Tales of Nure-Onna (Part 2)


sumber gambar disini



Seharusnya, dia hanya seekor makan malam untukku.

Dan seharusnya, untuk dia, aku adalah ‘musuh’ yang patut dibasmi karena memangsa kaumnya.

Seharusnya, kami saling membenci dan memusuhi. Namun entah sejak kapan—satu perjalanan Bulan tanpanya terasa begitu hampa. Dia seperti air segar yang kubutuhkan, dan tanpanya akan terasa begitu menyiksa. Bahkan perjalanan rutinku ke dasar samudra menjadi siksaan dan aku tak pernah bisa sabar untuk segera kembali ke gua kami.

Setelah begitu banyak perjalanan Bulan yang kami lewati bersama, aku terbiasa dengan Souichi. Terkadang aku menyelam ke kedalaman laut untuk membawakannya rumput laut yang ia minta. Aku tak pernah mengerti apa enaknya itu semua—seperti halnya Souichi yang jijik saat aku berkata aku kelaparan dan ingin menghabiskan setidaknya satu manusia gendut.

“Kenapa kau tak mencoba hewan saja sih?” kata Souichi satu ketika.


Aku hanya memandangnya heran, tidak tahu harus berkata apa. Seumur hidup aku diajarkan menjadikan manusia sebagai ternak. Lalu sekarang Souichi menyuruhku mencoba hewan.

“Sungguh. Aku tidak suka jika kau memangsa manusia.” Kata Souichi, menatapku lurus.

‘Aku hanya akan memangsa yang jahat.’ Kataku pelan.

“Bagaimana kau tahu mereka jahat atau tidak? ‘Jahat’ bagi manusia dan siluman belum tentu sama. Lagipula orang-orang jahat itu akan menerima karmanya sendiri.” Souichi bersikeras.

Kebingungan, aku hanya mampu bergelung di sudut kolam, menatap bingung Souichi yang entah mengapa terlihat galak. Lalu, tiba-tiba saja ia berdiri dan berjalan ke luar gua kami dengan teratih-atih.

‘Kau kemana?’ panggilku. Dengan bau darah semanis itu, ia pasti mengundang banyak Youkai.

“Mencarikanmu makanan. Kan biasanya kau yang mencarikanku makanan.” Katanya sembari tersenyum.

‘Aku ikut.’

“Tidak perlu, Ucchan. Sekarang aku cukup kuat, kok. Tenang saja!” katanya sembari tertawa.

Ya, sekarang Souichi sudah begitu kuat. Kekuatannya kembali dengan pasti walau perlahan, begitu pula dengan kesehatannya. Entah mengapa, setiap mengingat itu, sesuatu di dadaku terasa sakit. Apakah Souichi akan pulang ke dunianya? Lalu bagaimana denganku?

“Ucchan, aku pulang!”

‘Cepat sekali,’ kataku kagum. Souichi pasti berlari dengan kecepatan yang sangat tinggi. Di sekitar gua ini ‘kan tidak ada hewan. Semua hewan dan youkai menjauhi tempat ini karena aura-ku yang terlalu kuat.

Souichi menyeret seekor kambing gunung yang sekarat. Sepertinya Souichi menyerangnya dengan tenaga dalam, karena hewan itu sama sekali tak terluka. ‘Dia tak sebau Youkai.’ Gumamku.

“Nih, coba rasa. Mungkin kalau kau tak suka kambing, besok aku bisa membawakan hewan yang baunya tak terlalu menyengat.”

Aku naik ke permukaan, menyeret tubuhku dengan agak susah payah di daratan, menuju kambing gunung yang tengah mengejang itu.

‘Kalau tak enak bagaimana?’

Saat itulah aku menoleh pada Souichi, dan menemukan wajahnya sedang berbentuk aneh sekali. Wajahnya yang putih kini semerah tempurung kepiting, dan ia tak lagi menatap langsung ke mataku, namun memusatkan matanya pada ekor putihku yang kebiruan.

‘Kenapa?’ tanyaku heran. ‘Kau sakit lagi?’

“Tidak.” Ia berkata gagap. “Ucchan, kenapa sih kau tidak memakai baju? Ini pertama kalinya aku melihat dada perempuan sebegini jelas, tahu!” gerutunya kesal.

Aku tertawa geli sekali, hingga air di kolam naik dan membasahi semua tempat. Ekorku melecut kemana-mana dan nyaris mengenai Souichi.

‘Baju? Aku bukan siluman yang tinggal di daratan atau diantara manusia, mana mau aku menggunakan sesuatu yang merepotkan begitu.’ Gelakku geli. Souichi masih bertingkah begitu aneh hingga aku kebingungan. Memangnya kenapa sih? Kambing gunung itu juga betina dan tidak memakai baju?

‘Kenapa?’ tanyaku, mendekat kea rah Souichi yang gelagapan. Entah kenapa aku tertarik dengan pipinya yang merah itu. Aku menjulurkan tanganku yang bersisik kea rah pipi Souichi, memegangnya perlahan, merasakan kehangatannya yang menembus tubuhku yang begitu dingin. ‘Kau hangat…’ bisikku senang.

“Aku kira Nure-onna membawa bayi kemana-mana untuk memikat mangsanya,” Entah kenapa Souichi bicara melantur. Sembari berbicara, ia memandang ke kedalaman mataku dengan wajah berbinar. “Tapi kau tidak. Kurasa kami, manusia, kerap menambahkan detail-detail aneh soal kalian para Youkai. Kau tidak jauh berbeda dari manusia perempuan manapun yang aku kenal, Ucchan. Kecuali kenyataan bahwa kau memang makan manusia.” ia tertawa.

‘Aku bisa belajar. Aku bisa makan itu,’ Kataku melirik si kambing gunung. ‘Untukmu, Souichi.’

Souichi terlihat senang sekali. Aku belum pernah melihat senyumnya yang sebagus itu.

“Ucchan?” Souichi balas memegangi pipiku, membuat wajahku menghadap ke dirinya sepenuhnya.

‘Hm?’

“Apa kau membenciku?” Tanya Souichi. Matanya terlihat begitu kelam saat berbicara begitu. “Dulu sekali, aku mungkin sudah banyak membunuhi Youkai sepertimu…”

‘Aku tidak membencimu…’ jawabku bingung.

“Kalau begitu, apa kau suka aku?” Tanya Souichi sembari tersenyum.

‘Mana kutahu. Aku kan belum pernah mencoba darahmu.’ Jawabku.

Souichi tergelak hebat sekali, hingga tubuhnya berguling kesana kemari. Duh, ia selalu saja membuatku kebingungan. Mungkin memang dunia manusia dan Youkai sebegitu bedanya ya, hingga bisa begini banyak hal yang tak kutahu soal Souichi? Kenapa ia justru tertawa saat aku menjawab dengan serius?

‘Kau aneh. Manusia itu aneh.’ Gerutuku, ikut berbaring di sebelah Souichi yang kehabisan nafas karena tertawa terus.

“Kau juga aneh. Youkai itu aneh. Apa di duniamu tidak ada ‘suka’ atau ‘cinta’? apa semua Youkai bertindak hanya karena nafsu makan saja? Apa kalian tidak pernah menyayangi sesuatu? Ah, lama-lama aku ingin jadi Youkai nih. Aku penasaran seperti apa sih, dirimu sebenarnya, Ucchan.”

Aku tak tahu harus berkata apa. Kata-kata Souichi berbelit rumit sekali hingga kepalaku pusing.

“Hei, Ucchan.” Souichi berguling ke arahku, tidur menelungkup di sebelahku yang memandangnya bingung. “Aku suka lho, padamu.” Katanya sembari tersenyum.

‘Memangnya kau pernah minum darahku?’ tanyaku bingung.

“Belum, tapi mungkin, daripada meminum darahmu, aku lebih memilih ini.”

Souichi menurunkan wajahnya ke wajahku. Ia begitu dekat hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya dan membaui darah manis nan lezat yang mengalir di balik daging wajahnya. Souichi terus menurunkan wajahnya, lalu menyentuhkan bibirnya pada bibirku.

Sejenak, aku mengira ia gila dan mau memakanku. Namun entah mengapa, sentuhan bibirnya terasa begitu hangat dan menyenangkan. Aku tak pernah merasakan sesuatu yang seperti itu sebelumnya, atau mengenal apa yang ia lakukan.

Tapi yah, aku menyukainya. Bukan seperti rasa suka-ku pada darah gadis muda. Bukan. Ini rasa suka yang berbeda. Yang aneh. Rasa suka yang benar-benar membuatku pusing.

“Ucchan…” Souichi berbisik di telingaku. “Aku harus pulang. Aku akan kembali ke rumahku besok pagi.”

Akhirnya, Souichi mengatakan sesuatu yang benar-benar tak mau kudengar.

CERITA SEBELUMNYA : PART 1

0 komentar:

Post a Comment

Powered by Blogger.

The Barcenandis

Daisypath Anniversary tickers