Kisah Jepang Kuno : Jirou dan Tayuu


sumber gambar disini

Howla, Readers.

Ini mungkin bukan pertama kalinya gue membahas soal kisah cinta, tapi ini adalah kali pertama gue bercerita soal kisah cinta yang diambil dari sejarah Jepang Kuno.

Well, mungkin karena terpesona novel Shike dan Hikayat Genji—walau keduanya fiksi—gue jadi penasaran dengan eksotisme Jepang kuno. Gue lebih memilih kisah yang berdasarkan sejarah karena seru banget ngebayangin kalau orang-orang yang ada di dalam kisah itu memang pernah hidup beratus tahun yang lalu, dan kisah cintanya abadi hingga sekarang.

Nah, pada edisi kali ini, gue akan bercerita soal kisah cinta berbeda kasta dari akhir zaman Heian antara Hatakeyama Jiroushigetada (namanya buset panjang amat) dan Tayuu si Pelacur.


Saat itu tahun keempat Jishou (1180 masehi) atau akhir zaman Heian, dan situasi Jepang Kuno tengah bergolak dengan adanya pemberontakan demi pemberontakan. Dan untuk mengatasi pemberontakan inilah, keluarga Hatakeyama diperintahkan untuk memimpin pasukan ke medan perang.

Pasukan Hatakeyama di kala itu, dipimpin oleh Tuan Muda keluarga mereka (pewaris  pemimpin klan) yang masih berumur 17 tahun—Hatakeyama Jiroushigetada.

Peperangan kali itu menjadi sangat sulit bagi Jirou, karena selain peperangan itu merupakan perang pertamanya, ia harus memimpin pasukan untuk memburu dan membunuh kakek kandungnya sendiri.

Dalam peperangan itulah, saat pemimpin klan Miura (kakeknya Jirou) terdesak di kastil Kinugaki, kastil tersebut dibakar dan Jirou menyaksikan kakek kesayangannya tewas dilahap api.

Jirou pulang dari medan perang dalam kondisi batin yang hancur L kebayang nggak sih, di perang pertama ia harus membantai kakeknya sendiri… walau mencoba kuat, Jirou sebenarnya begitu terpukul hingga jatuh sakit dalam perjalanan pulang ke rumahnya.

Saat itulah ia dan rombongannya menginap di satu-satunya penginapan yang mereka temui. Ternyata di wisma ini juga dijajakan wanita penghibur (bukan geisha lho ya, kalo geisha kan lebih seperti ‘seniman’, tapi wanita penghibur disini lebih pada wanita tuna susila).


Disinilah Jirou bertemu dengan Tayuu.

Saat itu memang bukan pertemuan pertama mereka. Sebelumnya, Tayuu pernah menolong Chitose—teman sepermainan dan tunangan Jirou—saat Chitose dan Jirou tengah berkuda. Jadi saat bertemu untuk kedua kalinya, Tayuu meledek Jirou habis-habisan karena Tayuu merasa Jirou tidak pintar memperlakukan perempuan.

Saat itulah Jirou perlahan mulai terbuka pada Tayuu. Dari obrolan ngalor-ngidul, akhirnya Jirou bercerita mengenai kesusahan hatinya. Dan disaat itulah Tayuu melihat sisi lain dari Jirou si pewaris keluarga Hatakeyama. Sekalipun menyangkal bahwa ia menyesal telah membunuh kakeknya, Jirou akhirnya menangis di pangkuan Tayuu semalaman.

Esok harinya, keduanya berpisah. Jirou diledek habis-habisan oleh para pengawalnya—apalagi melihat wajah Jirou yang sudah lebih cerah setelah bertemu Tayuu.

Namun ketenangan Jirou tidak bertahan lama. Keluarga Hatakeyama kembali mendapat perintah untuk kembali berperang dan mundur sementara ke markas.

Jirou begitu kalut. Ia tahu kesempatan hidupnya dan pasukannya kecil karena kekuatan lawan saat itu begitu besar. Diam-diam, kali ini Jirou keluar dari markas dan berkuda hingga wisma tempat Tayuu bekerja. Ia bahkan membawakan Tayuu sekotak gincu yang dibelinya di pasar.

Tayuu dan Jirou memang tidak berhubungan fisik. Malam itu mereka kembali mengobrol hingga larut. Jirou begitu terkesima mendapati Tayuu yang begitu memahami kondisinya bahkan hanya dengan melihat kekalutan di wajahnya. Sekalipun berprofesi rendah, Tayuu sesungguhnya cerdas sekaligus bijak. Tayuu bahkan mengembalikan gincu yang dibawakan Jirou dan berjanji akan memakainya di saat Jirou kembali dari peperangan—dengan begitu, Jirou seakan memiliki ‘hutang’ untuk kembali dengan selamat demi memenuhi janjinya pada Tayuu.

