Dia dan Luka (1)

sumber foto di sini


Sosoknya sendiri adalah hal yang fenomenal.

Setiap kali ia melintas, ia menimbulkan gelombang dengungan penuh bisik pada orang yang dilewatinya. Ia seperti meninggalkan semacam ekspresi hebat berupa kengerian yang sarat, serta rasa miris yang teriris di setiap lekuk wajah mereka yang melihatnya.

Seperti tengah memandangi karya indah yang tak sengaja cacat, seperti memandangi pemandangan indah yang ternoda.

Karena dia adalah perempuan yang luar biasa cantik—seandainya, bekas luka mengerikan itu tak melintang dari pelipis kanan wajahnya, lurus hingga melintasi garis dagunya. Sosoknya begitu memikat dan menimbulkan banyak iri dan kekaguman—andai saja luka itu tak ada di wajah seindah itu.

“Astaga. Seperti menyaksikan lukisan Monalisa yang dilempari kotoran.”


“Sungguh sayang, banyak perempuan yang rela menempuh berbagai kesakitan demi mendapatkan wajah dan tubuh sepertinya—andai luka menjijikan itu tak ada…”

“Gila. Kenapa ia membiarkan sesuatu yang memuakkan seperti itu berada di wajahnya bahkan lebih dari semenit saja?”

“Kalau aku jadi dia, pasti sudah gila!”

“Dengan uang keluarganya, tentunya tak sulit mencari dokter bedah plastik terbaik di seluruh dunia. Lalu mengapa ia membiarkannya?

Anehnya, ia seperti menikmati perhatian yang timbul atas luka itu. Perempuan itu tak menutupinya, berjalan dengan wajah menengadah dan bahu yang tegap. Ia seakan tengah menikmati dunianya sendiri, dan semua bisik-bisik itu seakan tak lebih dari desir angin yang lewat tanpa meninggalkan bekas.

“Sungguh aneh keluarga Hartdjadinata membiarkan luka seperti itu merusak wajah tercantik di keluarga mereka. Kukira keluargamu menganggap kecantikan dan kesempurnaan itu sebagai asset?”

Dia mengangkat pandangannya untuk memandang seorang pria berwajah dingin yang tengah melengkungkan senyuman miris. Pria itu berdiri di depannya, menyandar anggun ke sebuah tiang. Seakan-akan dengan sengaja dan terang-terangan menghalangi jalannya hanya untuk menarik perhatian.

Dia tersenyum kecil—nyaris seperti tertawa mengejek, dan berhenti di sebelah pria itu, mengulurkan tangan untuk mengambil gelas minuman yang tak dibutuhkannya hanya untuk bertukar kata dengan pria yang sungguh berani melemparkan kenyataan ke wajahnya. Ada sesuatu pada pria itu yang menarik hatinya. Ia berbeda dengan orang-orang memuakkan itu.

Pria ini—entah mengapa—seperti memiliki luka yang sama dengannya. Dan seperti kecoak yang bisa membaui sesamanya, dia merasakan sesuatu yang sama gelap dan kelamnya dalam diri pria itu yang juga ada di dalam dirinya.

“Tentu. Anggap saja keluarga Hartdjadinata tengah kehilangan asset besarnya.” Kekehnya geli. “Dan siapakah pria pemberani yang berani melontarkan ironi itu keras-keras lebih dari sekedar bisik?” desisnya.

“Sebut saja aku salah satu dari klien penting keluargamu.” Senyuman mengejek melengkung di bibir indah si pria.

“Jadi, saya bisa memanggilmu ‘klien-penting-keluarga’? hmm, sungguh sopan.” Sindirnya halus dan memesona.

“Hahaha. Kamu berubah Ellena. 3 tahun yang lalu kamu menatap dunia dengan tekad untuk menghancurkan di kedua bola matamu. Hanya saja kamu tetap sopan, tetap ‘kosong’, dan masih memerankan peran menyedihkan sebagai asset keluargamu. Saat ini, kamu adalah kamu. Terasa bebas dan menikmati dunia. Apa yang mengubahmu? Jangan bilang, luka yang sengaja kau timbulkan itu?” mata dalam pria itu menelusuri garis lukanya dengan penuh keingintahuan.

“Ternyata kau mengenalku lebih dari yang kukira.” Sanjungnya. Ia hanya tersenyum, tak menjawab, dan membiarkan pertanyaan si pria menggantung di udara.

“Bagaimana bisa keluargamu membiarkanmu berkeliaran di pesta penting seperti ini? Kukira dengan kekerasan kepala mereka dan arogansinya, kau pasti sudah diseret ke meja operasi untuk melenyapkan ‘aib’ di wajahmu itu.” Kekeh si pria senang.

“itu benar. Aku pernah diseret lebih dari sekali, tentu. Utopis sekali jika berharap orangtuaku akan membiarkanku dan luka ini. Terlalu indah jika berharap mereka akan membiarkanku sendirian hanya karena luka ini. Namun tetap saja, kali ini aku tak mau mengalah lagi.”

Pria itu memerhatikan bagaimana perubahan suaranya saat ia menyebut orangtuanya. Suara yang sarat dengan kebencian, yang memenuhi rongga tenggorokan hingga menyekat.

“Menurutku, Ellena. Kau jauh lebih cantik dan memesona dengan luka itu. Sungguh.” Puji pria itu tulus.

Pria itu mengingat Ellena yang dulu pernah ia benci. Gadis dari keluarga terpandang yang digadang-gadang mampu menambah kekayaan keluarga Hartdjadinata hingga milyaran rupiah hanya dari pertunangannya saja. Ia seperti komoditas yang menunggu orang yang mampu memenangkan pelelangan dirinya dengan harga yang paling tinggi.

Tak heran ia dulu terlihat begitu keras, arogan, dingin, dan menyebalkan—sama seperti nyaris sebagian besar keluarganya. Seakan-akan sikap menyebalkan dan palsu itu merupakan sifat yang diturunkan melalui DNA di keluarga itu.

Hanya saja pria itu akhrinya paham, saat berita mengejutkan secara rahasia sampai ke telinganya—bahwa Ellena mengiris wajahnya sendiri saat hari pernikahannya dengan seorang pria—yang lebih tua 19 tahun darinya, serta lebih kaya daripada keluarganya—semakin dekat.

Peristiwa itu seakan menimbulkan gelombang yang sungguh besar di keluarga Hartdjadinata. Semua pria yang dulu berebutan di pintu rumah itu untuk meminang sang tuan putrid lenyap bagai debu yang ditiup angin. Semua meringis jijik melihat luka yang tak kunjung diobati.

Dulu, pria itu tak mengerti. Namun saat ini, ia seakan tahu bahwa nyaris sama sepertinya—jauh di dalam dirinya Ellena muak menjadi seseorang yang diperjualbelikan tanpa pernah boleh merasakan hal-hal manusiawi yang menjadi haknya.

“Aku bisa mendengar pikiranmu lebih jelas daripada jika kau meneriakkannya, kau tahu.” Dia memberengut lucu. Garis lukanya sedikit tertarik membentuk kedutan yang mengerikan, namun pria itu justru tersenyum saat melihatnya. “Ini tidak se-‘wah’ itu kok.” Gumamnya sembari mengelus lukanya tanpa sadar.

“Tidak. Mungkin aku hanya berfikir seandainya aku seberani kamu.” Gumam pria itu—lebih kepada dirinya sendiri.

“Tak selamanya mudah, sungguh. Saat inipun aku seperti nyaris lelah. Ingin benar-benar bebas dan bukannya hanya sekedar berkhayal andai aku tak pernah terlahir di keluarga semacam ini. Wajah ini pernah menyiksaku, dan ketika ia rusak, aku seperti merasakan kenikmatan yang jauh melebihi apapun. Kepuasan tertinggi. Mungkin orang mengatakan ini adalah sebuah kemalangan, namun bagiku ini trofi kebebasan.”

“Aku tahu perasaan itu.” Kikik si pria. “Hanya saja yang memenjaraku adalah bakat, kepintaran, serta kelicikan dalam otak ini.” Si pria memandangnya dengan penuh, lalu dengan begitu serius berkata “Apa menurutmu aku harus merusaknya untuk mendapatkan kedamaian?”

Dia tersenyum. Senyuman yang benar-benar tulus. Walau senyuman itu menimbulkan kedutan mengerikan pada luka di wajahnya, entah mengapa ia terlihat begitu cantik saat itu.

“Kau bisa melakukan sesuatu yang lebih baik dari itu, kau tahu.” Katanya pelan. “Jauh lebih baik dari itu.”

Si pria membuka mulutnya untuk mengeluarkan serangkaian pertanyaan, namun dibungkam oleh kehadiran mendadak seorang wanita cantik berwajah jahat yang merenggut lengan Ellena dengan sangat kasar.

“Kau ini mikir apa dengan keluar di pesta sepenting ini!!” desis wanita itu geram. “memangnya kau tidak puas menghancurkan semua rencana brilian ayahmu, hah!? Dasar pelacur tak berguna!! Masuk! Sekarang!!”

Ellena tertawa. Matanya melirik pada si pria, mengucapkan selamat tinggal tanpa kata-kata, dan membiarkan dirinya diseret dengan kasar menjauhi keramaian.

Sosoknya masih menimbulkan dengungan saat ia melewati orang-orang. Ia masih mengundang rasa miris dan kengerian di wajah mereka yang memandangnya. Namun entah bagaimana, kali ini ia bukan hanya menimbulkan cerca dan ejekan. Kali ini, ia telah memesona hati seseorang yang bisa melihatnya lebih dalam dari sekedar wajah dan tubuh yang dulunya sempurna.

“Kita akan bertemu lagi.” Bisik pria itu ke udara, seperti sebuah keyakinan yang mengandung doa. “Pasti. Kita pasti akan bertemu lagi, Ellena.”

0 komentar:

Post a Comment

Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers