Sondang, Mengapa Kau Bakar Dirimu?


sumber gambar disini


Aku bukanlah seorang aktivis. Sebagai mahasiswa, aku lebih memilih menyoroti kasus demi kasus Negara ini lewat berbagai media dan omongan melantur kanan-kiri.

Mungkin akupun tidak memiliki kapasitas untuk berbicara soal kamu, Sondang.

Mungkin jika saudara-saudara mahasiswa di Bandung membaca ini, mereka akan menghadiahiku seperangkat celana dalam dan bra baru, sekaligus sebotol bensin sebagai simbol bahwa aku hanyalah ‘banci’ yang hanya berani berbicara tanpa bakar diri—seseorang yang tidak berkenan turun ke jalan dan mengobarkan negeri ini dalam api demi kamu yang sudah membakar diri.


Jujur saja saat pertama kali aku mendengar aksi bakar diri di Istana itu, aku menyayangkan aksimu, sobat.

Kamu membakar diri untuk siapa? Demi apa? Demi Negara inikah? Demi memperotes para Borjuis itu kah? Bagian mananya yang tidak kau setujui, Sondang? Kenapa kau bakar dirimu sebelum aspirasimu sampai ke telinga mereka—atau bahkan kami, orang-orang yang kau bela? Kenapa kau membuat kami bertanya-tanya “apa sebenarnya maksudmu melakukan itu semua?”.

Setelah kepergianmu, aku kerap menyoroti berita tentangmu. Kepergianmu yang meninggalkan misteri membuat mereka bebas berspekulasi. Katanya kau bunuh diri, sobat. Bukan berjuang atau mengorbankan diri. Ada yang berkata kau gila—karena membakar diri merupakan cerminan dari ‘gangguan kejiwaan’, kondisi gangguan kepribadian ambang (borderline personality disorder) kata si dokter itu.. Aksimu dikaitkan pula dengan ketidaklulusan skripsimu.

Ah, Sondang… Kepergianmu yang tanpa pesan meninggalkan gejolak bisik-bisik di negeri yang sudah penuh gejolak ini.

Tapi jelas bagi kami bahwa kau melakukannya di depan Istana yang menjadi simbol kepedihan rakyat itu. Kau memilih Istana itu untuk melihat kobaran jeritan ketidakpuasan dan kekecewaan rakyat. Kau buat semua mata terbelalak, semua bibir mengucap namamu bagai syahadat. Tak ada yang pernah sepertimu, BERANI mengorbankan jiwa, hati orangtua dan kekasihmu, demi menampar pipi para Borjuis itu.

Ya, Sondang! Kaulah trendsetter baru kata ‘demokrasi’ negeri ini!

Untuk menumbangkan Orde Baru dan mencicipi demokrasi kita menumpahkan banyak darah dan menghilangkan begitu banyak nyawa. Namun dengan beberapa botol bensin dan nyawamu seorang, Sobat, kini Negara ini kembali bergejolak lagi, mengusungkan perubahan dan keadilan.

Sekali lagi, Negara ini akan berkobar dengan api yang sudah kau mulai!

Bisakah kau lihat seruan teman-temanmu, Sondang? Bisakah kau lihat kaum mahasiswa ini seakan bersatu mengusung ‘kelanjutan perjuangan Sondang’? Bisakah kau lihat Pemerintah mulai panas dingin karena aksimu dianggap ‘awal’ dari keruntuhan rezim sang Borjuis? Jika mereka runtuh kelak, namamulah yang akan tercantum dalam sejarah!

Ya, Sondang! Namamu, Sondang Hutagalung—aktivis yang kerap menangis diam-diam saat menemui mereka yang hak asasinya diinjak oleh para Borjuis! Namamu yang akan tercatat sebagai pemantik keruntuhan ketidakadilan dan kesengsaraan rakyat!

Hanya saja diam-diam aku berfikir… Andaikata mereka mampu meredamkan gejolak yang sudah kau mulai, apakah kau masih akan dianggap Pahlawan, Sondang? Bukan hanya seorang mahasiswa yang memilih berdemo dengan menghilangkan nyawa? Jika gejolak yang kau mulai hanya akan berlalu begitu saja bagai musim yang berganti dengan cepat dan pasti, tak akankah kau merasa menyesal di alam sana, Sondang?

Hidup memang pilihan. Dan kau telah memilih mengakhiri hidup dengan kepercayaan kematianmu tak akan sia-sia. Memang, dan lihatlah betapa kematianmu mungkin mengawali sesuatu yang benar-benar baru. Sesuatu yang mungkin kau idamkan dari dulu.

Tapi sekalipun bila tidak, namamu akan tetap kami ingat, Sondang. Karena lewat dirimu seorang, kini Negara ini kembali bergejolak dengan kobaran api bernama ‘MAHASISWA’.

SELAMAT JALAN, SONDANG..
(sumber gambar disini)

 Posting ini hanyalah pemikiran gue, suci khairunnisa nabbila. Jika dalam kata-kata maupun pilihan sudut pandangnya menyakiti, gue mohon maaf. Gue berharap di negara ini masih ada hak untuk bebas beraspirasi dan bersuara. dan inilah aspirasi dan suara gue untuk Sondang Hutagalung. Mungkin tidak benar, atau justru dipandang keliru. Maka koreksilah, karena gue selalu menerima kritik. :)

1 komentar:

  1. dia tak pernah mati dan tak akan berhenti !!

    *komentar yg sangat telat karena baru baca^^*

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers