2 Mei 2019

Jantung Anakku Part 1: Menerima Takdir Allah

07:44 0 Comments
Sumber Gambar di sini


“Waduh.”

Hanya sepenggal kata, namun ekspresi khawatir di wajah DSA #BabyBro saat memeriksa detak jantungnya itu membuat perutku mulas sejadi-jadinya.

Wajah DSA #BabyBro mengkerut. Ia tampak berkonsentrasi mendengarnya detak jantung #BabyBro dari berbagai sisi. Padahal sebelumnya sudah berkali-kali ia memeriksa #BabyBro, namun kini ia seperti baru menyadari sesuatu yang dulu terlewat olehnya. Dan semua itu karena pertanyaan singkat yang kuajukan sebelumnya,

“Dok, ini kok tangan dan kakinya sering banget keringatan ya? Jantungnya nggak apa-apa kan?”

Lalu ketakutanku pun terjawab:

“Bu, ini sepertinya jantungnya memang ada masalah. Ada murmur soalnya. Saya rujuk ke spesialis jantung untuk anak ya, Bu.”

Mendengar bahwa anak yang paling disayangi menderita penyakit mematikan, dunia seorang ibu mana yang tak runtuh?

Begitupun aku.

Kala itu, untuk sesaat rasanya bumi berhenti berputar, meniadakan semua jalan kehidupan.

Namun seperti biasanya, saat perasaan dilanda badai yang terlalu hebat, aku kemudian membiarkan akal sehat yang mengambil alih ‘kemudi’. Semacam mode survival, lah. Pertanyaan seperti mengapa itu terjadi, apa yang harus kami lakukan selanjutnya, bagaimana tindakan yang bisa kami ambil, harus apa dan bagaimana, semua kami ajukan pada DSA #BabyBro.

Namun DSA #BabyBro kala itu tak bisa banyak menjelaskan, karena kondisi sesungguhnya dari jantung #BabyBro hanya bisa diketahui setelah pemeriksaan echocardiogram, semacam ‘USG’ untuk jantung, yang sayangnya tak ada di kota kecil kami. Untuk mengetahui kondisi yang sesungguhnya, kami harus membawa #BabyBro ke rumah sakit besar di Provinsi sebelah. Maka hari itu, kami pun harus puas dengan sepucuk surat pengantar dan diagnosis sementara.

Setelah proses pembayaran dan administrasi yang terasa seperti tak nyata, kami pun pulang. Dalam perjalanan pulang tersebut, aku dan Mr. Syu bertengkar hebat. Mr. Syu menyalahkanku karena menanyakan perihal jantung pada DSA tersebut. Padahal hari itu kami datang ke RS karena ingin berkonsultasi mengenai masalah diare yang #BabyBro alami. Tak sedikitpun ada pemikiran bahwa hari itu kami akan mendengar kabar yang begitu mengerikan.

Dalam kegundahannya, Mr. Syu mengira DSA itu mengada-ngada karena nyatanya, anak kami adalah bayi yang sangat sehat. Ia sangat sangat aktif, bahkan cenderung tak bisa diam. Bagaimana mungkin anak sesehat dan seaktif itu menderita penyakit yang luar biasa seperti penyakit jantung?

Tapi, aku ini ibunya. Hatiku tahu diagnosis DSA #BabyBro itu benar.

Saat kami berdua sudah tenang, kujelaskan pada Mr. Syu bahwa sudah sejak lama instingku berkata ‘ada yang salah’. Iya, anak ini sangat sehat.  Iya, anak ini sangat aktif. Iya, tumbuh kembangnya baik.

Namun setiap kali meraba jantungnya, merasakan debaran yang ada disana, aku selalu tahu ada suatu masalah yang harus segera kucari tahu wujudnya.

Mr. Syu tak lantas menerima. Bahkan setelah ia tenang, butuh waktu bagiku untuk menjelaskan mengapa kami memerlukan pemeriksaan lanjutan ini. Aku tahu bukannya ia orang yang ndableg atau semacamnya, hanya saja iapun butuh waktu untuk mencerna sesuatu sepahit ini. Untuk menerima sesuatu yang menyakitkan seperti ini. Untuk menghadapi ketakutan akan hasil pemeriksaan dan kemungkinan pengobatan nanti.

Akhirnya, setelah banyak diskusi dengan keluarga, malam-malam yang kami habiskan untuk mengobrol dan membagi beban di hati, air mata yang tertumpah, serta artikel-artikel yang kubaca untuk menguatkan informasi kami, kami pun satu suara untuk membawa #BabyBro menjalani pemeriksaan lanjutan.

Dan instingku benar. #BabyBro dinyatakan memiliki penyakit jantung bawaan atau congenital heart disease.

Lewat pemeriksaan echocardiogram, kami bisa melihat dengan baik bahwa jantung #BabyBro memang bermasalah. Ada lubang kecil di sekat antar biliknya.

Lubang yang sangat kecil, hanya 3 mm. Namun lubang itu sudah mencuri sebagian besar tenaga #BabyBro dengan membocorkan darah bersih ke tempat yang kotor. Itulah mengapa ia tak kunjung gendut meski menyusu hampir setiap satu jam sekali. Itulah mengapa saat baru lahir dulu ia kerap menjadi ungu setiap kali dimandikan. Itulah mengapa kaki dan tangannya kerap berkeringat, hingga kaos kakinya nyaris selalu basah.

Lubang itu membiarkan gizi dan oksigen tak beredar dengan baik di tubuhnya. Alhasil, untuk bisa tumbuh, tubuhnya membutuhkan nutrisi dua kali lipat dibanding anak biasa. Pun untuk menutupi kekurangannya, jantung #BabyBro bekerja dengan sangat keras hingga debaran jantungnya menjadi sangat cepat, hampir seperti kelinci.

Pemeriksaan itu juga menunjukkan bahwa ia sebenarnya terlahir dengan lubang yang lebih besar, sekitar 5 mm. Itulah sebabnya PJB nya tak langsung ketahuan saat pemeriksaan setelah lahir. Lubang yang lebih besar berarti tak ada suara kebocoran yang terdengar. Namun seiring berjalannya waktu, tumbuh jaringan-jaringan baru yang mencoba ‘menambal’ lubang itu. Alhasil kini lubangnya tinggal 3 mm, dan suara berisik dari darah yang menyemprot bisa didengar oleh dokter.

Namun aku tak bisa mengeluh, karena saat kami menunggu antrian di RS tersebut, aku dibuat malu habis-habisan oleh Allah SWT.

Jika sebelumnya aku merasa langitku runtuh karena cobaan tersebut, merasa semesta begitu kejam pada anakku yang tak bersalah, merasa dunia ini seakan segera berakhir, merasa hatiku dipenuhi ketakutan akan kehilangan yang amat sangat… maka semuanya lebur saat aku melihat kondisi anak-anak lain di ruangan tersebut.

Ada yang hidrocepalus. Ada yang memiliki Down Syndrome. Ada yang terus batuk hingga hanya mampu terbaring lemah.

Lalu di ruangan tunggu echocardiogram, aku kembali melihat anak-anak PJB yang cobaannya lebih berat. Ada anak-anak yang tubuhnya jauuuh lebih kecil daripada seharusnya. Ada yang memiliki cacat genetik bawaan. Ada yang lubangnya belum juga menutup hingga mengganggu aktivitas sekolahnya.

Pemandangan itu pun membuatku sadar, cobaanku sungguh tak seberapa.

Aku merasa sangat malu karena sebelumnya telah banyak mengeluh, suudzon dengan takdir Allah SWT, bahkan gagal melihat kasih-Nya dalam teguran ini.

Bagaimana bisa aku meratapi nasib disaat orang lain bahkan bisa tersenyum dengan kondisinya yang jauuuuh lebih berat tersebut?

Bagaimana aku bisa mengeluh jika aku diberi begitu banyak kecukupan waktu, energi dan rezeki untuk mengurus anakku sementara ada ibu-ibu lain yang kondisinya serba kekurangan namun masih begitu bersyukur, penuh semangat, dan selalu tersenyum?

Bagaimana bisa aku menilai anakku ‘tak beruntung’ karena terlahir dengan ‘kondisi cacat’ jika sejatinya ia, dengan segala kekurangannya, adalah anak yang sempurna? Bahkan Allah SWT pun menegurku kembali lewat penjelasan sang dokter,

“Halaaah, ini mah nggak apa-apa. Nanti juga nutup sendiri. Nggak perlu diapa-apakan. Anggap saja sehat ya. Nggak usah terlalu dipikirkan. Kita pantau saja kondisinya terus.”

Iya. Dia sehat. Dengan upaya kerasnya, ia mampu menutupi kekurangannya. Aku tahu betul bagaimana ia berjuang menyusu sangat sering, kemudian makan amat banyak, hanya untuk memenuhi gizi yang tercuri oleh kondisinya. Aku tahu betul baginya semua itu tak mudah. Namun segigih itulah dia.

Lalu apalagi yang bisa kukeluhkan? Bagaimana mungkin aku berani mengingkari nikmat Allah ini?

Akupun berupaya menerima takdir Allah dengan ikhlas. Kini, saat memikirkannya, meski hatiku masih dipenuhi rasa khawatir dan ketakutan akan hari esok, namun aku sudah lebih tenang. Aku tahu Allah tak akan memberi cobaan yang melampaui kapasitas hambaNya. Cobaan inipun akan jadi kekuatan keluarga kami asalkan kami terus berikhtiar dan tawakal menghadapinya. Cobaan ini justru menjadikan shalat-shalatku lebih khusyuk karena kini aku memiliki hal yang ingin kupinta dengan sepenuh hatiku. Nikmat keimanan itu bertambah saat aku merasa memerlukan Tuhanku dengan teramat sangat.

Hanya saja, seiring berjalannya waktu, aku kemudian tersadar bahwa di alam bawah sadarku, ternyata masih banyak ketakutan yang tersisa. Hingga kemudian, lahirlah masalah-masalah baru yang belum mampu kuatasi.


9 Jun 2018

Peralatan 'Perang' MPASI #BabyBro

14:21 0 Comments

#BabyBro udah enam bulaaan! Saatnya MPASI! Wuhuuu!

Seperti biasa, mamakbro super semangat menyambut moment ini. Tiap hari kerjaannya mantengin review dan artikel supaya tahu kira-kira apa yang dibutuhkan dalam menyiapkan MPASI. Tak lupa, mamak pun nyari tahu informasi sana sini agar tahu anjuran dan peraturan dalam menyiapkan MPASI.

Nah, dari hasil wara-wiri itulah, mamak akhirnya memutuskan untuk membeli beberapa peralatan MPASI ini. Mungkin ini juga bisa berguna untuk buibu lain yang lagi galau butuh apa aja buat MPASI si dedek. Tentu ini tidak perlu dituruti semua, buibu cukup mengambil yang sekiranya dibutuhkan saja.

Berikut daftarnya:

12 Jan 2018

Carpal Tunnel Syndrome pada Ibu Hamil dan Menyusui

19:08 0 Comments
sumber gambar: disini

Hai para buibu maupun bebeb-bebeb calon-ibu. Mungkin kamu nyasar di artikel ini karena tangan kamu terasa nyeri, kesemutan, kaku saat hamil maupun setelah melahirkan dan kamu pingin tahu kenapa. Mungkin juga kamu sekedar penasaran dengan carpal tunnel syndrome pada ibu hamil dan melahirkan, tapapa. 

Dalam artikel ini, saya ingin sedikit bercerita mengenai pengalaman saya dengan CTS saat hamil dan pasca melahirkan, sekaligus menyajikan informasi penjelasan ala kadarnya, plus pelatihan dan penanganan yang saya kumpulkan dari berbagai jurnal dan dokumen kesehatan. Semoga berguna yaa.

13 Feb 2017

Hingga Suatu Pagi, Ia Berhenti Hidup: Bag 2

16:15 0 Comments
sumber gambar disini

Di bulan Juni, aku patah hati.

Perempuan yang pergi itu meninggalkan lubang besar yang tak tertanggulangi, hingga aku berpikir bahwa selamanya aku tak akan jatuh cinta lagi. Lalu di akhir September di tahun yang sama, aku bertemu Allina.

Saat itu, ia adalah gadis yang paling berbahagia yang pernah kutemui. Senyumannya, caranya tertawa, keindahan yang timbul saat matanya berbinar bahagia, menerbitkan kehangatan yang kukira telah padam dalam hatiku. Tak ingin kehilangan dirinya, aku memutuskan untuk melamar Allina pada ayah dan ibunya satu bulan kemudian.

9 Feb 2017

Hingga Suatu Pagi, Ia Berhenti Hidup: Bag 1

11:32 0 Comments
sumber gambar disini

Dalam kelelahan, aku kerap berpikir bahwa kekosongan dan kesendirian liang lahat merupakan tempat yang lebih baik dari rumah dimana aku tinggal.

Kau mungkin heran, atau menganggapku manusia paling tak tahu diri atau tak tahu untung, saat kau melihat rumah yang kami miliki, bayi berusia 8 bulan yang tengah lucu-lucunya, dan suamiku yang tampan—Ardhi. Kami terlihat begitu berkecukupan, begitu lengkap, begitu bahagia… dari luar.

Sementara dari dalam, aku harus bertahan menghadapi neraka-ku yang tak kasat mata.


31 Des 2016

Bagimu yang Telah Pergi, Dari Kami yang Masih Mengantri

15:58 0 Comments
Kini, tepat satu tahun. 

Maaf karena begitu lama Bube baru mampu menulis panjang tentangmu. Bukan karena tak ingin kesedihan itu kembali menggigit, bukan, hanya saja kerinduan yang datang nanti akan sangat sulit untuk diusir pergi.

Karena setiap menutup mata, tanpa cela masih bisa terbayang senyum nakalmu, suara serakmu saat berkata "Eeeh, Bube. Udah datang?". Masih membekas di pipi rasa hangat gembil pipimu, rasa basah saat kau iseng memberi ciuman penuh iler. Dalam memori HP ini, masih penuh berisi foto selfie denganmu, yang selalu senang melendot saat Bubemu ini sudah bersiap memegang HP. Masih terbayang berat hangat badanmu di pangkuan, saat kau melonjak setiap kali melihat truck lewat kala Abimu berkendara.

"Bube, truck!"

"Warnanya apa?"
"Ijok!"
"Bukaaan, itu warnanya hi...? Hitaaam!"

12 Jul 2016

Perempuan Ini dan Gerombolan Lebah Pagi Hari

18:30 0 Comments
sumber gambar disini


Setiap pagi, perempuan ini berangkat bersama segerombolan lebah.

Setiap pagi pula, ia mendengar harmoni dengungan dan geraman dari setiap lebah. Nyanyian, yang bagi sebagian orang terdengar seperti hiruk pikuk jalan raya yang menyebalkan. 

Namun bagi perempuan ini, dengungan itu terasa menenangkan, memberinya keyakinan bahwa seperti apapun masalah yang ia miliki di belakang, atau yang akan ia temui ke depannya, kehidupan akan selalu berjalan. Memberinya kesadaran, bahwa ia hanyalah seorang lebah diantara milyaran lebah lainnya, yang hidup dan menjalani kehidupannya dengan penuh perjuangan. 

5 Jul 2015

Penjara Tak Seseram Itu

12:48 11 Comments
Saya saat penelitian di Lapas Klas I Tangerang. Pakai jilbap biar nyamaaaan.
Beberapa hari yang lalu saya dan beberapa temen cewek SMA reuni sambil buka bareng. Saat saling bertukar cerita tentang progress kehidupan masing-masing, salah seorang teman bertanya:

“Lo sering ke penjara gitu-gitu ya ci? Kok berani? Serem nggak sih?”

Dari pertanyaan ini saya jadi banyak berpikir setelahnya, selama kuliah di kriminologi, saya memang telah banyak mengunjungi dan meneliti di berbagai Lapas, baik dalam rangka kuliah atau pekerjaan. Dan saat ditanya apakah Lapas-Lapas itu seram, jawaban saya adalah "ah, nggak seseram itu". Apalagi Lapas Wanita, yang akan saya bahas di artikel ini (karena lebih asyik. Mungkin next time di artikel lain saya akan membahas tentang Lapas Pria, tapi memang lebih serem sih).

21 Jun 2015

Ya, Saya Dibohongi. Lalu?

03:36 3 Comments
sumber disini

Pada dasarnya, saya nggak yakin bahwa ada manusia selain Rasulullah SAW yang 100% dan setiap waktu jujur. Setiap manusia pastilah pernah berbohong, kecil atau besar, untuk kebaikan maupun dengan alasan yang begitu egois seperti untuk menyelamatkan diri sendiri. Intinya, kebohongan bukanlah hal baru maupun asing bagi humanitas.

Saya adalah orang yang sangat membenci kebohongan, terutama karena sebagian besar waktu, saya bisa mendeteksi dan melihat kebohongan dengan jelas, sejelas jidat orang tersebut. Dulu, saya akan mutlak membenci dan marah jika dibohongi, namun seiring dengan semakin bertambahnya umur dan pemahaman mengenai semesta, kini saya tahu bahwa banyak opsi yang bisa saya ambil atau lakukan jika saya dibohongi.

Pertama, saya akan bertanya pada diri saya sendiri;

16 Des 2014

Sebelum Senja Berlalu

16:17 3 Comments

sumber disini
 Jingga, mungkin nanti setelah senja menyapa, kamu akan mengingat semuanya.
Kuharap batasnya adalah lupa. Bukan ketidaktahuan yang dipicu dan diolesi dengan ketidakperdulian.
Karena andai ini tentang sang lupa, maka aku masih mampu berjumawa bahwa semuanya akan kembali seperti sedia kala. Namun jika memang kita bicara tentang ringkihnya keperdulian, harus kuakui dengan berat hati bahwa diantara berbagai hal yang bisa kau tawarkan, kau justru memilih cobaan.
Dan Jingga, berdoalah agar harapanku seperti waktu.
Daisypath Anniversary tickers