Jirou memang menempuh peperangan yang berat. Perlu waktu yang cukup lama hingga akhirnya ia bisa melaksanakan janjinya untuk kembali ke wisma Tayuu.

Disanalah, Tayuu sudah menunggunya dengan begitu resah. Bahkan saat itu Tayuu langsung menghardik Jirou karena tak pernah memberi kabar.

Jirou tertawa, ia sebenarnya ingin menulis surat, namun ia ragu Tayuu bisa membaca dan menulis. Saat itulah Tayuu memperlihatkan betapa besar perhatiannya pada Jirou. Ia berkata “Ya, aku memang tak bisa membaca! Tapi kenapa kau tidak menulis sekedar beberapa huruf saja? Aku begitu mengkhawatirkanmu, setiap hari aku mengira kau akan mati sebagai makanan anjing!” jerit Tayuu sembari menangis.

Malam itulah, untuk pertama kalinya sekaligus terakhir kalinya Tayuu dan Jirou berhubungan fisik. Tayuu menggunakan gincu yang dijanjikan Jirou, dan mereka kembali mengobrol semalaman.

Ternyata, hubungan terlarang Tayuu dan Jirou dicium oleh ayah Jirou. Tuan Besar Hatakeyama saat itu mengingatkan bahwa Jirou sudah bertunangan dengan Chitose. Jirou saat itu menangis. Ia menyadari bahwa dirinya jatuh cinta pada Tayuu, namun ia sadar ia harus melupakan Tayuu.

Di sisi lain, utusan keluarga Hatakeyama datang ke wisma Tayuu. Mereka memperingatkan agar Tayuu tak lagi mengganggu Tuan Muda-nya.

Saat itulah sembari menangis sedih, dengan mengepalkan tangan dan menguatkan diri, Tayuu berkata bahwa dia tak pernah memandang Jirou sebagai kekasih—karena memang itu sudah menjadi profesinya sebagai pelacur!

Namun bahkan tanpa dijelaskan, utusan keluarga Hatakeyama tahu bahwa Tayuu begitu mencintai Jirou—begitu pula sebaliknya.

Waktu berlalu dan akhirnya Jirou menikahi Chitose. Ia melaksanakan janjinya dengan tak pernah lagi menemui Tayuu. Bersama Chitose, Jirou mendapatkan anak-anak yang lucu sekaligus posisi dan kekuasaan yang semakin besar.

Sementara itu, Tayuu jatuh dalam penderitaan hebat. Tak satupun malam yang ia lewati tanpa memimpikan Tuan Jirou-nya. Tubuhnya habis dimakan kerinduan dan kesakitan akibat cinta yang hilang. Sementara itu, kabar mengenai peperangan yang kembali berkobar selalu membuat Tayuu resah.

Hingga akhirnya pada suatu malam, Tayuu mencuri dengar obrolan teman-temannya yang mengatakan bahwa wisma Hatakeyama tengah berkabung! Tayuu begitu panik saat mendengar bahwa jenazah tuan muda sedang dalam perjalanan pulang.

Tayuu tak lagi bertanya.

Berita itu telah menghancurkan dirinya yang memang sudah dilemahkan penderitaan.

Ia berlari sekencang mungkin dari wisma itu. Benaknya dipenuhi kesakitan akan kehilangan Jirou yang kedua kalinya. Jirou memenuhi benak Tayuu tanpa celah. Dengan penuh harapan akan bisa bertemu dengan tuan Jirounya setelah ia mati nanti, Tayuu menenggelamkan dirinya ke kedalaman danau.

Namun ternyata, berita itu tidak benar!

Yang meninggal adalah istri Jirou yaitu Chitose! Namun orang-orang di wisma sudah terlanjur panik dan mengira jenazah yang tengah dibawa itu adalah tuan Jirou.

Saat berita meninggalnya Tayuu sampai ke telinga Jirou, pemuda itu begitu hancur dan bersedih. Ia meminta izin untuk melihat Tayuu untuk yang terakhir kalinya. Keluarga Hatakeyama mengizinkan, dan berangkatlah Jirou ke kediaman Tayuu. Disanalah ia memandang wajah jelita Tayuu untuk yang terakhir kalinya. 

Jirou tak pernah melupakan Tayuu. Ia pun mati muda karena setelah kejatuhan Yoritomo, Houjou Tokimasa menjeratnya dengan rencana licik.

Jirou kemudian dikenal sebagai pemimpin yang berani, ksatria yang dikagumi dari Tougoku. Namun diatas semua itu, kisah cintanya dengan Tayuu si Pelacurlah yang membuat namanya terus didengungkan hingga saat ini.

Note : Dirangkum dari berbagai sumber

0 komentar:

Post a Comment

Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers