktu, dan segalanya akan selesai…

SELESAI!

* * *

CERITA SELANJUTNYA : "SELAYAKNYA"

18 komentar:

  1. uwwwooo..baru selesai baca dan hebat!
    klimaksnya dapet bgt, apalagi waktu menceritakan "cintanya Ari"
    good story!

    ReplyDelete
  2. ya ampun kenapa keren sekali cerpen ini? sastrawan kah kakak? :0

    ReplyDelete
  3. bagus banget ceritanya, itu gak ada lanjutannya lagi mba suci? ane masih bingung mba yg harus disalahin yg mana, cuman tokoh yano nya kasian bgt ya? istrinya selingkuh sahabatnya ngebantu tapi pake cara ngebunuh. masih bingung siapa yg salah kalo ceritanya sampe situ aja mba, bisa dilanjutin gak? :D

    ReplyDelete
  4. @izza: hehehe ^^ makasiii. iya, sengaja klimaksnya diserahkan sama Ari. tokoh utamanya bobo aja dulu. huehehe.

    @dita: bukan deeeek. hahaha. makasi yaa. aminamin mah kalo cerepen begini udah bisa disebut sastra. huweee :(

    ReplyDelete
  5. @herlus: wah kalo gitu harusnya ini judul cerpennya 'sambungan' dong ya hahaha. takutnya jayuuus, walau ada sih idenya, tapii kan ini 'penyelesaian' hehehe.

    ReplyDelete
  6. oh iya sih tapi penasaran mba gimana akhirnya. Kalo tokoh utamanya yano ko gak ada di akhir cerita ya mba? tapi sumpah selebihnya ini bagus bgt hehehe

    ReplyDelete
  7. @herlus: ooo iyaak! gue ngerti! ntar ceritanya dilanjutin tapi pake judul lain. sipsip hehehhe. tunggu aja yaa ^^ di cerita lanjutannya yano ada kok. makasii

    ReplyDelete
  8. kereen mbak ceritanya,
    itu ceritanya si Ari penyuka sesama jeniskah??
    Ditunggu ya mbak lanjutannya ^^

    ReplyDelete
  9. nah ditunggu apdetnya mba di pourix *ups* :D

    ReplyDelete
  10. waw mbak suci keren banget cerpen nya :D
    seru banget baca nya, di tunggu cerpen nya lagi ~

    ReplyDelete
  11. Aaaargh! Cerita ini mengingatkan saya pada kecelakaan tragis di Tugu Tani kemarin senin. Dan saya jengkel sekali dengan kejadian itu. Marah! Saya ingin si penabrak dihukum seberat-beratnya!

    ReplyDelete
  12. mbak suc [engga enak banget manggilnya] ceritanya paaaaaas sama konsep blognya :) di konsepin lagi posting-posting cerita hal fact seperti hantu2 atau makhluk aneh alin aja :D pasti lebih peeeerfeeeeeect blognya <--saran aja sih

    ReplyDelete
  13. wooww!!!KEEEERREENN BANGET! baca berulang-ulang juga ga bakal bosen :D

    ReplyDelete
  14. @rizky: maachii.. :D iya, Ari itu cowo tapi suka sama Yano yang cowo juga. huehehe.

    @herlus&dita : udah ada yang baru lhooo ^^

    @asop: gara2 kecelakaannya ya mas -___- iyaa, sedih banget apalagi yang waktu adek kecilnya itu sekarat.

    ReplyDelete
  15. @anwar:: lah kok diem mas? -___-

    @daka: hah maksudnyah gimana gimana dak?

    @emelia: huehehehe makasiii kyaaa #peluk

    ReplyDelete
  16. baca cerpen ini di temanni backsound nya -____- dapet bgt dah.. huhuhu

    ReplyDelete
  17. wow... keren banget ceritanya Ci.... masih bersambungkah?

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers