(3) Tersampaikan



(gambar diambil dari sini dan diedit dengan PhotoScape)


 “Kamu nggak apa-apa, Darl?”

Nia menatapku erat, wajah mungilnya berkerut khawatir.

Eh? Aku mengerjap dengan agak bingung, lalu mengedarkan pandangan ke sekelilingku.

Ah… Ternyata aku ada di rumah kami. Di ruang keluarga, tepatnya, dan berbaring di atas sofa bersama si manja. Ini seperti hari-hari liburku yang biasanya, namun kenapa aku merasa ada semacam rasa rindu yang menggila dalam dadaku, menimbulkan sesak yang pekat dan rasa panas di mata—seakan akan ada sesuatu yang berbisik dalam kegelapan disana bahwa hari-hari ini sudah tak mungkin lagi ada…


“Nggak apa-apa, sayang…” jawabku akhirnya, mengucek mata yang terasa panas.

“Mata kamu merah tuh, Darl. Jangan dikucek, dong!” Nia menarik tanganku yang sedang mengucek mata lalu melingkarkan tanganku itu di sekeliling pinggangnya. Si Manja ini minta dipeluk secara tak langsung, rupanya.

“Hahaha. Iya deh, nanti aku minta Ari yang meriksa deh. Agak panas, rasanya.” Keluhku. Ari, sahabatku yang paling dekat, memang bekerja sebagai dokter spesialis mata di rumah sakit yang sama denganku. Kami sudah bersahabat sejak 15 tahun dan kurasa, jika di dunia ini aku punya saudara laki-laki, Ari-lah orangnya.

“Ari tampan juga ya. Dokter tapi body-nya atletis gitu, kekar banget gitu. Mana rada brewokan tapi kesannya tetap rapih. Pasti enak banget jadi pasiennya ya.” Gumam Nia tiba-tiba—entah mengapa.

“Heh, kalau kamu mau selingkuh jangan sama sahabatku, dong!” geramku sembari menggelitiki pinggang rampingnya.

Nia tertawa, memperlihatkan barisan gigi putih yang rapi. Matanya selalu hilang saat ia tertawa, menyipit tak bersisa. Padahal dalam keadaan normal, matanya begitu besar, bulat, dan cemerlang bagai bola kaca kecil bewarna cokelat.

Yah, jika ada bagian dari dirinya yang paling kusuka, mungkin bola matanya itulah.

“Hahahaha. Tenang aja sayang, kalau aku mau selingkuh ya ga sama Ari jugalah. Emangnya dia mau ya, sama cewek?” lirik Nia penuh arti.

“Maksud kamu?” tanyaku tajam.

“Lah, kamu ga tau? Ya emang sih, itu cuma dugaanku. Tapi biasanya feelingku tajam lho!”

“Apanya sih?” tuntutku semakin penasaran.

“Iiiih sayaaang! Kamu kan udah 15 tahun bareng Ari!” keluh Nia gemas. “Masa kamu nggak tahu, sih?”

“Duh, ribet amat. Emangnya Ari kenapa? Perasaan dia biasa-biasa aja tuh.”

“Sayaaaang,” Nia mengambil wajahku dan menjadikannya lurus dengan wajahnya. Tatapannya begitu sungguh-sungguh hingga aku merasa dia akan mengatakan sesuatu yang benar-benar serius. “Ari itu kan……”

JANGAN DENGAR!!

Aku tersentak kaget saat menyadari suaraku sendiri bergema sangat keras dalam kepalaku.

Sesuatu menarik—atau lebih tepat menyeret—kesadaranku kembali ke arah kegelapan. Aku menjerit, berusaha mengais sisa-sisa kenangan bersama Nia yang semakin jauh dan buram. Kucakari setiap permukaan yang mungkin mampu kutemui, namun dalam gelombang kegelapan dan kekuatan besar yang kini tengah menyeretku, aku bagai boneka kain yang tak berdaya menghadapi apapun.

Aku dihentak dengan keras dan kembali ke kesadaran.

Tetes-tetes air mata hangat berjatuhan dari kedua mataku, mengaburkan gambaran jelas kamar yang kutempati dalam villa Ari.

Ya, aku tak berada di rumah kami. Tak ada Nia dalam pelukanku.. tak ada suaranya yang kerap mendayu. Aku kini sendirian, hanya mampu menyicip keberadaannya yang tak lagi nyata adanya dalam mimpi yang bahkan tak sempurna. Aku bergelung di tempat tidurku dan meredam jeritan dari dadaku dengan bantal.

Ya Tuhan… Rasanya seperti direnggut. Bolehkah aku meminta kematian jika sakitnya seperti ini? bagaimana mungkin kini kebahagiaan dan kehidupan yang sempurna itu rasanya begitu jauh?

Aku menyayanginya sepenuh hati, dan bagaimana bisa ternyata semua kasihnya itu palsu? Di belakangku ia bercinta dengan laki-laki lain yang jauh lebih tua, lebih jelek, dan lebih miskin dariku. Apakah memang aku seburuk itu hingga ia tak mampu dipuaskan oleh seorang aku? Adakah yang salah atau kurang dari besarnya aku mencintainya?

Dan kini ia meninggalkanku sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab, pertanggungjawaban yang tak tuntas—yang semuanya memangsaku pelan-pelan tanpa ampunan?

Sungguh, aku ingin mati saja…

“Pak Yano?”

Sesosok renta Bibi penjaga villa menghampiriku. Menatap dengan khawatir dari matanya yang mengerut digerus usia. Dialah yang menjagaku saat Ari tak ada, dan sekalipun ia terlihat rapuh, ia sendirian mampu merawatku lebih baik dibandingkan perawat rumah sakit manapun yang kutemui. Dan di tangannya yang dipenuhi garis-garis umur itulah, aku memperoleh sedikit demi sedikit kewarasanku lagi.

“Hm?” gumamku, berusaha menghapus air mata dengan sembunyi-sembunyi.

“Bapak ndak apa-apa?”

“Tidak, Bi…” Aku turun dari tempat tidur dan membasuh wajahku di wastafel yang terletak di ujung kamar, berusaha mengaburkan jejak-jejak kepedihan dan kesakitan. “Ari sudah pulang, Bi?”

“Belum, pak… mungkin sebentar lagi, Jakarta kan macetnya naudzubillah, Pak,” jawab Bibi lebih riang saat ia kini benar-benar yakin aku tak apa-apa. “Makan malamnya sudah siap, Pak. Ayo Pak, makan dulu.”

“Ya, terima kasih Bi.”

Aku bergerak ke ruang tengah dan mulai melahap sajian yang dihidangkan di atas meja sembari menonton televisi hanya untuk memberi tubuhku pekerjaan dan kesibukkan agar aku tak lagi memikirkan mimpi tadi. Kupaksa tenggorokanku menelan kunyahan demi kunyahan hanya agar bola mata yang masih terasa panas itu tak lagi meneteskan air mata dan membuat Bibi khawatir.

Ah… Seandainya Ari ada disini…

“Ari tumben banget lama begini ya Bi?” gumamku sembari menatap jauh dari balik kaca jendela, ke gerbang villa yang diliputi kegelapan. “Bibi pulang duluan saja deh, kasihan kalau balik ke rumah malam-malam begini.”

“Ndak apa-apa, Pak. Bibi mah udah biasa.” Sahut Bibi sembari terus mengupas apel dengan pisau kecilnya.

“Bi, saya sudah nggak apa-apa, kok.” tegasku. “Cucu Bibi menunggu di rumah, kan? Toh sebentar lagi paling Ari sudah pulang. Ya, Bi?”

Bibi berhenti mengupas buahnya dan menatapku agak lama, seperti mempertimbangkan apakah benar aku akan baik-baik saja bila ditinggalkan sendirian. Namun akhirnya ia menyerah juga dengan kekhawatiranku, dan pulang ke rumahnya dengan setengah hati—sembari berkali-kali menoleh ke rumah seakan tak pernah benar-benar tega meninggalkanku sendirian.

Hanya beberapa menit setelah kepulangan Bibi, hujan mulai turun mengguyur dengan lebatnya, dan aku merasa sangat bersyukur karena aku telah bersikeras menyuruhnya pulang. Bayangkan saja bila perempuan seusianya terpaksa menerjang angin dan hujan besar seperti ini di tengah malam? Uh, memikirkannya saja sudah membuatku merasa bersalah.

BRAKKK!

Sesuatu menabrak pintu depan Villa hingga bergetar mengerikan, membuatku yang hanya berada 3 meter darinya melompat kaget.

Batang pohonkah? Atau pencuri? Aku bergegas mengintip dari sisi-sisi jendela, namun dalam kegelapan total akibat lampu halaman yang pecah malam sebelumnya, pupilku nyaris tak menerima apa-apa. Aku berusaha menenangkan denyut jantungku sembari mempertimbangkan untuk memeriksa atau tidak, ketika tiba-tiba saja, aku mendengar rintihan dari suara yang terlalu kukenal.

“…Yan…”

Aku melompat dari tempat dudukku dan membentur piring buah-buahan hingga isinya berikut sebilah pisau berceceran di lantai. Dengan ketergesaan dan ketakutan, aku berusaha membuka pintu depan dengan secepat mungkin.

Dan tubuh Ari yang basah karena hujan dan—ya Tuhan—darah segar, roboh ke dalam pelukanku.

“Ari!!” jeritku ngeri.

Keadaannya parah sekali. Aku bisa melihat luka selebar 2 inchi yang menganga di atas belikatnya. Tulang jari telunjuk tangan kanannya bahkan melesak keluar dalam posisi yang tak lazim. Dan dari caranya bergerak, aku tahu setidaknya dua sampai tiga rusuknya pasti patah.

Aku memapahnya dengan penuh hati-hati hingga ke sofa yang tadinya kududuki. Dalam belitan panik dan khawatir, aku bertanya-tanya bagaimana bisa ia jadi seperti ini. Atau bagaimana bisa ia sampai ke sini, dalam guyuran hujan dan angin yang terlalu kencang—bahkan tanpa mobilnya?

Aku melesat untuk mengambilkan berbagai barang. Tumpukan selimut, air panas, hingga obat-obatan. Namun saat aku menyambar handphone dan mencoba menelfon ambulance untuk mendatangkan pertolongan lebih lanjut aku menyadari handphone sialan itu tak berhasil mendapatkan signal.

“Yan…” bisik Ari tiba-tiba dengan suara lemah.

“Ya, Ri?” Aku melesat ke sampingnya, berusaha mendengarkan kata-katanya yang keluar dengan susah payah.

“Gue mau ngomong… Bantu gue duduk…” engahnya kesakitan.

Damn! Lo ngomong apaan sih? Tidur disana, simpan tenaga lo, dan kita bakal tangani luka-luka lo sebisanya! Lo itu luka pa…”

“DIAM!”

Aku ternganga saat dengan kekuatan yang entah darimana, Ari membentakku dengan sangat keras. Ekspresinya begitu menakutkan—sesuatu yang belum pernah kulihat selama kami bersama. Aku bahkan lupa bernafas karena kagetnya, terutama saat ia menegakkan tubuhnya sendiri, lalu memandangku tajam.

“Gue… Harus bicara… Gue harus menyampaikan sesuatu...” Engahnya. “Tolong, dengarkan dan jawab saja…” nada itu mulai memelas dalam permohonan.

“Ya…” jawabku tak sadar, masih dibelit keterkejutan.

“Yan… Gue…” dahinya yang dipenuhi gumpalan darah berkerut seakan kesakitan. Tapi entah mengapa aku tahu kesakitan itu bukan berasal dari luka-luka di tubuhnya. “Gue dari dulu, udah lama sayang sama lo…”

Aku terdiam, lalu mendengus tertawa. “Ya Tuhan, aku pikir lo akan bilang apaan. Iya gue tau, Ri. Gue juga, tapi sekarang lo ist..”

“Lo ga mendengarkan gue dengan baik!!” bentaknya lagi. “Bukan sayang… seperti itu… gue… gue sayang, dan tertarik secara… se… seksual.. dengan lo…”

Keheningan terkeras menyapu ruangan itu maupun pikiranku.

Apa?

“Gue tahu otak lo lagi kacau,” aku berusaha tenang saat kembali bicara, walau rasanya otakku kebas sekali. “karena itu plis banget pembicaraan ini…”

Kata-kata itu tak pernah selesai. Karena tiba-tiba saja Ari bergerak dengan cepat kearahku.

Awalnya, aku pikir ia akan menyerang atau mencoba melukaiku. Itu sebabnya aku juga secara refleks mundur ke belakang untuk menghindar, lalu jatuh terjengkang.

Namun Ari tak melakukan keduanya.

Dengan tenaga yang luar biasa kuat untuk ukuran orang yang sebagian tulangnya melesak dari jalurnya, ia mendorongku, dan mengulum bibirku dengan kasar. Membagi rasa karat dan amis darah serta getir hujan—juga keterkejutan dan ketidakpercayaan yang luar biasa.

Ya, dia—sahabat baikku selama 15 tahun—menciumku.

* * *

Dalam mimpi Ari selama ini, yang hampir setiap malam terjadi, ia selalu membayangkan adegan terlarang itu dipenuhi kelembutan dan emosi yang kuat. Ia selalu bangun untuk diliputi perasaan bersalah, namun tetap mengharapkan itu semua akan terjadi, dengan begitu diam-diam.

Namun saat akhirnya hal itu terjadi, Ari justru menemukan dirinya dipenuhi kesakitan dan kepedihan—bukan kebahagiaan dan emosi cinta yang kuat seperti yang ia harapkan.

“LEPASKAN!!”

Yano melempar tubuh Ari dengan seluruh kekuatannya, dan dari berbagai suara tak lazim di tubuhnya, Ari tahu kini tulang-tulang yang patah itu telah melesak ke beberapa organnya.

“Lo pikir apa yang lo lakukan!?” jerit Yano. “Itu… itu tadi…” dan ia terdiam, tak menemukan kata-kata yang mampu menggambarkan apa yang coba ia ungkapkan.

“Itu kenyataannya.” Lirih Ari, berusaha menahan segala rasa sakit yang menggila. “Gue cinta sama lo, Yan… Sejak dulu…” ia mulai terisak, seakan mengeluarkan segenap kesakitan dan pedih yang telah ia pikul bertahun-tahun. “Gue mencoba menahan semuanya dan bertekad membawa itu sampai mati. Karena gue tahu.. lo… lo normal.. Gue takut lo marah, tapi gue tahu lo bakal ngerti kan, Yan? Lo ga bakal ninggalin gue setelah lo tau kan, Yan?”

Ari merangkak pelan ke arah Yano yang memandangnya penuh kengerian.

“Lo… lo akan tetap di sisi gue sekalipun lo tahu, kan? Ya kan, Yan?” Ari meraih kaki Yano dan mulai mengiba, namun Yano justru menghentakkan kakinya dan berdiri, mengambil jarak sejauh mungkin dari Ari.

“Lo…” wajah Yano dipenuhi kerut hebat emosi. “..MENJIJIKAN!!”

Ari tersentak. Seakan ditampar terlalu keras oleh tangan tak terlihat dan tak percaya itu terjadi padanya, bibirnya menganga dan bola matanya membeliak.

“Nggak…” rintihnya. “Nggak mungkin kayak gini… TIDAAAAAK!” Ari tersedu, memukuli lantai dengan tangannya, seakan tak perduli bahwa beberapa dari jarinya tengah patah. Ia seakan diselimuti kepedihan yang terlalu hebat, yang terlalu dahsyat sehingga menutupi kesakitan di sekujur tubuhnya.

 “Gue pikir kita bersahabat!” balas Yano keras. Wajahnya diliputi rasa jijik dan jengah. “Nggak gue sangka ternyata motif lo kayak gitu! MENJIJIKAN!”

Yano menyambar handphonenya dan melangkahi Ari untuk bergerak menuju pintu.

“TIDAAAAAK! Lo ga boleh ninggalin gue!!” Ari menyambar kaki Yano hingga lelaki itu terjatuh dan dahinya membentur pintu dengan keras. “YANO! Ya Tuhan… Yano, maafin gue… Yan, maaf… maaf…” Ari beringsut untuk memeriksa luka di dahi Yano yang kini meneteskan darah.

“Jangan sentuh gue, lo bajingan!” jerit Yano sembari menepis tangan Ari. “Gue nggak mau ketemu lo lagi! Gue nggak mau ngeliat lo lagi!!”

Tubuh Ari kembali mengejang. Wajahnya yang tampan kini dipenuhi darah yang bercampur air mata.

“Lo nggak BOLEH ngomong kayak gitu sama gue!!” gerung Ari, hilang kendali. “Gue sudah melakukan semuanya untuk lo! Semuanya! Lo pikir siapa yang membiayai kuliah lo? Lo pikir siapa yang membantu lo dalam tiap ujian? Lo pikir gara-gara siapa lo bisa jadi dokter dan sukses, hah?? Jawab, Yan!!”

Sejenak Ari gemetar, lalu meneruskan kata-katanya dengan suara lemah. “Gue bahkan sudah membunuh demi lo, Yan… semuanya demi lo… gue sudah melakukan hal-hal yang nggak termaafkan hanya karena lo… Gue mencampurkan thallium ke dalam infusnya.. demi lo..”

“Apa?” sergah Yano terperanjat.

“Ya, kan?” Ari mendongak, wajahnya dihiasi ekspresi yang menakutkan hingga memberinya kesan seakan tak waras. “Kini lo nggak perlu repot lagi gara-gara perempuan jalang yang sudah menghianati lo itu, kan? Ya kan, Yan? Lo bersyukur kan, karena gue sudah melenyapkan Nia?”

Yano menganga, seakan informasi itu terlalu mengerikan untuk dicerna, ia dilahap kesunyian sebelum mulai terguncang dan terisak hebat.

“NGGAAAAK!!” Jeritnya keras. “TIDAAAAAK!!” dengan brutal ia menyambar kerah baju Ari lalu meninju wajah yang sudah memar itu dengan sekuat tenaga. Ari terlempar sementara Yano sendiri kemudian roboh tak bertenaga di dekat pintu.

“Kenapa, Riii?” rintih Yano diantara sesaknya. “Kenapa lo ngebunuh Nia?? KENAPA!?”

“Dia udah nyakitin lo!” gerung Ari membalas.

“GUE GAK PERDULI!!” Jerit Yano. “Gue akan selalu memaafkan dia! Gue ga perduli bahkan kalau dia tidur dengan orang lain di depan mata gue! Gue nggak perduli bahkan kalau dia jadi pelacur, atau dia nusuk gue atau APAPUN! NGGAK! Gue ga perduli! Gue cinta banget sama Nia, Ri!! Gue hanya ingin dia hiduuuup!”

“Bohoooong!” tepis Ari sembari menutup telinga.

“Padahal lo tahu…” desis Yano sembari menunjuk. “Lo tahu kan, betapa besar gue mencintai dia? Lo sendiri yang menyaksikan kehancuran gue saat dia ga ada… Lo menontoni gue yang menjerit dan menangisi dia tiap malam… lo menyaksikan gue nyaris gila karena kehilangan Nia! Lo menontoni kepedihan gue.. TAPI LO NGGAK PERDULI!”

Yano menyambar pisau buah yang terletak di dekatnya, lalu mengancungkannya.

Mata Ari membelalak melihat pisau itu. “Jangan, Yan… Gue mohon, jangan Yan… Gue ngelakuin itu karena gue ga mau lo menderita lagi… Please, Yan… Jangan…” rintih Ari.

Yano terkekeh seperti orang gila.

“Nggak… Tenang aja, gue nggak akan membunuh lo, Ri…” kekehnya sembari tersenyum seperti orang sinting. “Gue akan ngebuat lo ngerasain semua yang gue rasain…” desisnya licik. “Lo nggak tahu kan, rasanya kehilangan orang yang paling lo cintai? Lo nggak tahu gimana rasanya mengisi malam-malam lo dengan menjeritkan nama dan kehadirannya? Lo nggak tahu gimana beratnya berusaha bangkit dari kehancuran itu, kan Ri? Ya, ya, lo ga tau…” Yano mengangguk-angguk seakan menyetujui ucapannya sendiri.

“Tapi…” ucap Yano perlahan. “Sekarang lo bakal tahu rasanya, Ri… Ya, sekarang lo akan tahu…”

Yano tersenyum. Sekilas, dalam beberapa detik yang membeku, ia terlihat begitu lega dan bahagia, seakan-akan tahu dirinya akan terlepas dari segala kesakitan dan kepedihan. Sementara, dengan kengerian yang sarat Ari tiba-tiba saja sadar apa yang akan dilakukan Yano.

“JANGAAAAAAAN!”

Dan sebelum Ari sempat melakukan apapun, Yano mengarahkan pisau itu ke lehernya, dan menusukkannya tepat di titik dimana pembuluh darah yang membawa suplai darah ke otaknya berada.

"YANOOOO!!"

Rasanya bagai tak nyata, saat Ari merangkak diantara muncratan darah menuju tubuh Yano yang mengejang kehabisan darah.

Rasanya begitu tak adil, saat Ari memeluk tubuh Yano yang mulai membiru dan mendingin, meneriakkan namanya dengan seluruh tenaganya—seakan dengan begitu ia bisa bangun kembali.

Rasanya bagai seabad, dan Ari masih menangisi kehilangan itu hingga kesadarannya sendiri mulai terenggut.

Ari kemudian jatuh ke kegalapan yang sepi tanpa dasar—saat ia kemudian tak sadarkan diri akibat luka-luka hebat di fisik dan terutama hatinya.

* * *

“Ga percaya ya, rasanya.”

“Polisi sudah tahu belum sih, apa yang sebenarnya terjadi di sana?”

“Entahlah. Katanya sih, di pisau yang digunakan dokter Yano untuk bunuh diri hanya ada sidik jari dokter Yano dan bibi penjaga Villa gitu. Makanya polisi masih bingung apa yang sebenarnya terjadi di sana.”

Kedua perawat yang tengah berdiri di depan ruangan tempat Ari dirawat itu menghela nafas, lalu kembali mengintip ke dalam kamar melalui jendela kecil di pintunya.

“Kok bisa jadi begini ya…” rintih salah satunya sembari menahan tangis. “Nggak nyangka banget, awalnya kita kehilangan dokter Yano, eh, sekarang dokter Ari jadi gila…”

“Ya, mengerikan banget… Mana kemarin waktu gue jaga, gue denger sendiri dokter Ari semalaman seperti tengah ngobrol dengan dokter Yano dan istrinya!”

“Maksud lo? Ada hantunya??” lengking salah satunya tertahan.

“Ya gak tahu! Entah dia beneran ngeliat hantu, atau itu cuma halusinasi-nya karena gangguan jiwa!”

“Eh, eh! Lihat, tuh! Dokter Ari ngomong lagi!”

“Buka sedikit pintunya, gue mau dengar!”

Pintu itu mengayun terbuka, dan dari sedikit celah itulah, suara tawa Ari kembali terdengar. Bola mata Ari seakan berpindah dari satu sudut ke sudut satunya, seakan ia tengah menatap dua orang yang tak terlihat. Berkali-kali ia tertawa dengan santai, lalu menghela nafas lega.

“Ya, kan? Setidaknya semua tersampaikan.” Kekeh Ari pelan. “Tersampaikan…”

--SELESAI--

18 komentar:

  1. Gak nyangka kalo ending-nya homoseksual...sahabatan yg begitu kental sesama jenis juga mesti dicurigai ya...#mikir lingkungan skitar. Keren banget ci!! coba ada produser FTV keren tu bwt di filmin...

    ReplyDelete
  2. ngeri bacanya tapi asik banget keren ceritanya. tapi ini yg terakhir ya mba? -_- kalo bisa lempar cendol ane lempar deh hehehe. yano nia mati ari jadi gila :D

    ReplyDelete
  3. Ini cerita apa suciiii panjang banget trus tulisannya kecik2..
    Gw pengen baca tpi keburu sakit mata dluan!!!
    Hiiikkkkssss :(
    gedein sizenya la!!!

    ReplyDelete
  4. @kiky: gyaaaaa ga pedeee :(( maachi yaa :-* iya, agak gimana gitu ya.. -__- tapi bagi gue sih tetep aja ari kasian. ari kasiaaaan huwaaaa :(

    @herlus: jangan lempar cendol dong,duit aja mari, mari. iya, tiap kali bikin cerita, gue ga bisa bikin happy-ending. maap ya.

    @hana: huahahahahahaha maap yaaaa ^^ ntar lain kali digedein sizenya

    ReplyDelete
  5. @ilham: coo crushh apa sih gan? <--ndeso

    ReplyDelete
  6. akhirnya meembaca sesi terakhir
    Lha yang mati kok bukan Ari?kok malah Yanonya mbak?
    hmmmmm

    ReplyDelete
  7. @rizki: akhirnya tamat juga ya, fyuh. iyaaaa soalnya gue sukanya sama ari, jadi biar yanonya aja yang mati. huahahaha <--egoisme penulis

    ReplyDelete
  8. keren banget endingnya. kaget, kirain yang bakal mati Ari-nya .
    logikanya Yano keren juga ya, buat bales dendam dgn kematian dia xD

    ReplyDelete
  9. maachiiI *kecup @izza iyaa, soalnya gue mikirnya kalo Yano bunuh Ari lah kasian dianya nanggung dua kematian. tapi intinya gue emang ga mau bunuh Ariii huahaha.

    ReplyDelete
  10. nice ending... tampil beda dan diluar dugaan... keren!

    ReplyDelete
  11. kyaaa~aa makasi mbak @alaika *kisskiss

    ReplyDelete
  12. gial deh tragis banget penuh emosi yang menguras! bagus! :D

    ReplyDelete
  13. @asep: makasi gan ^^ syukur deh klo emosinya bisa tersampaikan hahaha

    ReplyDelete
  14. thumbs up b^^d

    emosi para pemainnya tersampaikan !!

    ReplyDelete
  15. @diah: kyaaa~aaa makasiii *kisskiss

    ReplyDelete
  16. *bergidig*
    keren bangeeeet cerpennya...
    lagi ..
    lagi ..
    :)

    ReplyDelete
  17. *merinding*
    dahsyat nih emang cerpen nya, cinta emang ga ada batasan nya ya :O

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers